Rabu, 24 Februari 2016

MANAJEMEN PRODUKSI ATAU OPERASI



MANAJEMEN PRODUKSI ATAU OPERASI

Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Dasar-dasar Bisnis
Dosen Pengampu : Muhammad Husni M., SE,MM
Senin Jam 2, 09.30-11.10 (G2)

Disusun Oleh Kelompok 3 :
Erma Muftia N                      : 1320210154
Ayuga Siska Indriyani          : 1320210165
Nur Handayani                      : 1320210156

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KUDUS
JURUSAN SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM / EKONOMI SYARI’AH
TAHUN 2013/2014




BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manajemen pada dasarnya merupakan proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan perencanaan pengorganisasian pengarahan dan pengendalian yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. Sejalan dengan itu maka manajemen produksi dan operasi merupakan proses pengambilan keputusan didalam usaha untuk menghasilkan barang atau jasa sehingga dapat sasaran yang berupa tepat waktu, tepat mutu, tepat jumlah dengan biaya yang efisien, oleh karena itu manajemen produksi dan operasi mengkaji pengambilan keputusan dalam fungsi produksi dan operasi.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dan sistem operasi?
2.      Jelaskan desain sistem produksi!
3.      Apa saja kegiatan perencanaan dan keputusan operasi?
4.      Bagaimana memilih lokasi, rancangan dan tata letak operasi?
5.      Jelaskan pengawasan produksi?
C.     Tujuan Penulisan
§  Melatih mahasiswa menyusun makalah yang baik dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pengetahuan dan kreatifitas mahasiswa.
§  Agar mahasiswa lebih memahami pokok pembahasan khusunya pada bab manajemen produksi atau operasi.







BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN  DAN SISTEM OPERASI
            Operasi merupakan rangkaian kegiatan yang terdiri dari pengadaan input produk, melakukan transformasi atau proses produksi untuk menghasilkan output berupa barang atau jasa berdasarkan strategi bisnis serta disesuaikan dengan perubahan lingkungan.
1.      Penentuan lokasi perusahaan
Penentuan lokasi perusahaan ada 2 :
a)      Lokasi bisnis manufakturing
Bisnis manufakturing adalah bisnis yang menghasilkan barang dalam suatu operasinya untuk dijual kepada konsumen.
Penentuan lokasinya berdasarkan pada biaya angkut bahan baku dan atau barang jadi yang paling murah dibanding alternatif lainnya.
Model-model perhitungannya dapat dilakukan sebagai berikut:
1)      Dasar perhitungan kuantitatif
Jika pabriknya tunggal dan pasar sekelompok
Dengan metode volum Rate-Volume-Distance
            Lokasi perusahaan ditentukan pada daerah yang perhitungan biaya angkut dari tarif, volume, dan jarak yang paling rendah.
            Menghitung biaya  angkut bahan baku dan barang jadi dilakukan dengan rumus sebagai berikut:

Cost (C) = ∑ Ri.Vi.Di

C= biaya angkut
Ri = tarif biaya angkut
Vi = volume yang diangkut
Di = jarak angkut
 Dengan perbandingan biaya operasi
Memilih lokasi perusahaan dapat dilakukan dengan memperhitungkan biaya operasi total antar – alternatif lokasi, kemudan diperbandingkan dan dipilih alternatif lokasi dengan biaya operasi paling rendah
Weighted score
Dalam metode ini akan diperbandingkan antar alternatif lokasi perusahaan dengan memberikan score angka untuk masing-masing variabel pada alternatif lokasi. Hal ini akan mengandung subjectifitas yang tinggi.
Jika pabriknya lebih dari satu dan pasarnya juga lebih dari satu kelompok.
            Metode yang di pakai adalah memilih salah satu dari metode: stepping stone, MoDi, Vogel’s.
            Prinsip dalam metode  ini adalah perbandingan biaya angkut barang jadi dari beberapa perusahaan kebeberapa lokasi pasar. Karena kompleksnya perhitungan maka dapat digunakan matrik sebagai alat bantunya dan simpulannya akan dipilih lokasi perusahaan yang biaya angkutnya paling rendah dari yang lain.
2)       Pendekatan kualitatif
Lokasi perusahaan ditentukan karena pertimbangan khusus yang di dasasrkan pada logika atau citra daerah.
Misalnya beberapa hal mengenai penentuan lokasi:
a.       Lokasi dekat bahan baku (pabrik semen, minyak)
Alasannya jika di anaslisis hasilnya akan seperti logika tersebut.
Sebab untuk bahan alam yang kandungan semen dan atau minyak akan bercampur dengan tanah atau lumpur sebagai residu yang biaya angkutnya mahal.
b.      Lokasi dekat pasar atau tenaga kerja (elektronik)
Alasannya karena biaya angkut komponen yang masih mengelompok akan lebih murah dibanding barang jadi yang bentuknya sangat membutuhkan tempat
c.       Lokasi pada pertimbangan historis /citra (rokok)
Alasannya agar tercipta image dari masyarakat bahwa produk tersebut di buat di daerah dimana tenaga kerja mampu membuat produk yang berkualitas.
b)       Lokasi bisnis jasa
Bisnis jasa yang didatangi konsumen prinsip lokasinya adalah strategis, karena tidak ada biaya angkut, sehingga akan memudahkan konsumen untuk mencari, mendatanginya.
Bisnis jasa yang mendatangi konsumen seperti cleaning service atau lainnya, lokasi tidak harus strategis tetapi perlu dikomunikasikan kepada konsumen mengenai alamat atau sarana komunikasinya.
2.       Penentuan standar
Standar kerja yang harus ditetapkan meliputi:
Ø  Standar kualitas
Standar mengenai kualitas barang atau jasa yang dihasilkan, dapat dilakukan standar per atribut dari barang atau jasa. Untuk menjamin kualitas barang perlu pengendalian mutu terpadu. Standar kualitas ini mencakup rencana, proses produksi, monitoring dan tindak lanjut.
Ø  Standar kuantitas
Standar mengenai jumlah barang yang harus dibuat dalam suatu periode waktu tertentu.
Ø  Standar waktu proses
Standar waktu yang dibutuhkan untuk proses produksi yang normal
Ø  Standar produktivitas
Standar mengenai rasio antara output dari proses produksi dan input yang digunakan.


3.      Perencanaan jumlah produksi
Perkiraan jumlah produk yang dibuat diwaktu yang akan datang dapat dilakukan beberapa cara antara lain:
v  Perhitungan forecast produksi
Forecast produksi didasarkan pada forecast penjualan perusahaan. Forecast penjualan dapat dilakukan dengan metode statistik (trend linear/trend non-linear) dan metode pendapat (judgment).
Pendalaman hal ini ada diteknik proyeksi bisnis.
Besarnya forecast produksi dirumuskan:
Forecast produksi = forecast penjualan + persediaan akhir – persediaan awal
v  Dari dasar perhitungan BEP (unit)
BEP ( break Even Point ) adalah suatu keadaan pada titik atau jumlah penjualan itu per usahaan tidak laba dan tidak rugi yang berarti total biaya ( total cost ) sama dengan total pendapatan ( total revenue ) jumlah produk di buat harus lebih besar dari unit terjual pada BEP.
Rumus BEP linier dalam satuan unit barang (Q) sebagai berikut :
TR = TC sehingga dijabarkan :
Q.P/u = FC + VC/u.Q
Q ( P/u – VC/u ) = FC maka (Q)BEP =                         FC
                                                                                    P/u – VC/u
TR= Total Revenue, TC= total Cost, VC= Variabel Cost, FC = Fixed Cost, P/u = Price perunit, VC/u = Variabel cost perunit, Q = Quantity
Rumus BEP linear diatas mempunyai asumsi bahwa:
·           Biaya dapat dipisah menjadi biaya tetap dan variabel.
·          Harga jual dan biaya variabel perunit dalam periode perhitungan selalu tetap.
·          Semua produksi terjual habis sehingga kuantitas penjualan sama dengan produksi.

4.      Pengelolaan kegiatan operasi
ü  Pengaturan bahan baku
Pengaturan bahan baku dilakukan dengan mengefisiensikan biaya pemesanan dan penyimpanan yang akan dikeluarkan dalam satu periode dengan penerapan metode EOQ jika asumsinya dapat dipenuhi. Sedangkan untuk efisiensi biaya penyimpanan ekstra (extra carrying cost) dan pengganti bahan baku (stock out cost) dipergunakan metode ROP (re order point).
Metode EOQ dan ROP memiliki asumsi yang sama yaitu: 
a.       Bahan baku selalu tersedia pada leveransir.
b.      Pola produksi yang stabil dalam perusahaan.
c.       Tarif biaya pesan dan simpan selalu tetap dalam satu periode.
d.      Bahan baku yang dibeli tidak rusak akibat disimpan.
e.       Perusahaan memiliki gudang.
Perhitungan jumlah bahan baku yang harus dibeli agar biaya yang dikeluarkan efisiensi dicari dengan rumus EOQ sebagai berikut:
Rumus EOQ =
Keterangan :
R= kebutuhan bahan baku selama satu periode perhitungan
O= biaya pesan setiap kali
C= biaya simpan dalam gudang persatuan bahan baku
Jika asumsi tersebut tidak dipenuhi secara keseluruhan maka rumus EOQ tersebut tidak berlaku.
ü  Pengaturan proses produksi atau operasi
a.       Proses produksi diatur, sesuai dengan keinginan dan keadaan perusahaan, memilih dari berbagai alternatif proses produksi sebagai berikut:
1.      Proses produksi arus ada 2 jenis:
·         Proses produksi terus menerus
Proses produksi yang di lakukan terus menerus sejumlah tertentu kemudian dismpan dalam gudang, disalurkan kepenyalur dan di jual ke konsumen.
·         Proses produksi terputus-putus
Proses produksi yang dilakukan hanya dalam waktu-waktu tertentu saja pada saat harus diproduksi
2.      Proses produksi pelayanan :
·         Produksi dengan setandar
Proses produksi yang di dasarkan pada standar perusahaan. Standar tersebut di desain dari informasi konsumen. Konsumen membeli sebagaimana barang yang distandardisasi tersebut.
·         Produksi menurut pesanan
Proses produksi dilakukan untuk membuat barang sebagaimana yang dipesan oleh konsumen. Jadi bentuknya tidak distandardisasi tetapi sangat bervariasi.
b.      Sifat atau teknis produksi
Teknis produksi pada perusahaan manufaktur ada beberapa jenis:
a)      Proses ekstraktif
Merupakan proses produksi yang hanya mengambil dari alam dan sudah menjadi produk akhir, misal emas, batu bara, dan sebagainya.
b)      Proses analitis
Merupakan kejadian produksi  yang memisah-misahkan bahan alam menjadi produk akhir, misal minyak, semen dan sebagainya.
c)      Proses sintesis
Merupakan kegiatan produksi dengan mencampur bahan-bahan kemudian diolah menjadi produk akhir, misal makanan, minuman, obat-obatan dan sebagainya.
d)     Proses pengubahan
Yaitu kegiatan produksi dengan mengubah bahan menjadi produk akhir misalnya mebelair, elektronik dan sebagainya.
5.      Pengawasaan kegiatan produksi
Pengawasaan dalam kegiatan produksi perlu di lakukan yaitu pada kegiatan perencanaan atau desainnya, proses produksinya, monitoringnya maupun tindak lanjut dari monitoring itu. Jika itu dilaksnakan semua maka disebut pengawasan terpadu sehingga menjamin produk akhir akan memenuhi stadar yang diinginkan.
1)      Hal-hal yang di awasi
Pengawasan dilakukan pada seluruh aspek kegiatan yang berkaitan dengan produksi, meliputi:
a.       Pada kegiatan proses produksi atau operasi
b.      Pada kualitas produk atau jasa yang dihasilkan.
c.       Pada biaya produksi atau operasi yang dikeluarkan
d.      Pada tenaga kerja yang melakukan kegiatan produksi
2)      Waktu pengawasan
Pengawasan dilakukan pada berbagai waktu dari aktivitas produksi meliputi :
a.       Pada saat proses menentukan disain atau rancangan produk
b.      Pada saat pelaksanaan proses produksi
c.       Pada aktivitas monitoringnya
d.      Pada akhir proses produksi
3)      Cara pengawasan
Pengawasan terhadap produk
a)      Dengan sertifikasi
Sertifikasi terhadap produk dapat dilakukan dengan mengupayakan sertifikat  berdasarkan Standar Industri (misal SII), berdasarkan standar Asosiasi dan sebagainya.
b)      Dengan chart untuk produk yang rusak (P. Chart )
Menurut cara ini, maka selalu dimonitor produk yang rusak atau cacat dalam proses produksi. Dibuat standar yaitu batas atas adalah sebesar rerata barang rusak di tambah di tambah dengan satu standar deviasi dan batas bawah adalah rerata barang rusak di kurangi satu standar deviasi.
c)      Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mengendalikan kualitas produk terhadap unsur kimiawinya yang terkandung. Apakah barang yang dihasilkan di atas atau dibawah standar yang di tetapkan.
d)     Penilaian dari pendapat konsumen
Pendapat konsumen didapat dari survei kepada konsumen dengan mengadakan daftar pernyataan untuk dijawab mengenai kualitas produk atau jasa yang di hasilkan.

Pengawasan terhadap produksi
1.      Dengan penerapan Gugus Kendali Mutu (GKM)
Gugus kendali mutu adalah model pengawasan proses produksi dengan membentuk gugus yang terdiri dari 3 sampai 8 orang yang pekerjaannya sejenis, secara rutin dengan kesadaran sendiri selalu mengawasi pekerjaannya dan jika dapat permasalahan dalam pekerjaannya kemudian di cari penyelesaiannya saat itu juga.
2.      Perolehan sertifikasi ISO
Sertifikasi ISO diberikan pada perusahaan yang memenuhi standar organisasi ISO pada perencanaannya atau proses produksinya atau pengawasannya atau pada tindak lanjutnya. Jadi ada audit aktivitas dari internal maupun eksternal.
Pengawasan terhadap tenaga kerja
1.      Dengan standar produktivitas
Pengawasan ini dilakukan dengan membandingkan antara kinerja para tenaga kerja dengan standar yang ditetapkan sebelumnya.
2.      Waskat atau pengawasan terhadap bawahannya langsung dan waskal yaitu pengawasan yang ditugaskan pada unit tertentu.
Pengawasan terhadap biaya produksi
Dengan management Qontrol Systems atau sistem pengendalian Manajemen. Caranya dengan selalu membandingkan antara anggaran atau standar yang lain dengan realita pembelajaran dibagian produksi.
6.      Standar Produktivitas (PRODUCTIVITY)
1)      Tantangan penciptaan productivity
a.       Pertumbuhan perusahaan menjadi bisnis internasional, amat sulit untuk dapat menciptakan tingkat produktivitas standar sesuai dengan peasing.
b.      Pada perusahaan domestic amat berat untuk dapat menciptakan domistic productivity.
2)      Ukuran productivity
Productivity dapat diukur baik secara total maupun partial atau bagian-bagiannya.
Ukuran productivity antara lain tersebut sebagai berikut:
a.       Total Factor productivity
Masing-masing dapat diukur kemudian dijadikan standar dijadikan standar untuk diberbandingkan dengan produktivitas realita perusahaan atau dibandingkan dengan para pesaingnya. Dari perbanding itu akan dapat diketaui apakah kinerjannya diatas produktivitas standar atau di bawahnya. Hal ini akan menciptakan adannya tindak lanjutkan dari manajemen.
B.     DESAIN SISTEM PRODUKSI
a.       Konsep dasar sistem produksi
Pada dasarnya sistem produksi adalah proses transformasi input menjadi output, atau dengan kata lain produksi adalah sebuah proses mengubah input menjadi output. Berdasarkan pengertian ini, sistem produksi memiliki tiga komponen utama yaitu: Masukan (input), Keluaran (output) , dan proses (processes), atau dessler (2004) menyebutnya sebagai proses konversi. Ketiga komponen ini dapat dilihat dalam gambar berikut:

Masukan                            Konversi                                  Keluaran
·         Bahan baku
·         Tenaga kerja
·         Informasi pasar
·         Kebutuhan konsumen
·         Kebutuhan pemilik perusahaan
·         Modal
·         Mesin
·         Transportasi
·         Prosedur
·         Teknologi
·         Sistem produksi
·         Proses produksi
·         Pengelolaan Mesin
·         Monitoring pegawai

Keluaran langsung
·         Barang
·         Jasa

Keluaran tidak langsung
·         Gaji
·         Dampak lingkungan
·         Dampak sosial
 














 Masukan dapat berupa bahan baku, tenaga kerja, modal, maupun informasi yang dibutuhkan untuk proses produksi. Proses konversi bisa berupa sistem produksi yang digunakan, monitoring pegawai, maupun teknologi transportasi yang digunakan dalam rangkaian proses produksi yang dilakukan. Adapun keluaran dari proses konversi dapat berupa keluaran langsung yaitu berupa barang dan jasa yang dibutuhkan oleh konsumen, maupun keluaran tidak langsung yang dapat berupa pembayaran gaji atau upah kepadatenaga kerja, limbah produksi yang memberikan dampak lingkungan, dan lain lain.


b.      Empat elemen dalam desain sistem produksi
 Mulai Sebagaimana dikemukakan oleh dessler (2004) terdapat empat elemen mendasar dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan desain sistem produksi, yaitu:
1.      Lokasi produksi (plan location)
Keputusan mengenai lokasi produksi merupakan keputusan yang penting bagi manajemen operasi, sekaligus juga bagi bisnis yang dijalankan oleh perusahaan.
Terdapat dua kriteria yang dapat digunakan dalam menetukan lokasi produksi, yaitu kriteria subjektif dan kriteria objektif.
Kriteria subjektif  lebih mendasarkan keputusan lokasi produksi berdasarkan pertimbangan subjektif pemilik perusahaan.
Kriteria objektif yaitu mempertimbangkan berbagai faktor yang akan mendukung tercapainya keberhasilan bisnis perusahaan.
2.      Tipe proses produksi
Keputusan mengenai proses produksi seperti apa yang akan dgunakan, menjadi keputusan kedua yang  penting dalam melakukan desain sistem produksi.
Secara garis besar terdapat dua jenis sistem produksi yaitu sistem produksi intermiten dan sistem produksi yang berkelanjutan.
Sistem produksi intermitan adalah sistem produksi dimana pengelolaan kegiatan produksi bersifat tidak terus menerus atau berkelanjutan, dan menggunakan pola mulai sampai selesai. Terdapat dua jenis pola produksi yang menggunakan sistem intermiten ini, produksi masal dan pilihan masal. Produksi masal umumnya berlaku padaperusahaan manufaktur. Produksi dilakukan melalui standar produksi tertentu, prosedur tertentu, dan jumlah unit produk tertentu yang secara rutin diproduksi untuk kemudian ditawarkan kepada konsumen. Pilihan masal artinya bahwa produk yang dhasilkan oleh perusahaan memberikan keleluasaan kepada konsumen untuk memilih sesuai dengan selera dan daya belinya masing masing.
Sistem produksi yang berkelanjutan adalah sistem produksi dimana pengelolaan kegiatan produksi bersifat terus menerus dan untuk jangka waktu yang relatif panjang.
Selain tipe produksi dibagi menjadi intermiten dan terus menerus, tipe produksi juga dapat dibagi menjadi sintetis dan analitis.
Tipe produksi sintetis adalah proses produksi yang menghasilkan satu jenis produk dari berbagai jenis bahan baku atau faktor input.
Tipe produksi analitis adalah proses produksi yang menghasilkan beberapa jenis produk dari satu jenis bahan baku atau faktor input.

3.      Rancanga rumah produksi
Rumah produksi disini adalah tempat dimana kegiatan produksi dijalankan. Rumah produksi dapat berupa kantor, pabrik, maupun berbagai jenis tempat lainnya. Termasuk kedalam rumah produksi ini adalah berbagai fasilitas yang terdapat didalamnya. Keputusan mengenai desain rumah produksi artinya keputusan yang menyangkut bagaimana perusahaan mendesain tempat produksi, dari mulai fasilitas, pekerja, gudang, dan lain lain tergantung jenis perusahaannya.
4.      Rancangan sistem produksi
Perusahaan perlu merancang sistem produksi yang paling sesuai dengan jenis bisnis yang dijalankannya, terdapat 4 jenis rancangan dalam sistem produksi yaitu:
·         Rancangan produk, adalah rancangan sistem produksi yang bersifat berkesinambungan dari awal hingga akhir dan mengikuti satu pola proses produksi.
·         Rancangan proses yaitu rancangan sistem produksi yang proses produksinya mengikuti jenis proses yang harus dilakukan, dan tidak selalu harus mengikuti seluruh proses yang ada.
·         Rencangan posisi tetap, adalah sistem produksi dimana produk yang akan dibuat diletakkan disuatu tempat, dan berbagai fasilitas seperti mesin, alat produksi, tenaga kerja dari mulai teknisi dan tenaga ahli, mengerjakan proses pengerjaannya ditempat tersebut.
·         Rancangan sistem modular, adalah sistem produksi yang dibangun dalam sebuah sel produksi atau pola produksi tertentu yang dapat mengurangi penggunaan bahan baku, sumber daya maupun pergerakan tenaga kerja, atau juga untuk memperbaiki sistem kerja, sistem modular ini dapat dikatakan merupakan gabungan antara rancangan produk dan rancangan proses.

C.     KEGIATAN PERENCANAAN DAN KEPUTUSAN OPERASI

1.      Kegiatan Perencanaan Operasi
Kegiatannya meliputi:
a.       Penentuan strategi operasi
b.      Analisis dan penentuan lokasi perusahaan
c.       Riset dan pengembangan produk atau jasa
d.      Melakukan perencanaan jumlah produksi
e.       Penentuan luas dan pola produksi
f.       Perencanaan layout mesin
g.      Job design
h.      Penentuan standar
2.      Keputusan Operasi
Pengambilan keputusan merupakan tema pokok dalam operasi perusahaan.
Macam-macam keputusan operasi :
a.       Keputusan berkaitan dengan proses
Keputusan mengenai proses, termasuk proses fisik, berkenaan dengan fasilitas yang akan dipakai untuk memproduksi barang atau jasa. Keputusan mengenai hal ini harus benar benar diperhitungkan secara matang karena pada umumya akan terus dipakai dalam jangkawaktu yang panjang dan tidak mudah diubah-ubah, terlebih bila menyangut investasi yang cukup besar.
b.      Keputusan berkaitan dengan kapasitas
Keputusan mengenai kapasitas diperlukan untuk menghasilkan jumlah produk yang tepat ditempat yang tepat dan dalam waktu yang tepat pula. Perencanaan kapasitas tidak hanya menyangkut besarnya fasilitas, tapi juga menyangkut jumlah orang yang dibutuhkan dalam pengoperasiaannya.
c.       Keputusan berkaitan dengan sediaan
Keputusan berkaitan dengan sediaan ini mencakup apa yang akan dipesan, berapa banyak, dan kapan dipesan. Sistem pengendalian sediaan dipakai untuk mengatur bahan-bahan mulai dari pembeliannya sebagai bahan mentah, proses pembuatan, sampai menjadi bahan jadi. Manajer sediaan memutuskan berapa banyak barang yang akan disimpan sebagai sediaan, dimana penyimpanannya, dan hal hal lain yang berhubungan dengan sediaan. Mereka mengelola arus barang dalam perusahaannya.
d.      Keputusan berkaitan dengan tenaga kerja
Keputusan berkaitan dengan tenaga kerja mencakup bagaimana rekrutment dilakukan, proses seleksi diselesaikan, pelatihan dan pengembangan, supervisi, kompensasi, dan PHK. Pengelolaan tenaga kerja agar bisa bekerja secara produktif tapi tetap manusiawi adalah kunci keberhasilan dari bagian operasi.
e.       Keputusan berkaitan dengan mutu
Salah satu fungsi terpenting dari bagian operasi adalah bertanggung jawab atas mutu barang atau jasa yang dihasilkan karena akan mempengaruhi organisasi secara luas, keputusan yang menyangkut penentuan mutu produk ini harus selalu menjadi orientasi bersama dalam setiap proses operasi.

D.    MEMILIH LOKASI, RANCANGAN DAN TATA LETAK OPERASI
Memilih lokasi adalah sebuah keputusan penting dalam manajemen produksi untuk sebuah pabrik atau kantor. Lokasi akan banyak mempengaruhi biaya produksi dan kemampuan bersaing perusahaan itu dengan perusahaan lain. Pilihan lokasi juga dapat menentukan penghasilan karena jika produk dijual dilokasi hal ini akan mempengaruhi permintaan terhadap produk.
a.       Faktor yang mempengaruhi pilihan lokasi
·         Biaya ruang kerja
Biaya untuk membeli ruang kerja seperti gedung atau kantor dapat berbeda dari satu lokasi kelokasi lain. Biaya ruang kerja kemungkinan akan makin tinggi semakin dekat letaknya kepusat bisnis dimana biaya tanah mahal.
·         Biaya tenaga kerja
Biaya untuk menggaji karyawan bervariasi antar lokasi. Gaji dikota cenderung lebih tinngi daripada diluar kota untuk jenis pekerjaan tertentu.


·         Insentif pajak
Beberapa pemerintah daerah bersedia menawarkan kredit pajak untuk menarik perusahaan kedaerah mereka. Insentif ini diberikan untuk menambah lapangan kerja dan memperbaiki ondisi ekonomi didaerah itu
·         Sumber permintaan
Jika perusahaan berencana untuk menjual produknya dilokasi tertentu, perusahaan itu mungkin menetapkan lokasinya disitu. Biaya transportasi dan jasa produk dapat dikurangi dengan memproduksi dilokasi yang dekat dengan sumber permintaan.
·         Akses ke transportasi
Apabila perusahaan menjual produknya di seluruh negeri, mereka akan memilih lokasi dekat sumber utama transportasinya. Mereka juga harus mudah dicapai agar dapat menerima bahan baku yang dikirimkan kepadanya.
·         Ketersediaan tenaga kerja
·         Perusahaan yang merencanakan untuk menyewa pekerja spesialis harus dapat menarik tenaga kerja yang diperlukan. Mereka dapat memilih lokasi diman banyak terdapat tenaga kerja dengan keahlian khusus yang diperlukan. Misalnya perusahaan teknologi tinggi cenderung memilih tempat dekat universitas dimana terdapat banyak tenaga kerja berpendidikan cukup.
b.      Rancangan dan tata letak
Setelah lokasi untuk pabrik atau kantor dipilih rancangan dan tata letak harus ditentukan. Rancangan menunjukkan ukuran dan struktur pabrik atau kantor. Tataletak adalah pengaturan mesin dan perlengkapan didalam pabrik atau kantor.
            Keputusan mengenai rancangan dan tata letak mempengaruhi biaya operasi secara langsung karena keputusan ini menentukan harga sewa, mesin, perlengkapan. Hal ini dapat berpengaruh pula pada pengeluaran untuk bunga karena mempengaruhi jumlah pinjaman untuk membeli properti atau mesin.


Faktor-faktor yang mempengaruhi rancangan dan tata letak
Keputusan untuk rancangan dan tata letak dipengaruhi oleh karakteristik berikut:
·         Karakteristik lokasi
·         Proses produksi
·         Jenis produk
·         Kapasitas produksi yang diinginkan

E.     PENGAWASAN PRODUKSI
Setelah pabrik dan rancangan di pilih, perusahaan dapat melakukan pengawasan produksi yang meliputi hal-hal  berikut:
a)      Pembelian bahan baku
Para manajer melakukan tugas-tugas berikut ketika membeli persediaan bahan. Pertama mereka harus memilih pemasok. Kedua mereka mencoba mendapatkan potongan harga menurut volume. Ketiga mereka harus menentukan apakah akan menyerahkan beberapa tugas produksi ke pemasok.
b)      Pengawasan persediaan
Pengawasan persediaan adalah proses mengelola persediaan pada tingkat yang meminimalkan biaya. Pengawasan persediaan memerlukan manajemen persediaan bahan baku, persediaan pekerjaan yang berlangsung, dan persediaan barang jadi seperti dijelaskan dibawah ini:
Ø  Pengawasan persediaan bahan baku
Apabila perusahaan kelebihan stok bahan baku,mereka mungkin perlu meminjam lebih banyak dana lagi untuk membiayai persediaan ini.Hal ini akan meningkatkan apa yang disebut biaya pemeliharaan.Biaya pemeliharaan termasuk biaya pendanaan maupun biaya penyimpanan atau asuransi barang persediaan tersebut.Meskipun perusahaan berupaya mengurangi biaya pemeliharaan dengan sering memesan bahan baku dalam jumlah kecil,strategi ini menambah biaya untuk memesan (biaya pemesanan).Setiap penyesuaian strategi pembelian bahan baku biasanya akan mengurangi biaya pemeliharaan,namun menambah biaya pemesanan atau sebaliknya.
Ø  Pengawasan persediaan work in process
Perusahaan harus dapat pula mengelola persediaan barang yang sedang dikerjakan,yangmerupakan persediaan produk yang baru sebagian selesai.Kekurangan dalam ketiga jenis persediaan harus dihindari. Akibat langsung dari kekurangan persediaan bahan baku atau persediaan work-in-process adalah terhentinya produksi, sedangkan akibat langsung dari kekurangan barang jadi adalah batalnya penjualan. Kekurangan persediaan produk jadi mungkin disebabkan oleh kekurangan persediaan bahan baku atau persediaan work-in-procces.
Ø  Pengawasan persediaan barang jadi
Jika permintaan terhadap produk perusahaan suatu saat berubah, paramanajer perlu memantau perbedaan dalam penawaran-permintaan yang diharapkan. Jika diantisipasi persediaan berlebih dari satu produk, perusahaan dapat menghindari persediaan berlebih dengan mengalihkan sumber dayanya kearah produk lain. Jika diantisipasi permintaan akan naik, perusahaan perlu memikirkan akan kekurangan produk dan harus mengembangkan strategi untuk meningkatkan volume produksi. Mungkin dijadwalkan kerja lemburuntuk karyawan atau menyewa pegawai baru untuk mendapatkan tingkatproduksi yang lebih tinggi. Apabila perkiraan permintaan terlalu rendah, perusahaan mungkin tidak memproduksi jumlah yang cukup untuk memenuhi semua pelanggan.
c)      Routing
Routing ialah urutan atau rute tugas yang perlu untuk menghasilkan sebuah produk bahan baku biasanya dikirim ke masing masing pos kerjaagar dapat dipakai sesuai spesifikasi proses produksi. Bagian tertentu dari proses produksi diselesaikan disetiap pos kerja.
d)     Penjadwalan
Penjadwalan adalah tindakan menetapkan periode waktu untuk setiap tugas dalam proses produksi. Jadwal produksi adalah rencana untuk timing dan volume tugas produksi. Penjadwalan penting karena menetapkan jumlah produksi yang harus dicapai disetiap pos kerja selama jumlah hari atau minggu tertentu. Maka setiap karyawan mengetahui apa yang diharapkan, selain itu jadwal ini memungkinkan manajer memperkirakan jumlah yang akan dihasilkan setiap hari, minggu, atau bulan.

Pengawasan kualitas
Kualitas didefinisakan sebagai derajat dimana barang atau jasa memuaskan persyaratan atau harapan pelanggan.
Kualitas berhubungan dengan kepuasan pelanggan yang dapat mempengaruhi penjualan dimasa depan dan oleh karena itu mempengaruhi kinerja perusahaan dimasa mendatang. Maka perusahaan semakin mengakui dampak yang ditimbulkan oleh kualitas barang atau jasa terhadap keseluruhan kinerja.
      Pengawasan kualitas merupakan proses untuk menentukan apakah kualitas barang atau jasa memenuhi tingkat kualitas yang diharapkan dan mengidentifikasi perbaikan jika ada yang perlu dilakukan pada proses produksi. Kualitas dapat diukur dengan menilai berbagai karakteristik (seperti beberapa lama produk itu bertahan) yang meningkatkan kepuasan pelanggan. Kualitas sebenarnya dari produk dapat dibandingkan dengan tingkat kualitas yang diinginkan untuk menentukan apakah kualitas perlu diperbaiki.







BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Operasi merupakan rangkaian kegiatan yang terdiri dari pengadaan input produk, melakukan transformasi atau proses produksi untuk menghasilkan output berupa barang atau jasa berdasarkan strategi bisnis serta disesuaikan dengan perubahan lingkungan.
Sistem produksi adalah proses transformasi input menjadi output, atau dengan kata lain produksi adalah sebuah proses mengubah input menjadi output. Berdasarkan pengertian ini, sistem produksi memiliki tiga komponen utama yaitu: Masukan (input), Keluaran (output) , dan proses (processes).
Memilih lokasi adalah sebuah keputusan penting dalam manajemen produksi untuk sebuah pabrik atau kantor. Rancangan menunjukkan ukuran dan struktur pabrik atau kantor. Tataletak adalah pengaturan mesin dan perlengkapan didalam pabrik atau kantor.
Setelah pabrik dan rancangan di pilih, perusahaan dapat melakukan pengawasan produksi yang meliputi Pembelian bahan baku, pengawasan persediaan routing, penjadwalan dan pengawasan kualitas.












Daftar Pustaka

Madura, jeff.2001.Pengantar Bisnis, Buku 1. Edisi 1. Jakarta:Salemba Empat

Basri. 2005. Bisnis Pengantar, Edisi 1. Yogyakarta: BPFE
Yusanto, MI dan W.,MK.2002. Menggagas Bisnis Islami, Jakarta: Gema Insani

Ernie TS dan Kurniawan S.2005. Pengantar Manajemen, Edisi 1. Jakarta: Kencana



Tidak ada komentar:

Posting Komentar