Rabu, 24 Februari 2016

INFLASI Ekonomi MAkro




INFLASI
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah : Ekonomi Makro
Dosen Pengampu: Amirus Shodiq
                                               




Disusun Oleh :
Erma Muftia Nihayatin : 1320210154


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM / EKONOMI SYARI’AH         
TAHUN 2015

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Inflasi merupakan salah satu permasalahan ekonomi makro yang dihadapi oleh hampir semua perekonomian di dunia termasuk indonesia. Mengapa inflasi menjadi suatu masalah? Inflasi merupakan indikator utama adanya stabilitas harga dalam suatu perekonomian. Kestabilan harga akan mampu memberikan jaminan pada investor untuk menanamkan modalnya. Bagi pemerintah, kondisi yang stabil tersebut akan membantu untuk merumukan keputusan yang dapat memperbaiki kesejahteraan rakyatnya. Sedangkan bagi masyarakat umum, kestabilan harga akan membuat masyarakat mampu merencanakan konsumsi dan juga kegiatan spekulasi terhadap aset yang dimiliki dengan sebaik-baiknya.
Masyarakat sering mempresepsikan kenaikan harga barang-barang kebutuhan sebagai inflasi, naiknya harga barang-barang akan menimbulkan ketidak stabilan perekonomian secara keseluruhan dan hal ini akan mempengaruhi perilaku masyarakat, pengusaha juga pemerintah. Harga didalam negeri yang stabil akan memberikan kepastian sekaligus jaminan perekonomian yang stabil dan hal ini akan memberikan iklim yang baik terhadap investasi baik yang dilkukan oleh investor luar negeri mauun investor dalam negeri.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa definisi dan bagaimanakah penggolongan inflasi?
2.      Apa saja dampak dan bagaimana pemerintah mengantisipasi adanya Inflasi?
3.      Bagaimanakah indikator dan teori Inflasi?

C.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui definisi dan bagaimanakah penggolongan inflasi.
2.      Untuk mengetahui dampak dan bagaimana pemerintah mengantisipasi adanya Inflasi.
3.      Untuk mengetahui indikator dan teori Inflasi.


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Definisi dan penggolongan inflasi
Definifi inflasi
Inflasi didefinisikan sebagai kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. [1]Kenaikan harga dari satu atau dua macam barang saja tidak dapat dikatakan sebagai inflasi kecuali kenaikan tersebut membawa dampak terhadap kenaikan harga sebagian besar barang-barang lain. Kecenderungan untuk menaik terus-menerus berarti kenaikan harga selama satu musim atau selama satu periode waktu saja tidak dapat dikatakan sebagai inflasi, seperti misalnya kenaikan harga menjelang hari raya. Kata kecenderungan pada definisi inflasi tersebut perlu diperhatikan. Jika seandainya harga sebagian besar barang-barang ditentukan dan diatur oleh pemerintah, maka harga-harga yang dicatat adalah harga resmi yang diatur oleh pemerintahsehingga mungkin tidak menunjukkan kenaikan apapun, tapi mungkin dalam kenyataannya harga yang terjadi dimasyarakat cenderung untuk terus naik.[2]
Ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan telah terjdi inflasi, yaitu:
1.    Kenaikan harga
Harga suatu komoditas dikatakan naik jika menjadi lenih tinggi daripada harga periode sebelumnya. Misalnya, harga sabun mandi per unit kemaren adaah Rp. 1000 hari ini menjadi Rp.1100 berarti harga sabun hari ini selisih Rp.100 dari haraga kemarin. Dapat dikatakan telah mengalami kenaikan harga sabun. Perbandingan tingkat harga bisa dilakukan denga jarak waktu yang lebih panjang, misal seminggu, sebulan, triwulan, dam setahun.
Perbandingan haraga juga bisa dilakukan berdasarkan patokan musim. Misalnya, pada musim paceklik haraga beras bisa mencapai Rp.8000 perkilogram. Sebab harga gabah telah naik. Tetapi dimusim panen, harganya dapat lebih murah, karena harga gabah juga cenderung rendah. Dengan demikian dapat dikatakan dimusim paceklik selalu erjadi kenaikan harga beras.
2.      Bersifat umum
Kenaikan harga suatu komoditas belum dapat dikatakan inflasi jika kenaikan tersebut tidak menyebabkan harga-harga secara umum naik.
Contoh kasus, pengalaman indonesia menunjukkan setiap pemerinyah menaikkan harga BBM, harga komoditas lain akan ikut naik juga. Karena BBM merupakan komoditas strategis, maka kenaikan kenaikan harga BBM akan merambat kepada harga komoditas yang lain. Kenaikan harga BBM juga akan membuat harga jual produk-produk industri, khusunya kebutuhan pokok, merambat naik. Sebab biaya operasional intuk menjalankan mesin-mesin pabrik menjadi lebih mahal. Bahkan, kenaikan BBm akan mengundang kaum buruh menuntut kenaikan upah harian untuk memelihara daya beli mereka.
3.      Berlangsung terus menerus
Kenaikan harga yang bersifat umum juga belum akan memunculkan inflasi, jika terjadinya hanya sesaat. Karena itu perhitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu minimal bulanan. Sebab dalam sebulan akan terlihat apakah kenaikan tersebut umum dan terus menerus. Rentang waktu yang lebih panjang adalah triwulan dan tahunan. Jika pemerintah melaporkan bahwa inflasi ini adalah 10%, berarti akumulasi inflasi adalah 10% per tahun. Inflasi triwulan rata-rata 2,5% (10%:4), sedangkan inflasi bulanan sekitar 0.83%.[3]

Penggolongan Inflasi
1.    Menurut laju inflasi pertahun
Inflasi dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:
a.  Inflasi ringan (dibawah 10% setahun)
b.  Inflasi sedang (antara 10% - 30% setahun)
c.  Inflasi berat (antara 30% - 100% setahun)
d. Hiperinflasi (diatas 100% setahun)
Parah tidaknya inflasi tergantung pada barang apa saja yang mengalami kenaikan harga, dan kelompok masyarakat yang mana yang terkena dampak kenaikan harag tersebut. Jika yang mengalami kenaikan harga adalah batrang kebutuhan pokok yang dikonsumsi oleh seluruh masyarakat, baik kelompok masyarakat yang berpendapatan tinggi maupun yang berpendapatan rendah, maka kelompok masyarakat yang rendahlah yang paling merasakan dampak kenaikan harga tersebut. Namun jika yang mengalami kenaikan harga adalah barang-barang mewah yang lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat berpendapatan tinggi, maka sebagian besar masyarakat yang berpendapatan rendah tidak akan merasaan dampak kenaikan harga barang tersebut.
2.      Atas dasar sebab terjadinya Inflasi
Berdasarkan penggolongan ini, inflasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (sukirno, 1997, hal.303):
a.       Demand pull inflation, yaitu inflasi yang timbul karena permintaan masyarakat akan berbagai barang terlalu kuat dan permintaan ini tidak diimbangi dengan tersedianya barang yang disediakan oleh suatu perekonomian. Misalnya, bertambahnya pengeluaran pemerintah yang dibiayai dengan mencetak uang, atau bertambahnya permintaan luar negeri akan barang-barang ekspor atau juga karena bertambahnya investasi karena adaya kredit yang murah.[4]
Inflasi tekanan permintaan (Demand pull inflation) adalah inflasi yang terjadi karena dominanya tekanan permintaan agregat. Tekanan permintaan meneybabkan output perekonomian bertanbah, tetapi disertai inflasi, doilihat dari makin tingginya harga umum. Dalam inflasi ini tidak selalu berarti penawaran agregat tidak bertambah. Yang pasti, kalaupun terjadi penawaran agregat, jumlahnya lebih kecil dibanding peningkatan permintaan agregat.[5]
b.      Cost push inflation, yaitu inflasi yang timbul karena adanya kenaikan biaya produksi, misalnya karena adanya desakan serikat buruh untuk menaikkan tingkat upah minimum bagi karyawan suatu pabrik, atau naiknya harga bahan bakar minyak.
3.      Berdasarkan darimana inflasi berasal
Berdasarkan penggolngan ini inflasi dibedakan menjadi:
a.    Domestic inflation (inflasi yang berasal dari dalam negeri)
Inflasi jenis ini timbul karena adanya faktor-faktor dari dalam negeri yang menyebabkan terjadinya kenaikan harga. Misalnya pemerintah menambah jumlah uang yang beredar, adanya peperangan, bencana alam atau adanya kegagalan panen yang menyebabkan kekurangan bahan makanan pokok.
b.    Imported inflation (inflasi yang penyebabnya dari luar negeri)
Inflasi jenis ini timbul karena adanya kenaikan haraga barang-barang diluar negeri dan barang-barang tersebut ddiimpor ke dalam negeri.[6]

B.     Dampak Inflasi dan cara pencegahannya oleh pemerintah
1.      Dampak inflasi terhadap perekonomian
a.    Inflasi dapat mendorong penanaman modal spekulatif
Pada masa inflasi, seseorang akanmeras lebih aman jika menginvestasikan modalnya dalam bentuk pembelian rumah atau barang berharga lain daipada melakukan investasi yang produktif. Kondisi ini tidak akan menaikkan investasi yang akan berdampak terhadap pendapatan nasional.
b.    Tingkat bunga meningkat dan akan mengurangi tingkat investasi
Dalam kondisi inflasi biasanya pemerintah akan menaikkan tingkat suku bunga untuk mengurangi jumlah uang yang beredar didalam masyarakat. Namun kenaikan tingkat bunga tersebut akan menyebabkan investor enggan melakukan investasi karena bunga pinjaman yang harus dibayar menjadi lebih tinggi. Pada kondisi ini, investor lebih suka menyimpan dana di bank dan memperoleh pendapatan dari bunga tabungan.
c.    Menimbulkan ketidakpastian mengenai keadaan ekonomi dimasa yang akan datang.
d.   Menimbulkan masalah neraca perdagangan
Inflasi akan menyebabkan harag barang impor menjadi lebih murah daripada barang yang dihasilkan di dalam negeri, karena itu biasanya inflasi akan menyebabkan impor berkembang lebih cepat daripada perkembangan ekspor.
2.      Dampak inflasi terhadap individu dan masyarakat
a.    Memperburuk distribusi pendapatan
Pada masa inflasi, nilai harta-harta tetap seperti tanah atau bangunan mengalami kenaikan yang lebih cepat daripada inflasi, sedangkan masyarakat berpendapatan rendah yang biasanya tidak memiliki harta tetap tersebut akan mengalami kemerosotan nilai pendapatan.[7]
Dampak buruk inflasi terhadap tingkat kesejahteraan dapat dihindari jika pertumbuhan tingkat pendapatan lebih tinggi dari tingkat inflasi. Jika inflasi 20% pertahun, pertumbuhan tingkat pendapatan haris lebih besar dari 20%, dalam masyarakat hanya segelintir orang yang memounyai kemampuan meningkatkan pendapatannya ≥20% pertahun. Akibatnya, ada sekelompok masyarakat yang mampu mrningkatkan pendapatan riil (petumbuhan pendapatan nominal dikurangi laju inflasi > 0% pertahun). Tetapi sebagian besar masyarakat mengalami penurunan pendapatan riil. Distribusi pendapatan, dilihat dari pendapatan riil makin memburuk.[8]
b.    Pendapatan riil merosot
Seperti yang dijelaskan diatas sebagian besar tenaga kerja memiliki endapatan nominal yang nilainya tetap. Dalam masa inflasi kenaikan harga barang-barang akan membuat pendapatan riil masyarakat menjadi turun.[9]
3.      Cara Mengatasi Inflasi oleh Pemerintah
Terjadinya Inflasi yang sering terjadi menyebabkan harus ada cara untuk mengatasi agar Inflasi ini tidak mengacaukan kestabilan ekonomi di berbagai belahan dunia maka pemerintah membuat 3 cara untuk mengatasi Inflasi, yaitu :
a.       Kebijakan Moneter
Merupakan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan Nasional dengan cara mengubah jumlah uang yang beredar. Salah  satu penyebab Inflasi adalah  jumlah uang yang beredar terlalu banyak sehingga dengan kebijakan ini diaharapkan jumlah uang yang beredar dapat dikurangi menuju kondisi normal.

Kebijakan Moneter dapat dilakukan dengan melalui instrumen – instrumen berikut :
1)      Politik Diskonto (Politik Uang Ketat).
Bank menaikan suku bunga sehingga jumlah uang yang beredar dapat dikurangi. Kebijakan Diskonto dilakukan dengan menaikkan tingkat bunga sehingga mengurangi keinginan badan – badan pemberi kredit untuk mengeluarkan pinjaman guna memenuhi permintaan pinjaman dari masyarakat. Akibatnya, jumlah kredit yang dikeluarkan oleh badan – badan kredit akan berkurang, yang pada akhirnya mengurangi tekanan Inflasi.
2)      Politik Pasar Terbuka.
Bank sentral menjual obligasi atau surat berharga ke pasar modal untuk menyerap uang dari masyarakat dan dengan menjual surat berharga bank sentral dapat menekan perkembangan jumlah uang yang beredar sehingga jumlahnya dapat dikurangi dan laju Inflasi dapat lebih rendah. Operasi Pasar terbuka (Open Market Operation), biasa disebut dengan kebijakan uang ketat (Tight Money Policy), dilakukan dengan menjual surat-surat berharga, seperti obligasi Negara, kepada masyarakat dan bank - bank. Akibatnya, jumlah uang yang beredar di masyarakat dan pemberian kredit oleh badan - badan kredit (bank) berkurang, yang pada akhirnya dapat mengurangi tekanan Inflasi.
3)      Peningkatan Cash Ratio.
Artinya cadangan yang diwajibkan oleh bank sentral kepada bank - bank umum yang besarnya tergantung kepada keputusan bank sentral / pemerintah. Dengan jalan menaikkan perbandingan antara uang yang beredar dengan uang yang mengendap di dalam kas mengakibatkan kemampuan bank untuk menciptakan kredit berkurang sehingga jumlah uang yang beredar akan berkurang. Menaikkan cadangan uang kas yang ada di bank sehingga jumlah uang bank yang dapat dipinjamkan kepada debitur / masyarakat menjadi berkurang. Hal ini berarti dapat mengurangi jumlah uang yang beredar.
b.    Kebijakan Fiskal
Merupakan kebijakan yang berhubungan dengan finansial pemerintah. Kebijakan fiskal dapat dilakukan dengan instrumen sebagai berikut :
1)      Mengatur penerimaan dan pengeluaran pemerintah, sehingga keseluruhan dalam perekonomian bisa dikendalikan. Pemerintah tidak menambah pengeluarannya agar anggaran tidak defisit
2)      Menaikkan Pajak.
Dengan menaikkan pajak, konsumen akan mengurangi jumlah konsumsinya karena sebagian pendapatannya untuk membayar pajak. Dan juga akan mengakibatkan penerimaan uang masyarakat berkurang dan ini berpengaruh pada daya beli masyarakat yang menurun, dan tentunya permintaan akan barang dan jasa yang bersifat konsumtif tentunya berkurang.
c.       Kebijakan Riil
Merupakan kebijakan yang tidak berhubungan dengan finansial pemerintah maupun jumlah uang yang beredar. Cara ini merupakan langkah alternatif untuk mengatasi Inflasi. Kebijakan Riil dapat dilakukan melalui Instrumen berikut :
·         Mendorong agar pengusaha menaikkan hasil produksinya.
Cara ini cukup efektif mengingat Inflasi disebabkan oleh kenaikkan jumlah barang konsumsi tidak seimbang dengan jumlah uang yang beredar. Oleh karena itu Pemerintah membuat prioritas produksi atau memberi bantuan (Subsidi) kepada sektor produksi bahan bakar, produksi beras.
·         Menekankan tingkat Upah.
Merupakan upaya menstabilkan upah/gaji, dalam pengertian bahwa upah tidak sering dinaikkan karena kenaikkan yang relatif sering dilakukan akan meningkatkan daya beli dan pada akhirnya akan meningkatkan permintaan terhadap barang - barang secara keseluruhan dan pada akhirnya akan menimbulkan Inflasi.
·         Pemerintah melakukan pengawasan harga dan sekaligus menetapkan harga maksimal.
·         Pemerintah melakukan distribusi secara langsung.
Maksudnya agar tidak terjadi kenaikkan harga, hal ini seperti yang dilakukan pemerintah dalam menetapkan harga tertinggi (Harga Eceran Tertinggi/HET). Pengendalian harga yang tidak baik tidak akan berhasil tanpa adanya pengawasan. Pengawasan yang tidak baik biasanya akan menimbulkan pasar gelap. Untuk menghindari pasar gelap maka distribusi barang harus dapat dilakukan dengan lancar, seperti yang dilakukan pemerintah melalui Bulog / KUD.
·         Penanggulangan Inflasi yang sangat parah (Hyper Inflation).
Ditempuh dengan cara melakukan sneering (pemotongan nilai mata uang). Sneering berasal dari bahasa Belanda yang berarti penyehatan, pembersihan, re-organisasi. Kebijakan sneering antara lain :
o   Penurunan nilai mata uang.
o   Pembekuan sebagian simpanan pada bank – bank dengan ketentuan bahwa simpanan yang dibekukan akan diganti menjadi simpanan jangka panjang oleh pemerintah.
Sneering ini pernah dilakukan oleh pemerintah pada tahun 1960-an pada saat Inflasi mencapai 650%. Pemerintah memotong nilai mata uang pecahan Rp 1.000,00 menjadi Rp1,00.
·         Kebijakkan yang berkaitan dengan Output.
Kenaikkan output dapat memperkecil laju Inflasi, kenaikkan jumlah output ini dapat dicapai misalnya dengan kebijakkan penurunan bea masuk sehingga impor barang cenderung meningkat. Bertambahnya jumlah barang di dalam negeri cenderung menurunkan harga.
·         Kebijakkan penentuan harga dan indexing yang dilakukan dengan ceiling price.[10]

C.     Indikator dan Teori Inflasi

Indikator Inflasi
Ada beberapa indikato inflasi ekonomi makro yang digunakan untuk mengetahui laju inflasi selama satu periode tertentu. Diantaranya adalah:
1.      Indeks Harga Konsumen
IHK adalah angka indeks yang menujukkan tingkat harga barang dan jasa yang harus dibeli oleh konsumen dalam suatu periode tertentu. Angka IHK diperoleh dengan menghitung harga barang dab jaa utama yang dikonsumsi masyarakat dalam satu periode. Masing-masing harga brang dan jasa tersebut diberi bobot berdasarkan tingkat keutamaannya. Barang dan jasa yang penting diberi bobot yang paling besar. Sebagai contoh:

Indeks Harga Konsuen (IHK) Gabungan kota di Indonesia
1994 – 1998 (April 1988 – Maret 1989= 100

Akhir periode
IHI
Perunahan IHI (%)
1994
1995
1996
1997
1998
163,17
177,83
189,62
211,63
375,89
9,60
8,98
6,63
11,60
77,63
Sumber: diolah dari Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (Bank Indonesia)
Tabel tersebut menyatakan baha titik awal perhitungan angka IHK adalah April 1988 Maret 1989, dengan angka 100. Jika IHK semakin besar maka terjadi Inflasi. Angka IHK akhir periode 1994 adalah 163,17 menunjukkan selama 1989-1994 mengalami inflasi. Angka perubahan IHK pada kolom 3 adalah angka inflasi pertahun, angka tersebut diperoleh dari rumus.
Dilihat dari cakupankomoditas yang dihitung IHK kurang mencerminkan tingkat inflasi yang sebenarnya. Tetapi IHK sangat berguna karena menggambarkan besarnya kenaikan biayahidup bagi konsumen, sebab IHK memasukkan komoditas-komoditas yang relevan (pokok) yang biasanya dikonsumsi masyarakat.
2.      Indeks Harga Perdagangan Besar (Wholesale Price Index)
Jika IHK melihat inflasi dari sisi konsumen, maka IHPB melihat infasi dari sisi produsen. Oleh karena itu IHPB sering juga disebut indeks harga produsen. IHPB menunjukkan tingkat harga yang diterima produsen pada berbagai tingkat produksi.

Indeks Harga Perdagangan 1995 – 1998
(1983 = 100 )
Akhir Periode
IHPB
Perubahan IHPB (%)

1995
1996
1997
1998
240
259
282
568
11,62
7,92
8,88
101,42
Sumber: diolah dari statistik ekonomi dan keuangan Indonesia (Bank Indonesia)
Prinsip menghitung inflasi berdasarkan data IHPB adalah sama dengan cara berdasarkan IHK:
3.      Indeks Harga Implisit
Walaupun sangat bermanfaat. IHK dan IHPB memberikan gambaran laju inflasi yang sangat terbatas. Sebab, dilihat dari metode penghitungannya, kedua indikator tersebut hanya melingkupi beberapa puluh atau munkin ratusan jenis barang jasa, di beberapa puluh kota saja. Padahal dalam kenyataan, jenis barang jasa yang diproduksi atau dikonsumsi dalam suatu perekonomian mencapai ribuan, puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu. Kegiatan ekonomi juga terjadi tidak hanya dibeberapa kota saja, melainkan seluruh pelosok wilayah. Untuk mendapatkan gambaran inflasi yang paling mewakili keadaan sebenarnya, ekonom menggunakan indeks harga implisit (GDP deflator), disingkat IHI.
Angka deflator ni telah diperkenalkan dalam pembahasan Produk Domestik Bruto berdasarkan harga berlaku dan konstan. Sama halnya denga dua indikator sebelumnya, perhitungan inflasi berdasarkan IHI dilakukan dengan menghitung perubahan angka indeks.





Indeks Harga Implisit 1990 – 1996
(1990 = 100)
Akhir periode
IHI
Perubahan IHI
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
100
108,7
116,7
139
149,9
163,9
177,8
9,05
8,70
7,36
19,10
7,84
9,34
8,48
Sumber: diolah dari statistik ekonomi dan keuangan Indonesia (Bank Indonesia)[11]
 Teori Inflasi
Secara garis besar ada tiga kelompok teori inflasi, masing-masing teori ini menyatakan aspek-aspek tertentu dari proses inflasi dan masing-masing bukan teori inflasi yang lengkap yang mencakup semua aspek penting dari proses kenaikan harga ini. Ketiga teori itu adalah teori kuantitas, Keynes, dan Strukturalis.
1.      Teori kuantitas uang
Teori kuantitasadalah teori yang paling tua mengenai Inflasi, namun teori ini masih sangat berguna untuk menerangka proses Inflasi dijaman modern ini, terutama dinegara sedang berkembang. Teori ini menyoroti peranan dalam proses inflasi dari jumlah uang beredar dan psikologi (harapan) masyarakat mengenai kenaikan harga-harga (expectation). Inti dari teori ini adalah:
a.       Inflasi hanya bisa terjadi kalau terjadi penambahan volume uang yang beredar (apakah berupa penambahan uang kartal atau penambahan uang giral tidak menjadi soal). Tanpa ada kenaikan jumlah uang yang beredar, kejadian seperti, misalnya kegagalan panen hanya akan menaikkan harga-harga untuk sementra waktu saja. Penambahan jumlah uang ibarat “bahan bakar” bagi api inflasi. Bila jumlah uang tidak ditambah, inflasi akan berhenti dengan sendirinya, apapun sebab musabab awal dari kenaikan harga tersebut.
b.      Laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang bereedar dan oleh psikologi (harapan) masyarakat mengenai kenaikan harga-harga dimasa mendatang. Ada 3 kemungkinan keadaan.
Keadaan yang pertama adalah bila masyarakat tidak (atau belum) mengharapkan harga-harga untuk naik pada bulan-bulan mendatang. Dalam hal ini sebagian besar dari penambahan jumlah uang bereedar akan diterima oleh masyarakat untuk menambah likuiditasnya. Ini berarti bahwa sebagian besar dari kenaikanjumlah uang tersebut tidak dibelanjakan untuk pembelian barang. Selanjutnya ini berarti bahwa tidak akan ada kenaikan permintaan yang berarti akan barang-barang, jadi tidak ada kenaikan harga barang-barang.[12] sehingga jika pemerintah menaikkan jumlah uang beredar sebesar 10% maka kenaikan ini hanya diimbangi oleh kenaikan harga barang-barangsebesar 1% saja, kondisi ini tidak disadari masyarakat bahwa inflasi mulai timbul dan sedang berlangsung.
Keadaan yang kedua adalah dimana masyarakat mulai sadar akan adanya inflasi sehingga masyarakat mengharapkan kenaikan harga. Dengan demikian jika ada penambahan jumlah uangberedar, maka pertambahan uang tersebut akan digunakan untuk membeli barang dan jasa karena masyarakat merasa rugi untuk menyimpan uang dalam bentuk tunai. Kondisi ini sebenarnya malah menaikkan harga barang dan jasa, namun masyarakat sudah mampu menghadapi inflasi ini karena inflasi sudah berjalan cukup lama dan mereka sudah mampu untuk menghadapinya. Sehingga misalnya terjadi penambahan jumlah uang beredarsebesar 10% akan diimbangi dengan kenaikan harga 1% juga.
Keadaan yang ketiga terjadi pada tahap inflasi yang lebih parah. Dalam keadaan ini, orang-orang sudah kehilangan kepercayaan terhadap nilai mata uang. Keengganan untuk memegang uai tunai dan keinginan untuk membelanjakan makin meluas dimasyarakat. Orang-orang cenderung mengharapkan kenaikan harga yang makin tinggi dibandingkan dengan penambahan jumlah uang yang beredar.
2.      Teori Keynes
Menurut Keynes, inflasi terjadi karena masyarakat menginginkan barang dan jasa yang lebih besar dari pada yang mampu disediakan oleh masyarakat itu sendiri. Proses inflasi menurut kelompok ini adalah proses perebutan bagian rejeki diantara kelompok-kelompok sosial yang menginginkan bagian yang lebih besar dari aa yang mampu disediakan oleh masyarakat. Hal ini menimbulkan inlantiory gap karena permintaan total melebihi jumlah barang yang tersedia. Golongan-golonga tersebut bisa pemerintah yang berusaha memperoleh lebih banyak barang dengan cara mencetak uang untuk mendanai kebutuhannya tersebut. Golongan yang lain bisa pengusaha-pengusaha yang ingin melakukan investasi dengan mengambil kredit dari bank atau bisa juga serikat buruh yang meminta kenaikan upah melebihi produktivitasnya.
3.      Teori Strukturalis
Teori ini mrmberikan ttitik tekan pada ketegaran atau infleksibilitas dari struktur perekonomian negara sedang berkambang berjalan sangat lambat dalam jangka panjang. Teori ini seringkali diseut teori inflasi jangka panjang. Menurut teori ini ada dua ketegaran utama yang dapat menimbulkan inflasi.
Pertama, ketidakelastisan penerimaan ekspor, yaitu pertumbuhan nilai ekspor yang lamban dibandingkan dengan pertumbuhan sektor lainnya. Hal ini disebabkan oleh dua faktor utama yaitu jrnis barang ekspor yang kurang responsif terhadap kenaikan harga dan nilai tukar barang ekspor yang semakin memburuk. Kedua hal inilah yang menyebabkan banyak negara berkembang mengambil keputusan menggalakkan industri substitusi impor, meskipun dengan biaya produksi yang lebih mahal dan kualitas yang lebih rendah. Dengan demikian, industri substitusi impor ini dapat mengakibatkan inflasi yang dikarenakan adanya ekonomi biaya tinggi.
Kedua, ketidakelastisan produksi bahan makanan didalam negeri.dalam hal ini laju pertumbuhan bahan makanan didalam negeri tidak secepat laju pertambahan penduduk dan laju pendapatan perkapita. Akibat dari keadaan ini terjadi kenaikan harga barang-barang lainnya. Selanjutnya akan muncul tuntutan dari para karyawan untuk memperoleh kenaikan upah, dengan demikian akan menyebabkan kenaikan ongkos produksi, sehingga biaya produksi total meningkat. Hal ini menyebabkan pengusaha meingkatkan harga-harga produknya.[13]






























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Inflasi didefinisikan sebagai kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus.
Penggologan infasi:
a.       Menurut laju inflasi pertahun
·         Inflasi ringan (dibawah 10% setahun)
·         Inflasi sedang (antara 10% - 30% setahun)
·         Inflasi berat (antara 30% - 100% setahun)
·         Hiperinflasi (diatas 100% setahun)
b.      Atas dasar sebab terjadinya Inflasi
·         Demand pull inflation
·         Cost push inflation
c.       Berdasarkan darimana inflasi berasal
·         Domestic inflation (inflasi yang berasal dari dalam negeri)
·         Imported inflation (inflasi yang penyebabnya dari luar negeri)
2.      Dampak Inflasi:
·         Inflasi dapat mendorong penanaman modal spekulatif
·         Tingkat bunga meningkat dan akan mengurangi tingkat investasi
·         Menimbulkan ketidakpastian tentang keadaan ekonomi dimasa mendatang
·         Menimbulkan masalah neraca perdagangan
·         Memperburuk distribusi pendapatan
·         Pendapatan riil merosot
3.      Indikator dan Teori Inflasi
Indikator Inflasi:
·         Indeks Harga Konsumen
·         Indeks Harga Perdagangan Besar (Wholesale Price Index)
·         Indeks Harga Implisit
Teori Inflasi:
·         Teori kuantitas
·         Teori Keynes
·         Teori Struktualis
Daftar Pustaka

Boediono, Ekonomi Makro, BPFE-UGM, Yogyakarta,2001
Prathama raharja dan Mandala manurung, teori ekonomi makro, lembaga penerbit fakultas ekonomi universitas Indonesia, Jakarta
Soeratno, ekonomi makro pengantar, bagian penerbitan STIE YKPN Yogyakarta, Yogyakarta, 2004
http://zsigitrinaldi.blogspot.com/2012/06/cara-pemerintah-mengatasi-inflasi.html



[1] Boediono, Ekonomi Makro, BPFE-UGM, Yogyakarta, 2001,  hal. 155
[2]Soeratno, ekonomi makro pengantar, bagian penerbitan STIE YKPN Yogyakarta, Yogyakarta, 2004, hal.177
[3] Prathama raharja dan Mandala manurung, teori ekonomi makro, lembaga penerbit fakultas ekonomi universitas Indonesia, Jakarta, hal.175-176
[4] Soeratno, Opcit, hal. 180-181
[5] Prathama raharja dan Mandala manurung, Opcit, hal.181
[6]Soeratno, Opcit, hal. 181
[7] Soeratno, Ibid, hal. 182-183
[8] Prathama raharja dan Mandala manurung, Opcit, hal.189
[9] Soeratno, Opcit, hal. 183
[11]Prathama raharja dan Mandala manurung, Opcit, hal.184-187
[12] Boediono, Ekonomi Makro, BPFE-UGM, Yogyakarta, hal. 167
[13] Soeratno, ekonomi makro pengantar, bagian penerbitan STIE YKPN Yogyakarta, Yogyakarta, 2004,  hal. 184-186

Tidak ada komentar:

Posting Komentar