Rabu, 24 Februari 2016

Judul penelitian : PENGARUH KOMUNIKASI DAN ETIKA KERJA ISLAM TERHADAP KINERJA KARYAWAN KANTIN STAIN KUDUS



ERMA MUFTIA NIHAYATIN
1320210154


1.      Judul penelitian : PENGARUH KOMUNIKASI DAN ETIKA KERJA ISLAM TERHADAP KINERJA KARYAWAN KANTIN STAIN KUDUS

2.      Latar Belakang Masalah:
            Dewasa ini telah banyak organisasi yang berdiri dan berkembang sukses baik dalam skala kecil maupun besar. Organisasi sendiri tersebut merupakan suatu alat dimana orang-orang mempersatukan kecakapan dan usaha mereka untuk mencapai tujuan bersama. Usaha pencapaian tujuan itu dapat dilaksanakan melalui koordinasi dan dalam melaksanakan fungsinya dilakukan melalui proses komunikasi.
            Komunikasi merupakan kegiatan terpenting dalam kehidupan manusia karena komunikasi memiliki kemampuan menjembatani seluruh kepentingan manusia baik individu maupun sebagai bagian dari komunitasnya. Seluruh interaksi manusia dengan lingkungannya menggunakan jasa komunikasi untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai, program kerja yang harus dilaksanakan dan keputusan yang harus dilaksanakan, kesemuanya memiliki hubungan baik antara individu maupun antar satuan kerja.
            Dengan kata lain manusia sebagai anggota organisasi yang mutlak perlu berkomunikasi satu sama lain, jika komunikasi dalam organisasi berjalan dengan lancar dan baik maka maksud dan tujuan organisasi sangat mungkin dipahami oleh seluruh anggotanya. Dengan kata lain berkomunikasi berfungsi sebagai media yang dapat digunakan oleh seluruh anggota organisasi dalam menyampaikan kegiatannya. Masing-masing terhadap pihak lain yang terlibat dengan maksud untuk membentuk suatu kesepakatan bersama guna mencapai tujuan yang diinginkan. [1]
            Komunikasi merupakan sarana untuk mengadakan koordinasi antara berbagai subsistem dalam organisasi. Kompetensi komunikasi yang baik antara pimpinan dan karyawan akan mampu memperoleh dan mengembangkan tugas yang diembannya, sehingga tingkat kinerja suatu organisasi menjadi semakin baik dan sebaliknya manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan sesamanya. Dalam kehidupannya manusia sering dipertemukan satu sama lainnya dalam suatu wadah baik formal maupun informal.[2]
            Meskipun dengan adanya komunikasi yang baik antara pimpinan dan karyawan yang berada dalam suatu organisasi, tidak ketinggalan juga dalam konsep ekonomi Islam, manusia memiliki peranan penting sebagai pelaku ekonomi mereka tetap menjadikan prinsip moral dalam sumber hukum sebagai etika bisnis, sebagai basis yang harus dipegang dan dijalankan seseorang atau kelompok dalam melakukan efektifitasnya.
            Dalam pandangan Islam manusia adalah mahkluk Allah yang paling mulia. Untuk membedakan dengan makhluk lainnya, manusia dikarunia akal dan hati nurani yang mempunyai kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Di samping itu, Allah juga mengaruniakan kepada manusia suatu pedoman etika moral yang lengkap dalam bentuk Al-Qur’an. Salah satunya adalah sebagai Al-Furqon, dimana di dalamnya kebaikan dan keburukan bisa dilihat dengan jelas dan transparan.
            Manusia diperintahkan untuk berperilaku sesuai dengan etika moral , guideline (petunjuk) yang ada di dalam Al-Qur’an[3]. Termasuk di dalam bisnispun juga harus memperhatikan etika sesuai dengan syari’at Islam. Tidak seperti pandangan kaum liberalis yang beranggapan bahwa setiap urusan bisnis tidak dikenal adanya etika sebagai kerangka acuan sehingga dalam pandangan mereka kegiatan bisnis adalah amoral[4], mereka menganggap bisnis adalah bisnis tidak ada hubungannya dengan etika. interpretasi hukum didalamnya didasarkan pada nilai-nilai standar kontemporer yang seringkali berbeda-beda, sedangkan dalam masyarakat Islam nilai-nilai dan standar tersebut dituntun oleh ajaran syari’at dan kumpulan fatwa fiqih.
            Etika dibutuhkan dalam bekerja ketika manusia mulai menyadari bahwa kemajuan dalam bidang bisnis telah menyebabkan manusia semakin tersisih dari nilai-nilai kemanusiaan (humanistik), dalam persaingan bisnis yang ketat perusahaan yang unggul bukan hanya perusahaan yang memiliki kriteria bisnis yang baik, melainkan juga perusahaan mempunyai etika bisnis yang baik.[5]
            Dari latar belakang diatas dapat dijelaskan, bahwa dalam peningkatan kinerja karyawan selain dipengaruhi oleh faktor-faktor motivasi, budaya organisasi, loyalitas, gaji. Kinerja juga dipengaruhi faktor-faktor lain yakni komunikasi dan etika kerja Islam dalam meningkatkan kinerja karyawan karena dengan komunikasi yang baik antara pemimpin dan karyawan sehingga menimbulkan suatu kekompakan dalam menjalankan suatu kegiatan yang dilakukan dalam usaha kantin tersebut, dan tidak ketinggalan pula sistem yang dilaksanakan dengan mengedepankan norma-norma syariat yaitu dengan etika kerja yang Islami, karena dengan etika kerja yang baik akan menimbulkan suatu kemaslahatan.
            Penelitian sebelumnya diantaranya Penelitian Neny Ayu Permatasari yang berjudul “Pengaruh Komunikasi Dalam Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan Melalui Kepuasan Kerja (Studi Kasus Pada Karyawan Bagian Produksi Pabrik Kertas Cv Setia Kawan Tulungagung)” yang mengupas dari sisi kepuasan kerja karyawan.
            Penelitian lainnya yakni Penelitian Sri Widodo yang berjudul “Pengaruh Komunikasi Dan Partisipasi Anggota Terhadap Keberhasilan Koperasi Unit Desa Mlati” yang mengacu pada hasilnya. Dan yang membedakan dengan penelitian ini adalah peneliti mengambil sudut pandang dari sosialnya, yaitu hubungan antara pemilik sebagai atasan dengan karyawan
            Dari uraian diatas penulis ingin mengadakan suatu penelitian tentang ”pengaruh komunikasi dan etika kerja islami terhadap kinerja karyawan di kantin Stain Kudus”.


3.      Rumusan Masalah
a.       Bagaimana pengaruh Komunikasi terhadap kinerja karyawan dikantin Stain Kudus ?
b.      Bagaimana pengaruh Etika Kerja Islam terhadap kinerja karyawan ?

4.      Tujuan penelitian
a.       Untuk mengetahui bagaimana pengaruh komunikasi terhadap kinerja karyawan.
b.      Untuk mengetahui bagaimana pengaruh etika kerja Islam terhadap kinerja karyawan.

5.      Manfaat penelitian
            Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah bukti empiris tentang pengaruh komunikasi dan etika kerja Islam terhadap kinerja karyawan kantin di Stain Kudus dan sebagai acuan yang mungkin dapat digunakan untuk penelitian-penelitian dimasa yang akan datang.

6.      Kerangka teori
a.       Komunikasi
      Kata komunikasi berasal dari bahasa latin “communicatun”atau communication atau communicare yang berarti “berbagi” atau “menjadi milik bersama”. Dengan demikian, kata komunikasi menurut kamus bahasa mengacu pada suatu upaya yang bertujuan untuk mencapai kebersamaan[6]. Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia. Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan Steward(1998:16) mengenai komunikasi manusia. Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain.
      Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu, yaitu:
1)      Komunikator (siapa yang mengatakan?)
2)      Pesan (mengatakan apa?)
3)      Media (melalui saluran/ channel/media apa?)
4)      Komunikan (kepada siapa?)
5)      Efek (dengan dampak/efek apa?).
     Jadi berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, secara sederhana proses komunikasi adalah pihak komunikator membentuk (encode) pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran tertentu kepada pihak penerima yang menimbulkan efek tertentu[7]. Komunikasi merupakan suatu aktivitas dasar manusia.
     Pentingnya komunikasi bagi manusia tidaklah dapat dipungkiri begitu juga halnya bagi suatu organisasi. Dengan adanya komunikasi yang baik suatu organisasi dapat berjalan lancar dan berhasil dan begitu pula sebaliknya, kurangnya atau tidak adanya komunikasi organisasi dapat mengakibatkan macet atau berantakan.
     Komunikasi tidak hanya sebatas pada pengenalan namun juga pertanggungjawaban mengenai pekerjaan yang dilakukan bawahan kepada pimpinan, menyalurkan buah pikiran / ide, dan penyampaian pengetahuan. Komunikasi dalam ruang lingkup yang kecil adalah komunikasi antar individu, komunikasi keluarga dan lingkup yang lebih besar adalah komunikasi organisasi, Negara dan Internasional. Dengan komunikasi maksud / misi komunikator diharapkan diterima oleh komunikan sehingga ada tanggapan / timbal balik. maka dapat diambil kesimpulan bahwa komunikasi adalah sejauh mana informasi (Ide, Gagasan, Laporan, intruksi, dan pengetahuan) yang menentukan jumlah umpan balik yang diterima dan dipahami oleh karyawan BMT. Oleh karena itu dalam mengukur komunikasi dapat digunakan indikasi-indikasi sebagai berikut:
1)      Frekuensi pemberian informasi, pengetahuan dan gagasan.
            Komunikasi memandang frekuensi pemberian informasi, pengetahuan dan gagasan adalah sebagian dari hak-hak karyawan untuk mendapatkan informasi pengetahuan tentang kerjaan apa yang akan dilakukan karyawan dari pimpinan demi terciptanya kinerja yang efektif
2)      Tingkat keaktifan memberikan bimbingan dan penyuluhan
            Komunikasi memandang tingkat keaktifan memberikan bimbingan dan penyuluhan adalah Bagaimana BMT memberikan penyuluhan dan bimbingan terhadap karyawan supaya karyawan tersebut bisa lebih produktif dalam kinerjanya.
3)      Tingkat keaktifan Pengurus terhadap saran dan usul
            Tingkat keaktifan pengurus terhadap saran dan usul adalah untuk mengaktifkan suatu transparansi antara pengurus satu dengan yang lainnya supaya bisa berbagi dan tukar pendapat tentang informasi penting dengan seluruh anggota untuk bagaimana memajukan perusahaan.
4)      Tingkat keaktifan pemantauan dari Dewan Pengawas Syari’ah
            Tingkat keaktifan pemantauan dari Dewan Pengawas Syari’ah ditekankan untuk mengawasi jalannya operasionalisasi bank sehari-hari, agar sesuai dengan ketentuan syari’ah dan juga meneliti dan merekomendasi produk baru dari BMT yang diawasinya.
b.      Etika Kerja Islam
      Etika berasal dari bahasa Yunani, ethikos yang mempunyaiberagam arti; pertama, sebagai analisis konsep-konsep mengenai apa yang harus, mesti, tugas, aturan-aturan moral, benar-salah, wajib, tanggung jawab, dan lain-lain. Kedua, pencarian ke dalam watak moralitas atau tindakan-tindakan moral. Ketiga, pencarian kehidupan yang baik secara moral.
      Etika pada umumnya didefinisikan sebagai suatu usaha yang sistematis dengan  menggunakan rasio untuk menafsirkan pengalaman moral individual dan sosial sehingga, dapat menetapkan aturan untuk mengendalikan perilaku manusia serta nilai-nilai yang berbobot untuk dapat dijadikan sasaran dalam hidup.[8]
      Triyuwono mengemukakan etika terekspresikan dalam bentuk Syari’ah, yang terdiri dari Al Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Didasarkan pada sifat keadilan, Etika Syari’ah bagi umat Islam berfungsi sebagai sumber untuk membedakan mana yang benar (haq) dan yang buruk (bathil). Dengan menggunakan Syari’ah, bukan hanya membawa individu lebih dekat dengan Tuhan, tetapi juga memfasilitasi terbentuknya masyarakat secara adil yang di dalamnya tercakup individu dimana mampu merealisasikan potensinya dan kesejahteraan yang diperuntukkan bagi semua umat.
      Etika merupakan alasan-alasan rasional tentang semua tindakan manusia dalam semua aspek kehidupannya. Sementara itu etika kerja Islam muncul ke permukaan, dengan landasan bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Islam merupakan kumpulan aturan-aturan ajaran (doktrin) dan nilai-nilai yang dapat menghantarkan manusia dalam kehidupannya menuju tujuan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Etika juga termasuk bidang ilmu yang bersifat normatif, karena berperan menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan oleh seorang individu.
      Dari beberapa pengertian di atas, definisi operasional etika adalah sebagai alat yang digunakan untuk menilai (mengukur) baik atau buruk suatu tindakan yang dilakukan seseorang, berdasarkan akal pikiran (rasional). Etika yang Islami tidak hanya menggunakan rasio dalam menilai perbuatan, tetapi juga didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadits. Sehingga tindakan yang dinilai Etika Islam adalah berdasarkan akal pikiran yang sesuai dengan ajaran Syari’at Islam.
      Istilah lain yang terkait dengan Etika adalah Etos. Kata etos berasal dari bahasa Yunani (ethos) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter serta keyakinan atas sesuatu. Etos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh budaya, serta sistem nilai yang diyakininya.
      Dari definisi tersebut, ada hal yang membedakan antara etos dan etika. Etos sangat terkait kepada kerja keras, ketekunan, loyalitas, komunikasi, cara pengambilan keputusan, sikap, perilaku, dedikasi, dan disiplin tinggi untuk menciptakan nilai tambah organisasi. Sedangkan etika sangat terkait dengan etos kerja yang memperhatikan aspek moral, etika, keadilan, dan integritas dalam menciptakan nilai tambah organisasi. [9]
      Pengertian kerja dalam Islam dapat dibagi dalam dua bagian. Pertama, kerja dalam arti luas (umum), yakni semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi atau non materi, intelektual atau fisik, maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah keduniaan atau akhirat. Jadi dalam pandangan Islam pengertian kerja. sangat luas, mencakup seluruh pengerahan potensi yang dimiliki oleh manusia. Kedua, kerja dalam arti sempit (khusus), yakni memenuhi tuntutan hidup manusia berupa makanan, pakaian, dan tempat tinggal (sandang, pangan dan papan) yang merupakan kewajiban bagi setiap orang yang harus ditunaikannya, untuk menentukan tingkatan derajatnya, baik di mata manusia, maupun dimata Allah SWT.
      Dalam melakukan setiap pekerjaan, aspek etika merupakan hal mendasar yang harus selalu diperhatikan. Seperti bekerja dengan baik, didasari iman dan taqwa, sikap baik budi, jujur dan amanah, kuat, kesesuaian upah, tidak menipu, tidak merampas, tidak mengabaikan sesuatu, tidak semena-mena (proporsional), ahli dan professional, serta tidak melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan hukum Allah atau
Syariat Islam (Al-Quran dan Hadits)[10]
      Pekerjaan merupakan sebuah tugas yang menyerupai kewajiban yang dilakukan oleh individu saat dibutuhkan. Di sisi lain makna bekerja bagi seorang muslim adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh, dengan mengerahkan seluruh aset, pikir dan dzikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khairu ummah). [11]
      Etika kerja merupakan acuan yang dipakai oleh suatu individu atau perusahaan sebagai pedoman dalam melaksanakan aktivitas bisnisnya, agar kegiatan yang mereka lakukan tidak merugikan individu atau lembaga yang lain. Dan di dalam Lembaga Keuangan yang berbasis Syari’ah acuan yang digunakan dalam menerapkan etika kerjanya adalah berdasarkan Al Qur’an dan Hadits.
      Etika kerja yang Islami adalah serangkaian aktiviatas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah kepemilikan hartanya (barang/jasa), namun dibatasi dalam cara memperolehnya dan pendayagunaan hartanya karena aturan halal dan haram. Etika kerja dalam Syari’at Islam adalah akhlak dalam menjalankan bisnis sesuai dengan nilai-nilai Islam, sehingga dalam melaksanakan bisnisnya tidak perlu ada kehawatiran, sebab sudah diyakini sebagai suatu yang baik dan benar.[12]
      Dalam penelitian ini penulis menggunakan teori etika kerja Islam yang dikemukakan oleh Dr. Mustaq Ahmad, yang mengatakan bahwa seorang pelaku bisnis diharuskan untuk berperilaku dalam bisnis mereka sesuai dengan apa yang dianjurkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pada batasan ini beliau merangkum tata krama perilaku bisnis itu ke dalam tiga garis besar, yaitu: 1. Murah hati, 2. Motivasi untuk berbakti dan 3. Ingat Allah dan Prioritas utama-Nya.
a)      Murah hati
            Murah hati dalam pengertian senantiasa bersikap ramah tamah, sopan santun, murah senyum, suka mengalah namun tetap penuh tanggung jawab. Sikap seperti itulah yang nanti akan menjadi magnet tersendiri bagi seorang pebisnis atau pedagang yang akan dapat menarik pembeli (pelanggan).[13]
            Sopan santun adalah pondasi dasar dan inti dari kebaikan tingkah laku. Sifat ini sangat dihargai dengan nilai yang tinggi, dan mencakup semua sisi hidup manusia. Allah memerintahkan orang Muslim untuk selalu rendah hati dan bersikap lemah lembut.
b)      Motivasi untuk berbakti
            Di dalam aktivitas bisnis, seorang muslim hendaknya berniat untuk memberikan pengabdian yang diharapkan oleh masyarakatnya dan manusia secara keseluruhan. Aktivitasnya jangan semata-mata ditunjukkan untuk “mengasah kapaknya sendiri” dan tidak juga semata-mata untuk memenuhi peti simpanannya. Etika bisnis Al-Qur’an mengharuskan pelakunya untuk memberikan perhatian pada kepentingan orang lain, yang karena alasan tertentu tidak mampu melindungi dan memproteksi kepentingan dirinya sendiri.[14]

c)      Ingat Allah dan Prioritas utama-Nya
            Seorang Muslim diperintahkan untuk selalu mengingat Allah, bahkan dalam suasana sedang sibuk dalam aktivitas mereka. Dia hendaknya sadar penuh dan responsif terhadap prioritasprioritas yang telah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta. Kesadaran akan Allah ini, hendaknya menjadi sebuah kekuatan pemicu (driving force) dalam segala tindakannya.[15]
            Semua kegiatan bisnis hendaknya selaras dengan moralitas dan nilai-nilai utama yang digariskan oleh Al-Qur’an. Kaum muslimin diperintahkan untuk mencari kebahagiaan akhirat dengan cara menggunakan nikmat yang telah Allah karuniakan padanya dengan jalan yang sebaik-baiknya. Walaupun Islam menyatakan bahwasannya berbisnis merupakan pekerjaan halal, namun pada tataran yang sama Islam juga mengingatkan secara eksplisit bahwasannya semua kegiatan bisnis jangan sampai menghalangi mereka untuk selalu ingat pada Allah dan melanggar rambu-rambu perintah-Nya, karena tujuan manusia diciptakan hanya untuk tunduk kepada Allah,[16]
c.       Kinerja Karyawan
        Istilah kinerja berasal dari kata job performance dan actual performance yang berarti prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang. Kinerja dapat diartikan sebagai hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam organisasi, sesuai wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika.
        Byars (1984), mengartikan kinerja sebagai hasil dari usaha seseorang yang dicapai dengan adanya kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu. Jadi bisa dikatakan prestasi kerja merupakan hasil keterikatan antara usaha, kemampuan dan persepsi tugas. Usaha merupakan hasil motivasi yang menunjukkan jumlah energi (fisik atau mental) yang digunakan oleh individu dalam menjalankan suatu tugas.
        Robbins (1996), mengatakan kinerja merupakan suatu hasil yang dicapai oleh pekerja dalam pekerjaannya menurut kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan. Menurut Bacal (1999) mendefinisikan dengan proses komunikasi yang berkesinambungan dan dilakukan dalam kemitraan antara seorang karyawan dan atasan langsungnya.
        Kinerja diukur dengan instrumen yang dikembangkan dalam studi yang tergabung dalam ukuran kinerja secara umum, kemudian diterjemahkan ke dalam penilaian perilaku secara mendasar, meliputi:
1)      Kuantitas kerja, yaitu jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode waktu yang telah ditentukan.
2)      Kualitas kerja, yaitu kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syaratsyarat kesesuaian dan kesiapannya.
3)      Pengetahuan tentang pekerjaan, yaitu luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan ketrampilan.
4)      Pendapat atau pernyataan yang disampaikan, yaitu keaktifan menyampaikan pendapat di dalam rapat.
5)      Perencanaan kerja, yaitu kegiatan yang dirancang sebelum melaksanakan aktifitas pekerjaannya.

7.      Metode Penelitian
a.       Hipotesis
Hipotesis merupakan kesimpulan teoritis atau sementara dalam penelitian. Dengan hipotesis, penelitian menjadi jelas searah pengujiannya. Adapun Hipotesis dalam penelitihan ini adalah:
1)      Ada pengaruh positif antara komunikasi terhadap kinerja karyawan
2)      Ada pengaruh positif antara etika kerja Islam terhadap kinerja karyawan
3)      Ada pengaruh positif antara komunikasi dan etika kerja islam terhadap kinerja karyawan.


b.      Jenis dan Sumber Data Penelitian
      Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian kuantitatif, karena data yang diperoleh nantinya berupa angka. Dari angka yang diperoleh akan dianalisis lebih lanjut dalam analisis data.
      Setiap penelitian ilmiah memerlukan data dalam memecahkan masalah yang di hadapinya.Data harus diperoleh dari sumber data yang valid, agar data yang terkumpul relevan dengan masalah yang diteliti, sehingga tidak menimbulkan kekeliruan dalam penyusunan interpretasi dan kesimpulan.Untuk memperoleh data yang bersifat akurat, dalam penelitian ini peneliti menggunakan data primer.
     Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan pengambilan data langsung pada sumber obyek sebagai sumber informasi yang dicari.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah karyawan dan pemilik dari Kantin di Stain kudus.

c.       Metode pengumpulan data
Metode pengumpulan data sangat berpengaruh sekali dalam hasil penelitian. Karena pemilihan metode pengumpulan data yang tepat akan diperoleh data yang relevan, dan akurat Dalam teknik pengumpulan data peneliti menggunakan tiga metode,
1)      Wawancara  (interview). Wawancara adalah salah satu teknik pengumpulan data yang akurat untuk keperluan proses pemecahan masalah tertentu, yang sesuai dengan data. Pencarian data dengan teknik ini dapat di lakukan dengan cara tanya jawab secara lisan dan bertatap muka langsung antara seorang atau beberapa orang pewawancara dengan seorang atau beberapa orang yang di wawancarai. Wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan salah satu karyawan yaitu dengan Is, Anggraini dan Ika selaku karyawan dikantin tersebut dan bu Sunoko sebagai pemilik. Dalam metode wawancara ditetapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan.Teknik ini digunakan untuk responden yang memiliki populasi yang diberikan pertanyaan yang sama, sehingga diketahui informasi atau data yang penting.
2)      Observasi (pengamatan), adalah tehnik yang dilakukan secara langsung dan pencatatan secara otomatis terhadap fenomena yang diselidiki.Karena penelitian yang dilakukan adalah termasuk jenis penelitian kualitatif, maka observasi yang penulis lakukan dalam penelitian ini adalah observasi terus terang.Dalam hal ini, peneliti dalam melakukan pengumpulan data menyatakan terus terang kepada sumber data bahwa peneliti sedang melakukan penelitian.Penulis juga menggunakan observasi partisipasif, yaitu peneliti datang di tempat penelitian tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan di tempat penelitian. (Sugiyono, 2006:312)
Metode ini digunakan untuk mencari data atau informasi mengenai komunikasi dan etika bisnis yang terjadi di kantin tersebut.
3)      Dokumentasi merupakan metode pengumpulan  data mengenai hal-hal yang berupa catatan. Menurut Sugiyono (2006:62) menyatakan: dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan interview. Penggunaan metode dokumentasi ini untuk memperkuat dan mendukung informasi-informasi yang didapatkan dari hasil observasi dan interview.

d.      Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi merujuk pada sekumpulan orang atau objek yang memiliki kesamaan dalam satu atau beberapa hal yang membentuk masalah pokok dalam suatu penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan yang bekerja di kantin stain kudus yaitu sejumlah 3 karyawan. Penentuan jenis populasi ini didasarkan atas layanan bahwa yang akan di uji adalah persepsi karyawan mengenai pengaruh komunikasi dan etika kerja Islam terhadap kinerja karyawan. Berhubung karyawan dikantin hanya 3 orang maka yang menjadi subyek penelitian adalah semuanya.

8.      Analisis

Komunikasi

Komunikasi sangat diperlukan dalam tercapainya suatu hubungan dengan baik. Entah itu hubungan karyawan dengan atasan maupun komunikasi antara karyawan dengan karyawan yang lain. Memang komunikasi tidak bisa diukur secara langsung, namun komunikasi dapat tersirat dengan diliperhatikannya hubungan dengan orang lain.
Didalam kantin stain kudus komunikasi yang dilakukan sudah cukup baik. Saat ada pekerjaan mereka tidak berlebihan melakukan komunikasi, dalam arti  komunikasi yang dilakukan hanya sebatas pekerjaan yang dilakukan. Hal ini termasuk dalam kategori komunikasi yang baik. Karena komunikasinya adalah berhubungan dengan pekerjaan mereka dan tidak mencampur adukkan dengan urusah lain yang terjadi diluar pekerjaan.
Karyawan disini menyadari kapan waktunya bekerja dan kapan ada waktu luangnya, sehingga mereka bisa menyadari kapan waktu dimana mereka berkomunikasi dengan hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan mereka.

Etika
Etika juga merupakan hal yang penting karena etika merupakan bukti bahwa mereka saling menghormati antara yang satu dengan yang lain. Euntuk menciptakan suatu suasana kerja yang baik perlu dilakukannya etika yang baik juga. Karyawan harus tau bagaimana tatacara berkomunikasi, tatacara menghormati atasannya. Begitupun dengan atasan harus tau bagaimana keadaan karyawannya.
Dari hasil pengujian yang dilakukan terbukti bahwa komunikasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan.komunikasi merupakan faktor yang diperhitungkan dalam menjaga kinerja karyawan. Dari hasil pengujian yang dilakukan terbukti komunikasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja karyawan di kantin stain kudus.
Dalam pekerjaan distain kudus, etika yang dilakukan juga sudah baik. Dalam berkomunikasi dengan atasan karyawan menggunakan bahasa yang baik yaitu berupa bahasa jawa krama inggil yang berarti adanya penghormataan bagi atasan. Begitupun atasannya menggunakan pengertian yang baik dengan karyawannya. Contohya jika ada suatu pekerjaan yang lain tassan ingin menyuruh karyawannya maka atasan tersebut melihat dulu apakah karyawannya sedang  sibuk atau tidak. Kalo sedang sibuk maka sebisa mungkin atasan terebut mengatur mana yang perlu diprioritaskan dilakukan dan yang mana yang hendaknya dapat diundur pelaksanaannya.
Karyawan disini juga menghormati atasannya dengan bertingkah laku yang baik. karena kantin tersebut berada dikalangan anak kampus yang memang latar belakangnya adalah hal yang mengerti tentang agama, maka busana yang dipakainya juga busana yang memenuhi kriteria agama seharusnya. Walaupun kantin tidak menyediakan seragam khusus seharusnya karyawan bisa emilih bagaimana pakaian yang seharusnya ia kenakan. Disinilah yang tampaknya tidak sesuai, kadangkala karyawan disini menggunakan pakaian yang tidak memenuhi kriteria agama islam. Misalnya memakai busana yang ketat dan tipis. Ini memang seharusnya tidak terjadi karena kantin tersebut dilingkungan orang yang paham agama.
9.      Kesimpulan
a.       Komunikasi yang terjadi berjalan dengan lancar
b.      Etika yang terjadi juga lancar
10.  Penutup
Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kekuatan, hidayah dan taufik-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. shalawat serta salam semoga tatap tercurah kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW yang kita harapkan syafa’atnya kelak di hari kiamat.
Penulis menyadari meskipun dalam penulisan penelitian ini telah berusaha semaksimal mungkin, namun dalam penulisan ini tidak lepas dari kesalahan dan kekeliruan. Hal itu semata-mata merupakan keterbatsan ilmu dan kemampuan yang penulis miliki. Oleh karena itu, penulis mengharapka saran dan kritik yang konstruktif dari berbagai pihak demi perbaikan yang akan datang untuk mencapai kesempurnaan.
Akhirnya penulis hanya berharap semoga penelitian ini dapat menambah khazanah keilmuan, bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Amiin.








[1] Karya ilmiah, Pengaruh Komunikasi Internal Terhadap Motivasi Kerja Pegawai di Pusat
Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal (P2-PNFI) Regional 1 Bandung. Hal 4
[2] Muhammad Arni, komunikasi organisasi, PT bumi aksara, Jakarta, hal. 1
[3] Mustaq Ahmad, Etika Bisnis dalam Islam, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, hal. 27
[4] Kuat ismanto, Manajemen Syari’ah Implementasi TQM Dalam Lembaga Keuangan
Syariah, Pustaka belajar, Yogyakarta, 2009, hal.41.
[5] Redi Panuju, Etika Bisnis Tinjauan Empiris Dan Kiat Mengembangkan Bisnis Sehat, PT Grasindo, Jakarta, 1995, hal.7
[6] Riswandi, ilmu komunikasi, Graha ilmu, Yogyakarta, 2009, hal. 1
[7]Riswandi, Ibid, hal. 3
[8] O.P. Simorangkir, Etika Bisnis, Jabatan dan Perbankan,  PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2003, hal. 3
[9] Toto Tasmara, Membudayakan Etos Kerja Islami, Gema Insani Press, Jakarta, 2002, hal. l5
[10] http://spesialis-torch.com
[11] Toto Tasmara, op. Cit, hal. l5
[12] Ali Hasan, manajemen Bisnis Syari’ah Kaya di Dunia Terhormat di Akhirat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,  2009, hal. 171
[13] Mustaq Ahmad, Etika Bisnis dalam Islam, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta,  2001, hal. 109
[14] Mustaq Ahmad, Ibid, hal. 112-113
[15] Ali Hasan, op. Cit, hal. 187
[16]Ali Hasan, Ibid, hal. 22

Tidak ada komentar:

Posting Komentar