INFLASI
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas Ujian
Akhir Semester
Mata Kuliah : Ekonomi Makro
Dosen Pengampu: Amirus Shodiq
Disusun Oleh :
Erma Muftia Nihayatin :
1320210154
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM / EKONOMI
SYARI’AH
TAHUN 2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Inflasi
merupakan salah satu permasalahan ekonomi makro yang dihadapi oleh hampir semua
perekonomian di dunia termasuk indonesia. Mengapa inflasi menjadi suatu
masalah? Inflasi merupakan indikator utama adanya stabilitas harga dalam suatu
perekonomian. Kestabilan harga akan mampu memberikan jaminan pada investor
untuk menanamkan modalnya. Bagi pemerintah, kondisi yang stabil tersebut akan
membantu untuk merumukan keputusan yang dapat memperbaiki kesejahteraan
rakyatnya. Sedangkan bagi masyarakat umum, kestabilan harga akan membuat
masyarakat mampu merencanakan konsumsi dan juga kegiatan spekulasi terhadap
aset yang dimiliki dengan sebaik-baiknya.
Masyarakat
sering mempresepsikan kenaikan harga barang-barang kebutuhan sebagai inflasi,
naiknya harga barang-barang akan menimbulkan ketidak stabilan perekonomian
secara keseluruhan dan hal ini akan mempengaruhi perilaku masyarakat, pengusaha
juga pemerintah. Harga didalam negeri yang stabil akan memberikan kepastian
sekaligus jaminan perekonomian yang stabil dan hal ini akan memberikan iklim
yang baik terhadap investasi baik yang dilkukan oleh investor luar negeri mauun
investor dalam negeri.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
definisi dan bagaimanakah penggolongan inflasi?
2. Apa
saja dampak dan bagaimana pemerintah mengantisipasi adanya Inflasi?
3. Bagaimanakah
indikator dan teori Inflasi?
C. Tujuan
Penulisan
1. Untuk
mengetahui definisi dan bagaimanakah penggolongan inflasi.
2. Untuk
mengetahui dampak dan bagaimana pemerintah mengantisipasi adanya Inflasi.
3. Untuk
mengetahui indikator dan teori Inflasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
dan penggolongan inflasi
Definifi
inflasi
Inflasi
didefinisikan sebagai kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum
dan terus menerus. [1]Kenaikan
harga dari satu atau dua macam barang saja tidak dapat dikatakan sebagai
inflasi kecuali kenaikan tersebut membawa dampak terhadap kenaikan harga
sebagian besar barang-barang lain. Kecenderungan untuk menaik terus-menerus berarti
kenaikan harga selama satu musim atau selama satu periode waktu saja tidak
dapat dikatakan sebagai inflasi, seperti misalnya kenaikan harga menjelang hari
raya. Kata kecenderungan pada definisi inflasi tersebut perlu diperhatikan.
Jika seandainya harga sebagian besar barang-barang ditentukan dan diatur oleh
pemerintah, maka harga-harga yang dicatat adalah harga resmi yang diatur oleh
pemerintahsehingga mungkin tidak menunjukkan kenaikan apapun, tapi mungkin
dalam kenyataannya harga yang terjadi dimasyarakat cenderung untuk terus naik.[2]
Ada
tiga komponen yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan telah terjdi inflasi,
yaitu:
1. Kenaikan
harga
Harga
suatu komoditas dikatakan naik jika menjadi lenih tinggi daripada harga periode
sebelumnya. Misalnya, harga sabun mandi per unit kemaren adaah Rp. 1000 hari
ini menjadi Rp.1100 berarti harga sabun hari ini selisih Rp.100 dari haraga
kemarin. Dapat dikatakan telah mengalami kenaikan harga sabun. Perbandingan
tingkat harga bisa dilakukan denga jarak waktu yang lebih panjang, misal
seminggu, sebulan, triwulan, dam setahun.
Perbandingan haraga
juga bisa dilakukan berdasarkan patokan musim. Misalnya, pada musim paceklik
haraga beras bisa mencapai Rp.8000 perkilogram. Sebab harga gabah telah naik.
Tetapi dimusim panen, harganya dapat lebih murah, karena harga gabah juga
cenderung rendah. Dengan demikian dapat dikatakan dimusim paceklik selalu
erjadi kenaikan harga beras.
2. Bersifat
umum
Kenaikan
harga suatu komoditas belum dapat dikatakan inflasi jika kenaikan tersebut tidak
menyebabkan harga-harga secara umum naik.
Contoh kasus,
pengalaman indonesia menunjukkan setiap pemerinyah menaikkan harga BBM, harga
komoditas lain akan ikut naik juga. Karena BBM merupakan komoditas strategis,
maka kenaikan kenaikan harga BBM akan merambat kepada harga komoditas yang
lain. Kenaikan harga BBM juga akan membuat harga jual produk-produk industri,
khusunya kebutuhan pokok, merambat naik. Sebab biaya operasional intuk
menjalankan mesin-mesin pabrik menjadi lebih mahal. Bahkan, kenaikan BBm akan
mengundang kaum buruh menuntut kenaikan upah harian untuk memelihara daya beli
mereka.
3. Berlangsung
terus menerus
Kenaikan
harga yang bersifat umum juga belum akan memunculkan inflasi, jika terjadinya
hanya sesaat. Karena itu perhitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu
minimal bulanan. Sebab dalam sebulan akan terlihat apakah kenaikan tersebut
umum dan terus menerus. Rentang waktu yang lebih panjang adalah triwulan dan
tahunan. Jika pemerintah melaporkan bahwa inflasi ini adalah 10%, berarti
akumulasi inflasi adalah 10% per tahun. Inflasi triwulan rata-rata 2,5%
(10%:4), sedangkan inflasi bulanan sekitar 0.83%.[3]
Penggolongan
Inflasi
1. Menurut
laju inflasi pertahun
Inflasi
dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:
a. Inflasi
ringan (dibawah 10% setahun)
b. Inflasi
sedang (antara 10% - 30% setahun)
c. Inflasi
berat (antara 30% - 100% setahun)
d. Hiperinflasi
(diatas 100% setahun)
Parah
tidaknya inflasi tergantung pada barang apa saja yang mengalami kenaikan harga,
dan kelompok masyarakat yang mana yang terkena dampak kenaikan harag tersebut.
Jika yang mengalami kenaikan harga adalah batrang kebutuhan pokok yang
dikonsumsi oleh seluruh masyarakat, baik kelompok masyarakat yang berpendapatan
tinggi maupun yang berpendapatan rendah, maka kelompok masyarakat yang
rendahlah yang paling merasakan dampak kenaikan harga tersebut. Namun jika yang
mengalami kenaikan harga adalah barang-barang mewah yang lebih banyak
dikonsumsi oleh masyarakat berpendapatan tinggi, maka sebagian besar masyarakat
yang berpendapatan rendah tidak akan merasaan dampak kenaikan harga barang
tersebut.
2. Atas
dasar sebab terjadinya Inflasi
Berdasarkan
penggolongan ini, inflasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (sukirno,
1997, hal.303):
a. Demand pull
inflation, yaitu inflasi yang timbul karena
permintaan masyarakat akan berbagai barang terlalu kuat dan permintaan ini
tidak diimbangi dengan tersedianya barang yang disediakan oleh suatu
perekonomian. Misalnya, bertambahnya pengeluaran pemerintah yang dibiayai
dengan mencetak uang, atau bertambahnya permintaan luar negeri akan barang-barang
ekspor atau juga karena bertambahnya investasi karena adaya kredit yang murah.[4]
Inflasi
tekanan permintaan (Demand pull inflation)
adalah inflasi yang terjadi karena dominanya tekanan permintaan agregat.
Tekanan permintaan meneybabkan output perekonomian bertanbah, tetapi disertai
inflasi, doilihat dari makin tingginya harga umum. Dalam inflasi ini tidak
selalu berarti penawaran agregat tidak bertambah. Yang pasti, kalaupun terjadi
penawaran agregat, jumlahnya lebih kecil dibanding peningkatan permintaan agregat.[5]
b. Cost push
inflation, yaitu inflasi yang timbul karena adanya
kenaikan biaya produksi, misalnya karena adanya desakan serikat buruh untuk
menaikkan tingkat upah minimum bagi karyawan suatu pabrik, atau naiknya harga
bahan bakar minyak.
3. Berdasarkan
darimana inflasi berasal
Berdasarkan
penggolngan ini inflasi dibedakan menjadi:
a. Domestic
inflation (inflasi yang berasal dari dalam negeri)
Inflasi
jenis ini timbul karena adanya faktor-faktor dari dalam negeri yang menyebabkan
terjadinya kenaikan harga. Misalnya pemerintah menambah jumlah uang yang
beredar, adanya peperangan, bencana alam atau adanya kegagalan panen yang
menyebabkan kekurangan bahan makanan pokok.
b. Imported
inflation (inflasi yang penyebabnya dari luar negeri)
Inflasi
jenis ini timbul karena adanya kenaikan haraga barang-barang diluar negeri dan
barang-barang tersebut ddiimpor ke dalam negeri.[6]
B. Dampak
Inflasi dan cara pencegahannya oleh pemerintah
1. Dampak
inflasi terhadap perekonomian
a. Inflasi
dapat mendorong penanaman modal spekulatif
Pada
masa inflasi, seseorang akanmeras lebih aman jika menginvestasikan modalnya
dalam bentuk pembelian rumah atau barang berharga lain daipada melakukan
investasi yang produktif. Kondisi ini tidak akan menaikkan investasi yang akan
berdampak terhadap pendapatan nasional.
b. Tingkat
bunga meningkat dan akan mengurangi tingkat investasi
Dalam
kondisi inflasi biasanya pemerintah akan menaikkan tingkat suku bunga untuk
mengurangi jumlah uang yang beredar didalam masyarakat. Namun kenaikan tingkat
bunga tersebut akan menyebabkan investor enggan melakukan investasi karena
bunga pinjaman yang harus dibayar menjadi lebih tinggi. Pada kondisi ini,
investor lebih suka menyimpan dana di bank dan memperoleh pendapatan dari bunga
tabungan.
c. Menimbulkan
ketidakpastian mengenai keadaan ekonomi dimasa yang akan datang.
d. Menimbulkan
masalah neraca perdagangan
Inflasi
akan menyebabkan harag barang impor menjadi lebih murah daripada barang yang
dihasilkan di dalam negeri, karena itu biasanya inflasi akan menyebabkan impor
berkembang lebih cepat daripada perkembangan ekspor.
2. Dampak
inflasi terhadap individu dan masyarakat
a. Memperburuk
distribusi pendapatan
Pada
masa inflasi, nilai harta-harta tetap seperti tanah atau bangunan mengalami
kenaikan yang lebih cepat daripada inflasi, sedangkan masyarakat berpendapatan
rendah yang biasanya tidak memiliki harta tetap tersebut akan mengalami
kemerosotan nilai pendapatan.[7]
Dampak
buruk inflasi terhadap tingkat kesejahteraan dapat dihindari jika pertumbuhan
tingkat pendapatan lebih tinggi dari tingkat inflasi. Jika inflasi 20%
pertahun, pertumbuhan tingkat pendapatan haris lebih besar dari 20%, dalam
masyarakat hanya segelintir orang yang memounyai kemampuan meningkatkan
pendapatannya ≥20% pertahun. Akibatnya, ada sekelompok masyarakat yang mampu mrningkatkan
pendapatan riil (petumbuhan pendapatan nominal dikurangi laju inflasi > 0%
pertahun). Tetapi sebagian besar masyarakat mengalami penurunan pendapatan
riil. Distribusi pendapatan, dilihat dari pendapatan riil makin memburuk.[8]
b. Pendapatan
riil merosot
Seperti
yang dijelaskan diatas sebagian besar tenaga kerja memiliki endapatan nominal
yang nilainya tetap. Dalam masa inflasi kenaikan harga barang-barang akan
membuat pendapatan riil masyarakat menjadi turun.[9]
3. Cara
Mengatasi Inflasi oleh Pemerintah
Terjadinya
Inflasi yang sering terjadi menyebabkan harus ada cara untuk mengatasi agar
Inflasi ini tidak mengacaukan kestabilan ekonomi di berbagai belahan dunia maka
pemerintah membuat 3 cara untuk mengatasi Inflasi, yaitu :
a.
Kebijakan Moneter
Merupakan kebijakan yang bertujuan
untuk meningkatkan pendapatan Nasional dengan cara mengubah jumlah uang yang
beredar. Salah satu penyebab Inflasi
adalah jumlah uang yang beredar terlalu
banyak sehingga dengan kebijakan ini diaharapkan jumlah uang yang beredar dapat
dikurangi menuju kondisi normal.
Kebijakan Moneter dapat dilakukan
dengan melalui instrumen – instrumen berikut :
1) Politik
Diskonto (Politik Uang Ketat).
Bank
menaikan suku bunga sehingga jumlah uang yang beredar dapat dikurangi.
Kebijakan Diskonto dilakukan dengan menaikkan tingkat bunga sehingga mengurangi
keinginan badan – badan pemberi kredit untuk mengeluarkan pinjaman guna
memenuhi permintaan pinjaman dari masyarakat. Akibatnya, jumlah kredit yang
dikeluarkan oleh badan – badan kredit akan berkurang, yang pada akhirnya
mengurangi tekanan Inflasi.
2) Politik
Pasar Terbuka.
Bank sentral
menjual obligasi atau surat berharga ke pasar modal untuk menyerap uang dari
masyarakat dan dengan menjual surat berharga bank sentral dapat menekan
perkembangan jumlah uang yang beredar sehingga jumlahnya dapat dikurangi dan
laju Inflasi dapat lebih rendah. Operasi Pasar terbuka (Open Market Operation),
biasa disebut dengan kebijakan uang ketat (Tight Money Policy), dilakukan
dengan menjual surat-surat berharga, seperti obligasi Negara, kepada masyarakat
dan bank - bank. Akibatnya, jumlah uang yang beredar di masyarakat dan
pemberian kredit oleh badan - badan kredit (bank) berkurang, yang pada akhirnya
dapat mengurangi tekanan Inflasi.
3) Peningkatan
Cash Ratio.
Artinya cadangan
yang diwajibkan oleh bank sentral kepada bank - bank umum yang besarnya
tergantung kepada keputusan bank sentral / pemerintah. Dengan jalan menaikkan
perbandingan antara uang yang beredar dengan uang yang mengendap di dalam kas
mengakibatkan kemampuan bank untuk menciptakan kredit berkurang sehingga jumlah
uang yang beredar akan berkurang. Menaikkan cadangan uang kas yang ada di bank
sehingga jumlah uang bank yang dapat dipinjamkan kepada debitur / masyarakat
menjadi berkurang. Hal ini berarti dapat mengurangi jumlah uang yang beredar.
b.
Kebijakan Fiskal
Merupakan kebijakan yang berhubungan
dengan finansial pemerintah. Kebijakan fiskal dapat dilakukan dengan instrumen
sebagai berikut :
1)
Mengatur penerimaan dan pengeluaran
pemerintah, sehingga keseluruhan dalam perekonomian bisa dikendalikan.
Pemerintah tidak menambah pengeluarannya agar anggaran tidak defisit
2)
Menaikkan Pajak.
Dengan menaikkan pajak, konsumen akan mengurangi
jumlah konsumsinya karena sebagian pendapatannya untuk membayar pajak. Dan juga
akan mengakibatkan penerimaan uang masyarakat berkurang dan ini berpengaruh
pada daya beli masyarakat yang menurun, dan tentunya permintaan akan barang dan
jasa yang bersifat konsumtif tentunya berkurang.
c.
Kebijakan Riil
Merupakan kebijakan yang tidak berhubungan dengan
finansial pemerintah maupun jumlah uang yang beredar. Cara ini merupakan
langkah alternatif untuk mengatasi Inflasi. Kebijakan Riil dapat dilakukan
melalui Instrumen berikut :
·
Mendorong agar pengusaha menaikkan
hasil produksinya.
Cara ini cukup efektif mengingat
Inflasi disebabkan oleh kenaikkan jumlah barang konsumsi tidak seimbang dengan
jumlah uang yang beredar. Oleh karena itu Pemerintah membuat prioritas produksi
atau memberi bantuan (Subsidi) kepada sektor produksi bahan bakar, produksi beras.
·
Menekankan tingkat Upah.
Merupakan upaya menstabilkan
upah/gaji, dalam pengertian bahwa upah tidak sering dinaikkan karena kenaikkan
yang relatif sering dilakukan akan meningkatkan daya beli dan pada akhirnya
akan meningkatkan permintaan terhadap barang - barang secara keseluruhan dan
pada akhirnya akan menimbulkan Inflasi.
·
Pemerintah melakukan pengawasan
harga dan sekaligus menetapkan harga maksimal.
·
Pemerintah melakukan distribusi
secara langsung.
Maksudnya agar tidak terjadi
kenaikkan harga, hal ini seperti yang dilakukan pemerintah dalam menetapkan
harga tertinggi (Harga Eceran Tertinggi/HET). Pengendalian harga yang tidak
baik tidak akan berhasil tanpa adanya pengawasan. Pengawasan yang tidak baik
biasanya akan menimbulkan pasar gelap. Untuk menghindari pasar gelap maka
distribusi barang harus dapat dilakukan dengan lancar, seperti yang dilakukan
pemerintah melalui Bulog / KUD.
·
Penanggulangan Inflasi yang sangat
parah (Hyper Inflation).
Ditempuh
dengan cara melakukan sneering
(pemotongan nilai mata uang). Sneering
berasal dari bahasa Belanda yang berarti penyehatan, pembersihan,
re-organisasi. Kebijakan sneering antara
lain :
o Penurunan
nilai mata uang.
o Pembekuan
sebagian simpanan pada bank – bank dengan ketentuan bahwa simpanan yang
dibekukan akan diganti menjadi simpanan jangka panjang oleh pemerintah.
Sneering ini pernah
dilakukan oleh pemerintah pada tahun 1960-an pada saat Inflasi mencapai 650%.
Pemerintah memotong nilai mata uang pecahan Rp 1.000,00 menjadi Rp1,00.
·
Kebijakkan yang berkaitan dengan
Output.
Kenaikkan
output dapat memperkecil laju Inflasi, kenaikkan jumlah output ini dapat
dicapai misalnya dengan kebijakkan penurunan bea masuk sehingga impor barang
cenderung meningkat. Bertambahnya jumlah barang di dalam negeri cenderung
menurunkan harga.
·
Kebijakkan penentuan harga dan
indexing yang dilakukan dengan ceiling price.[10]
C. Indikator
dan Teori Inflasi
Indikator
Inflasi
Ada
beberapa indikato inflasi ekonomi makro yang digunakan untuk mengetahui laju
inflasi selama satu periode tertentu. Diantaranya adalah:
1. Indeks
Harga Konsumen
IHK
adalah angka indeks yang menujukkan tingkat harga barang dan jasa yang harus
dibeli oleh konsumen dalam suatu periode tertentu. Angka IHK diperoleh dengan
menghitung harga barang dab jaa utama yang dikonsumsi masyarakat dalam satu
periode. Masing-masing harga brang dan jasa tersebut diberi bobot berdasarkan
tingkat keutamaannya. Barang dan jasa yang penting diberi bobot yang paling
besar. Sebagai contoh:
Indeks Harga
Konsuen (IHK) Gabungan kota di Indonesia
1994 – 1998
(April 1988 – Maret 1989= 100
|
Akhir
periode
|
IHI
|
Perunahan
IHI (%)
|
|
1994
1995
1996
1997
1998
|
163,17
177,83
189,62
211,63
375,89
|
9,60
8,98
6,63
11,60
77,63
|
Sumber:
diolah dari Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (Bank Indonesia)
Tabel tersebut menyatakan baha titik
awal perhitungan angka IHK adalah April 1988 Maret 1989, dengan angka 100. Jika
IHK semakin besar maka terjadi Inflasi. Angka IHK akhir periode 1994 adalah
163,17 menunjukkan selama 1989-1994 mengalami inflasi. Angka perubahan IHK pada
kolom 3 adalah angka inflasi pertahun, angka tersebut diperoleh dari rumus.
Dilihat dari cakupankomoditas yang
dihitung IHK kurang mencerminkan tingkat inflasi yang sebenarnya. Tetapi IHK
sangat berguna karena menggambarkan besarnya kenaikan biayahidup bagi konsumen,
sebab IHK memasukkan komoditas-komoditas yang relevan (pokok) yang biasanya
dikonsumsi masyarakat.
2. Indeks
Harga Perdagangan Besar (Wholesale Price Index)
Jika
IHK melihat inflasi dari sisi konsumen, maka IHPB melihat infasi dari sisi
produsen. Oleh karena itu IHPB sering juga disebut indeks harga produsen. IHPB
menunjukkan tingkat harga yang diterima produsen pada berbagai tingkat
produksi.
Indeks Harga
Perdagangan 1995 – 1998
(1983 = 100 )
|
Akhir Periode
|
IHPB
|
Perubahan IHPB (%)
|
|
1995
1996
1997
1998
|
240
259
282
568
|
11,62
7,92
8,88
101,42
|
Sumber:
diolah dari statistik ekonomi dan keuangan Indonesia (Bank Indonesia)
Prinsip
menghitung inflasi berdasarkan data IHPB adalah sama dengan cara berdasarkan
IHK:
3. Indeks
Harga Implisit
Walaupun
sangat bermanfaat. IHK dan IHPB memberikan gambaran laju inflasi yang sangat
terbatas. Sebab, dilihat dari metode penghitungannya, kedua indikator tersebut
hanya melingkupi beberapa puluh atau munkin ratusan jenis barang jasa, di
beberapa puluh kota saja. Padahal dalam kenyataan, jenis barang jasa yang
diproduksi atau dikonsumsi dalam suatu perekonomian mencapai ribuan, puluhan
ribu bahkan mungkin ratusan ribu. Kegiatan ekonomi juga terjadi tidak hanya
dibeberapa kota saja, melainkan seluruh pelosok wilayah. Untuk mendapatkan
gambaran inflasi yang paling mewakili keadaan sebenarnya, ekonom menggunakan
indeks harga implisit (GDP deflator), disingkat IHI.
Angka
deflator ni telah diperkenalkan dalam pembahasan Produk Domestik Bruto
berdasarkan harga berlaku dan konstan. Sama halnya denga dua indikator
sebelumnya, perhitungan inflasi berdasarkan IHI dilakukan dengan menghitung
perubahan angka indeks.
Indeks Harga
Implisit 1990 – 1996
(1990 = 100)
|
Akhir
periode
|
IHI
|
Perubahan
IHI
|
|
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
|
100
108,7
116,7
139
149,9
163,9
177,8
|
9,05
8,70
7,36
19,10
7,84
9,34
8,48
|
Sumber:
diolah dari statistik ekonomi dan keuangan Indonesia (Bank Indonesia)[11]
Teori Inflasi
Secara
garis besar ada tiga kelompok teori inflasi, masing-masing teori ini menyatakan
aspek-aspek tertentu dari proses inflasi dan masing-masing bukan teori inflasi
yang lengkap yang mencakup semua aspek penting dari proses kenaikan harga ini.
Ketiga teori itu adalah teori kuantitas, Keynes, dan Strukturalis.
1. Teori
kuantitas uang
Teori kuantitasadalah
teori yang paling tua mengenai Inflasi, namun teori ini masih sangat berguna
untuk menerangka proses Inflasi dijaman modern ini, terutama dinegara sedang
berkembang. Teori ini menyoroti peranan dalam proses inflasi dari jumlah uang
beredar dan psikologi (harapan) masyarakat mengenai kenaikan harga-harga
(expectation). Inti dari teori ini adalah:
a. Inflasi
hanya bisa terjadi kalau terjadi penambahan volume uang yang beredar (apakah
berupa penambahan uang kartal atau penambahan uang giral tidak menjadi soal).
Tanpa ada kenaikan jumlah uang yang beredar, kejadian seperti, misalnya
kegagalan panen hanya akan menaikkan harga-harga untuk sementra waktu saja.
Penambahan jumlah uang ibarat “bahan bakar” bagi api inflasi. Bila jumlah uang
tidak ditambah, inflasi akan berhenti dengan sendirinya, apapun sebab musabab
awal dari kenaikan harga tersebut.
b. Laju
inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang bereedar dan oleh
psikologi (harapan) masyarakat mengenai kenaikan harga-harga dimasa mendatang.
Ada 3 kemungkinan keadaan.
Keadaan yang pertama
adalah bila masyarakat tidak (atau belum) mengharapkan harga-harga untuk naik
pada bulan-bulan mendatang. Dalam hal ini sebagian besar dari penambahan jumlah
uang bereedar akan diterima oleh masyarakat untuk menambah likuiditasnya. Ini
berarti bahwa sebagian besar dari kenaikanjumlah uang tersebut tidak
dibelanjakan untuk pembelian barang. Selanjutnya ini berarti bahwa tidak akan
ada kenaikan permintaan yang berarti akan barang-barang, jadi tidak ada
kenaikan harga barang-barang.[12]
sehingga jika pemerintah menaikkan jumlah uang beredar sebesar 10% maka
kenaikan ini hanya diimbangi oleh kenaikan harga barang-barangsebesar 1% saja,
kondisi ini tidak disadari masyarakat bahwa inflasi mulai timbul dan sedang
berlangsung.
Keadaan yang kedua
adalah dimana masyarakat mulai sadar akan adanya inflasi sehingga masyarakat
mengharapkan kenaikan harga. Dengan demikian jika ada penambahan jumlah
uangberedar, maka pertambahan uang tersebut akan digunakan untuk membeli barang
dan jasa karena masyarakat merasa rugi untuk menyimpan uang dalam bentuk tunai.
Kondisi ini sebenarnya malah menaikkan harga barang dan jasa, namun masyarakat
sudah mampu menghadapi inflasi ini karena inflasi sudah berjalan cukup lama dan
mereka sudah mampu untuk menghadapinya. Sehingga misalnya terjadi penambahan
jumlah uang beredarsebesar 10% akan diimbangi dengan kenaikan harga 1% juga.
Keadaan yang ketiga terjadi
pada tahap inflasi yang lebih parah. Dalam keadaan ini, orang-orang sudah
kehilangan kepercayaan terhadap nilai mata uang. Keengganan untuk memegang uai
tunai dan keinginan untuk membelanjakan makin meluas dimasyarakat. Orang-orang
cenderung mengharapkan kenaikan harga yang makin tinggi dibandingkan dengan
penambahan jumlah uang yang beredar.
2. Teori
Keynes
Menurut
Keynes, inflasi terjadi karena masyarakat menginginkan barang dan jasa yang
lebih besar dari pada yang mampu disediakan oleh masyarakat itu sendiri. Proses
inflasi menurut kelompok ini adalah proses perebutan bagian rejeki diantara
kelompok-kelompok sosial yang menginginkan bagian yang lebih besar dari aa yang
mampu disediakan oleh masyarakat. Hal ini menimbulkan inlantiory gap karena permintaan total melebihi jumlah barang yang
tersedia. Golongan-golonga tersebut bisa pemerintah yang berusaha memperoleh
lebih banyak barang dengan cara mencetak uang untuk mendanai kebutuhannya
tersebut. Golongan yang lain bisa pengusaha-pengusaha yang ingin melakukan
investasi dengan mengambil kredit dari bank atau bisa juga serikat buruh yang
meminta kenaikan upah melebihi produktivitasnya.
3. Teori
Strukturalis
Teori
ini mrmberikan ttitik tekan pada ketegaran atau infleksibilitas dari struktur
perekonomian negara sedang berkambang berjalan sangat lambat dalam jangka
panjang. Teori ini seringkali diseut teori inflasi jangka panjang. Menurut
teori ini ada dua ketegaran utama yang dapat menimbulkan inflasi.
Pertama, ketidakelastisan
penerimaan ekspor, yaitu pertumbuhan nilai ekspor yang lamban dibandingkan
dengan pertumbuhan sektor lainnya. Hal ini disebabkan oleh dua faktor utama
yaitu jrnis barang ekspor yang kurang responsif terhadap kenaikan harga dan
nilai tukar barang ekspor yang semakin memburuk. Kedua hal inilah yang
menyebabkan banyak negara berkembang mengambil keputusan menggalakkan industri
substitusi impor, meskipun dengan biaya produksi yang lebih mahal dan kualitas
yang lebih rendah. Dengan demikian, industri substitusi impor ini dapat
mengakibatkan inflasi yang dikarenakan adanya ekonomi biaya tinggi.
Kedua, ketidakelastisan
produksi bahan makanan didalam negeri.dalam hal ini laju pertumbuhan bahan
makanan didalam negeri tidak secepat laju pertambahan penduduk dan laju
pendapatan perkapita. Akibat dari keadaan ini terjadi kenaikan harga
barang-barang lainnya. Selanjutnya akan muncul tuntutan dari para karyawan
untuk memperoleh kenaikan upah, dengan demikian akan menyebabkan kenaikan
ongkos produksi, sehingga biaya produksi total meningkat. Hal ini menyebabkan
pengusaha meingkatkan harga-harga produknya.[13]
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Inflasi
didefinisikan sebagai kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum
dan terus menerus.
Penggologan infasi:
a. Menurut
laju inflasi pertahun
·
Inflasi ringan
(dibawah 10% setahun)
·
Inflasi sedang
(antara 10% - 30% setahun)
·
Inflasi berat
(antara 30% - 100% setahun)
·
Hiperinflasi
(diatas 100% setahun)
b. Atas
dasar sebab terjadinya Inflasi
·
Demand
pull inflation
·
Cost
push inflation
c. Berdasarkan
darimana inflasi berasal
·
Domestic
inflation (inflasi yang berasal dari dalam negeri)
·
Imported
inflation (inflasi yang penyebabnya dari luar negeri)
2. Dampak
Inflasi:
·
Inflasi dapat
mendorong penanaman modal spekulatif
·
Tingkat bunga
meningkat dan akan mengurangi tingkat investasi
·
Menimbulkan
ketidakpastian tentang keadaan ekonomi dimasa mendatang
·
Menimbulkan
masalah neraca perdagangan
·
Memperburuk
distribusi pendapatan
·
Pendapatan riil
merosot
3. Indikator
dan Teori Inflasi
Indikator Inflasi:
·
Indeks Harga
Konsumen
·
Indeks Harga
Perdagangan Besar (Wholesale Price Index)
·
Indeks Harga
Implisit
Teori Inflasi:
·
Teori kuantitas
·
Teori Keynes
·
Teori Struktualis
Daftar
Pustaka
Boediono, Ekonomi Makro, BPFE-UGM, Yogyakarta,2001
Prathama raharja
dan Mandala manurung, teori ekonomi
makro, lembaga penerbit fakultas ekonomi universitas Indonesia, Jakarta
Soeratno, ekonomi makro pengantar, bagian
penerbitan STIE YKPN Yogyakarta, Yogyakarta, 2004
http://zsigitrinaldi.blogspot.com/2012/06/cara-pemerintah-mengatasi-inflasi.html
[1]
Boediono, Ekonomi Makro, BPFE-UGM,
Yogyakarta, 2001, hal. 155
[2]Soeratno,
ekonomi makro pengantar, bagian
penerbitan STIE YKPN Yogyakarta, Yogyakarta, 2004, hal.177
[3] Prathama
raharja dan Mandala manurung, teori
ekonomi makro, lembaga penerbit fakultas ekonomi universitas Indonesia,
Jakarta, hal.175-176
[4]
Soeratno, Opcit, hal. 180-181
[5] Prathama
raharja dan Mandala manurung, Opcit, hal.181
[6]Soeratno,
Opcit, hal. 181
[7]
Soeratno, Ibid, hal. 182-183
[8] Prathama
raharja dan Mandala manurung, Opcit, hal.189
[9]
Soeratno, Opcit, hal. 183
[11]Prathama
raharja dan Mandala manurung, Opcit, hal.184-187
[12]
Boediono, Ekonomi Makro, BPFE-UGM,
Yogyakarta, hal. 167
[13]
Soeratno, ekonomi makro pengantar, bagian
penerbitan STIE YKPN Yogyakarta, Yogyakarta, 2004, hal. 184-186

Tidak ada komentar:
Posting Komentar