ERMA MUFTIA NIHAYATIN
1320210154
1.
Judul
penelitian : PENGARUH KOMUNIKASI DAN ETIKA KERJA ISLAM TERHADAP KINERJA
KARYAWAN KANTIN STAIN KUDUS
2.
Latar
Belakang Masalah:
Dewasa ini telah banyak organisasi
yang berdiri dan berkembang sukses baik dalam skala kecil maupun besar.
Organisasi sendiri tersebut merupakan suatu alat dimana orang-orang
mempersatukan kecakapan dan usaha mereka untuk mencapai tujuan bersama. Usaha
pencapaian tujuan itu dapat dilaksanakan melalui koordinasi dan dalam
melaksanakan fungsinya dilakukan melalui proses komunikasi.
Komunikasi merupakan kegiatan terpenting
dalam kehidupan manusia karena komunikasi memiliki kemampuan menjembatani
seluruh kepentingan manusia baik individu maupun sebagai bagian dari
komunitasnya. Seluruh interaksi manusia dengan lingkungannya menggunakan jasa
komunikasi untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai, program kerja yang harus
dilaksanakan dan keputusan yang harus dilaksanakan, kesemuanya memiliki
hubungan baik antara individu maupun antar satuan kerja.
Dengan kata lain manusia sebagai
anggota organisasi yang mutlak perlu berkomunikasi satu sama lain, jika
komunikasi dalam organisasi berjalan dengan lancar dan baik maka maksud dan
tujuan organisasi sangat mungkin dipahami oleh seluruh anggotanya. Dengan kata
lain berkomunikasi berfungsi sebagai media yang dapat digunakan oleh seluruh
anggota organisasi dalam menyampaikan kegiatannya. Masing-masing terhadap pihak
lain yang terlibat dengan maksud untuk membentuk suatu kesepakatan bersama guna
mencapai tujuan yang diinginkan. [1]
Komunikasi merupakan sarana untuk
mengadakan koordinasi antara berbagai subsistem dalam organisasi. Kompetensi
komunikasi yang baik antara pimpinan dan karyawan akan mampu memperoleh dan mengembangkan
tugas yang diembannya, sehingga tingkat kinerja suatu organisasi menjadi
semakin baik dan sebaliknya manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi,
artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk
saling berinteraksi. Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa sebagian besar
pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan sesamanya. Dalam
kehidupannya manusia sering dipertemukan satu sama lainnya dalam suatu wadah
baik formal maupun informal.[2]
Meskipun dengan adanya komunikasi
yang baik antara pimpinan dan karyawan yang berada dalam suatu organisasi,
tidak ketinggalan juga dalam konsep ekonomi Islam, manusia memiliki peranan
penting sebagai pelaku ekonomi mereka tetap menjadikan prinsip moral dalam
sumber hukum sebagai etika bisnis, sebagai basis yang harus dipegang dan
dijalankan seseorang atau kelompok dalam melakukan efektifitasnya.
Dalam pandangan Islam manusia adalah
mahkluk Allah yang paling mulia. Untuk membedakan dengan makhluk lainnya,
manusia dikarunia akal dan hati nurani yang mempunyai kemampuan untuk membedakan
mana yang baik dan mana yang buruk. Di samping itu, Allah juga mengaruniakan
kepada manusia suatu pedoman etika moral yang lengkap dalam bentuk Al-Qur’an.
Salah satunya adalah sebagai Al-Furqon, dimana di dalamnya kebaikan dan
keburukan bisa dilihat dengan jelas dan transparan.
Manusia diperintahkan untuk
berperilaku sesuai dengan etika moral , guideline (petunjuk) yang ada di
dalam Al-Qur’an[3].
Termasuk di dalam bisnispun juga harus memperhatikan etika sesuai dengan
syari’at Islam. Tidak seperti pandangan kaum liberalis yang beranggapan bahwa setiap
urusan bisnis tidak dikenal adanya etika sebagai kerangka acuan sehingga dalam
pandangan mereka kegiatan bisnis adalah amoral[4],
mereka menganggap bisnis adalah bisnis tidak ada hubungannya dengan etika.
interpretasi hukum didalamnya didasarkan pada nilai-nilai standar kontemporer
yang seringkali berbeda-beda, sedangkan dalam masyarakat Islam nilai-nilai dan
standar tersebut dituntun oleh ajaran syari’at dan kumpulan fatwa fiqih.
Etika dibutuhkan dalam bekerja
ketika manusia mulai menyadari bahwa kemajuan dalam bidang bisnis telah
menyebabkan manusia semakin tersisih dari nilai-nilai kemanusiaan (humanistik),
dalam persaingan bisnis yang ketat perusahaan yang unggul bukan hanya
perusahaan yang memiliki kriteria bisnis yang baik, melainkan juga perusahaan
mempunyai etika bisnis yang baik.[5]
Dari latar belakang diatas dapat
dijelaskan, bahwa dalam peningkatan kinerja karyawan selain dipengaruhi oleh
faktor-faktor motivasi, budaya organisasi, loyalitas, gaji. Kinerja juga
dipengaruhi faktor-faktor lain yakni komunikasi dan etika kerja Islam dalam
meningkatkan kinerja karyawan karena dengan komunikasi yang baik antara
pemimpin dan karyawan sehingga menimbulkan suatu kekompakan dalam menjalankan
suatu kegiatan yang dilakukan dalam usaha kantin tersebut, dan tidak
ketinggalan pula sistem yang dilaksanakan dengan mengedepankan norma-norma
syariat yaitu dengan etika kerja yang Islami, karena dengan etika kerja yang
baik akan menimbulkan suatu kemaslahatan.
Penelitian sebelumnya diantaranya
Penelitian Neny Ayu Permatasari yang berjudul “Pengaruh Komunikasi Dalam
Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan Melalui Kepuasan Kerja (Studi Kasus Pada
Karyawan Bagian Produksi Pabrik Kertas Cv Setia Kawan Tulungagung)” yang
mengupas dari sisi kepuasan kerja karyawan.
Penelitian lainnya yakni Penelitian
Sri Widodo yang berjudul “Pengaruh Komunikasi Dan Partisipasi Anggota
Terhadap Keberhasilan Koperasi Unit Desa Mlati” yang mengacu pada hasilnya.
Dan yang membedakan dengan penelitian ini adalah peneliti mengambil sudut
pandang dari sosialnya, yaitu hubungan antara pemilik sebagai atasan dengan
karyawan
Dari uraian diatas penulis ingin
mengadakan suatu penelitian tentang ”pengaruh komunikasi dan etika kerja islami
terhadap kinerja karyawan di kantin Stain Kudus”.
3.
Rumusan
Masalah
a.
Bagaimana
pengaruh Komunikasi terhadap kinerja karyawan dikantin Stain Kudus ?
b.
Bagaimana
pengaruh Etika Kerja Islam terhadap kinerja karyawan ?
4.
Tujuan
penelitian
a. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh komunikasi terhadap kinerja
karyawan.
b. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh etika kerja Islam terhadap
kinerja karyawan.
5.
Manfaat
penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat
bermanfaat untuk menambah bukti empiris tentang pengaruh komunikasi dan etika
kerja Islam terhadap kinerja karyawan kantin di Stain Kudus dan sebagai acuan
yang mungkin dapat digunakan untuk penelitian-penelitian dimasa yang akan
datang.
6.
Kerangka
teori
a. Komunikasi
Kata komunikasi berasal
dari bahasa latin “communicatun”atau communication atau communicare
yang berarti “berbagi” atau “menjadi milik bersama”. Dengan demikian, kata
komunikasi menurut kamus bahasa mengacu pada suatu upaya yang bertujuan untuk
mencapai kebersamaan[6]. Komunikasi
secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan
oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam
komunikasi adalah manusia. Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan
Steward(1998:16) mengenai komunikasi manusia. Bahwa komunikasi manusia adalah
proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok,
organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi
dengan lingkungan satu sama lain.
Paradigma Lasswell di
atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari
pertanyaan yang diajukan itu, yaitu:
1)
Komunikator
(siapa yang mengatakan?)
2)
Pesan
(mengatakan apa?)
3)
Media
(melalui saluran/ channel/media apa?)
4)
Komunikan
(kepada siapa?)
5)
Efek
(dengan dampak/efek apa?).
Jadi berdasarkan
paradigma Lasswell tersebut, secara sederhana proses komunikasi adalah pihak
komunikator membentuk (encode) pesan dan menyampaikannya melalui suatu
saluran tertentu kepada pihak penerima yang menimbulkan efek tertentu[7].
Komunikasi merupakan suatu aktivitas dasar manusia.
Pentingnya komunikasi
bagi manusia tidaklah dapat dipungkiri begitu juga halnya bagi suatu
organisasi. Dengan adanya komunikasi yang baik suatu organisasi dapat berjalan
lancar dan berhasil dan begitu pula sebaliknya, kurangnya atau tidak adanya komunikasi
organisasi dapat mengakibatkan macet atau berantakan.
Komunikasi tidak hanya
sebatas pada pengenalan namun juga pertanggungjawaban mengenai pekerjaan yang
dilakukan bawahan kepada pimpinan, menyalurkan buah pikiran / ide, dan
penyampaian pengetahuan. Komunikasi dalam ruang lingkup yang kecil adalah
komunikasi antar individu, komunikasi keluarga dan lingkup yang lebih besar
adalah komunikasi organisasi, Negara dan Internasional. Dengan komunikasi
maksud / misi komunikator diharapkan diterima oleh komunikan sehingga ada
tanggapan / timbal balik. maka dapat diambil kesimpulan bahwa komunikasi adalah
sejauh mana informasi (Ide, Gagasan, Laporan, intruksi, dan pengetahuan) yang
menentukan jumlah umpan balik yang diterima dan dipahami oleh karyawan BMT. Oleh
karena itu dalam mengukur komunikasi dapat digunakan indikasi-indikasi sebagai
berikut:
1)
Frekuensi
pemberian informasi, pengetahuan dan gagasan.
Komunikasi
memandang frekuensi pemberian informasi, pengetahuan dan gagasan adalah
sebagian dari hak-hak karyawan untuk mendapatkan informasi pengetahuan tentang
kerjaan apa yang akan dilakukan karyawan dari pimpinan demi terciptanya kinerja
yang efektif
2)
Tingkat
keaktifan memberikan bimbingan dan penyuluhan
Komunikasi
memandang tingkat keaktifan memberikan bimbingan dan penyuluhan adalah
Bagaimana BMT memberikan penyuluhan dan bimbingan terhadap karyawan supaya
karyawan tersebut bisa lebih produktif dalam kinerjanya.
3)
Tingkat
keaktifan Pengurus terhadap saran dan usul
Tingkat keaktifan
pengurus terhadap saran dan usul adalah untuk mengaktifkan suatu transparansi
antara pengurus satu dengan yang lainnya supaya bisa berbagi dan tukar pendapat
tentang informasi penting dengan seluruh anggota untuk bagaimana memajukan
perusahaan.
4)
Tingkat
keaktifan pemantauan dari Dewan Pengawas Syari’ah
Tingkat keaktifan
pemantauan dari Dewan Pengawas Syari’ah ditekankan untuk mengawasi jalannya operasionalisasi
bank sehari-hari, agar sesuai dengan ketentuan syari’ah dan juga meneliti dan
merekomendasi produk baru dari BMT yang diawasinya.
b. Etika Kerja Islam
Etika berasal dari
bahasa Yunani, ethikos yang mempunyaiberagam arti; pertama,
sebagai analisis konsep-konsep mengenai apa yang harus, mesti, tugas,
aturan-aturan moral, benar-salah, wajib, tanggung jawab, dan lain-lain. Kedua,
pencarian ke dalam watak moralitas atau tindakan-tindakan moral. Ketiga,
pencarian kehidupan yang baik secara moral.
Etika pada umumnya
didefinisikan sebagai suatu usaha yang sistematis dengan menggunakan rasio untuk menafsirkan
pengalaman moral individual dan sosial sehingga, dapat menetapkan aturan untuk
mengendalikan perilaku manusia serta nilai-nilai yang berbobot untuk dapat
dijadikan sasaran dalam hidup.[8]
Triyuwono mengemukakan
etika terekspresikan dalam bentuk Syari’ah, yang terdiri dari Al Qur’an,
Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Didasarkan pada sifat keadilan, Etika Syari’ah bagi
umat Islam berfungsi sebagai sumber untuk membedakan mana yang benar (haq) dan
yang buruk (bathil). Dengan menggunakan Syari’ah, bukan hanya membawa individu
lebih dekat dengan Tuhan, tetapi juga memfasilitasi terbentuknya masyarakat
secara adil yang di dalamnya tercakup individu dimana mampu merealisasikan
potensinya dan kesejahteraan yang diperuntukkan bagi semua umat.
Etika merupakan
alasan-alasan rasional tentang semua tindakan manusia dalam semua aspek
kehidupannya. Sementara itu etika kerja Islam muncul ke permukaan, dengan
landasan bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Islam merupakan kumpulan
aturan-aturan ajaran (doktrin) dan nilai-nilai yang dapat menghantarkan manusia
dalam kehidupannya menuju tujuan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di
akhirat. Etika juga termasuk bidang ilmu yang bersifat normatif, karena
berperan menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan oleh
seorang individu.
Dari beberapa pengertian
di atas, definisi operasional etika adalah sebagai alat yang digunakan untuk
menilai (mengukur) baik atau buruk suatu tindakan yang dilakukan seseorang,
berdasarkan akal pikiran (rasional). Etika yang Islami tidak hanya menggunakan
rasio dalam menilai perbuatan, tetapi juga didasarkan pada Al-Qur’an dan
Hadits. Sehingga tindakan yang dinilai Etika Islam adalah berdasarkan akal pikiran
yang sesuai dengan ajaran Syari’at Islam.
Istilah lain yang
terkait dengan Etika adalah Etos. Kata etos berasal dari bahasa Yunani (ethos)
yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter serta keyakinan atas sesuatu.
Etos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh budaya, serta sistem nilai yang
diyakininya.
Dari definisi tersebut,
ada hal yang membedakan antara etos dan etika. Etos sangat terkait kepada kerja
keras, ketekunan, loyalitas, komunikasi, cara pengambilan keputusan, sikap,
perilaku, dedikasi, dan disiplin tinggi untuk menciptakan nilai tambah
organisasi. Sedangkan etika sangat terkait dengan etos kerja yang memperhatikan
aspek moral, etika, keadilan, dan integritas dalam menciptakan nilai tambah organisasi.
[9]
Pengertian kerja dalam
Islam dapat dibagi dalam dua bagian. Pertama, kerja dalam arti luas
(umum), yakni semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi
atau non materi, intelektual atau fisik, maupun hal-hal yang berkaitan dengan
masalah keduniaan atau akhirat. Jadi dalam pandangan Islam pengertian kerja. sangat
luas, mencakup seluruh pengerahan potensi yang dimiliki oleh manusia. Kedua,
kerja dalam arti sempit (khusus), yakni memenuhi tuntutan hidup manusia berupa
makanan, pakaian, dan tempat tinggal (sandang, pangan dan papan) yang merupakan
kewajiban bagi setiap orang yang harus ditunaikannya, untuk menentukan
tingkatan derajatnya, baik di mata manusia, maupun dimata Allah SWT.
Dalam melakukan setiap
pekerjaan, aspek etika merupakan hal mendasar yang harus selalu diperhatikan.
Seperti bekerja dengan baik, didasari iman dan taqwa, sikap baik budi, jujur
dan amanah, kuat, kesesuaian upah, tidak menipu, tidak merampas, tidak
mengabaikan sesuatu, tidak semena-mena (proporsional), ahli dan professional,
serta tidak melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan hukum Allah atau
Syariat Islam (Al-Quran dan Hadits)[10]
Pekerjaan merupakan
sebuah tugas yang menyerupai kewajiban yang dilakukan oleh individu saat
dibutuhkan. Di sisi lain makna bekerja bagi seorang muslim adalah suatu upaya
yang sungguh-sungguh, dengan mengerahkan seluruh aset, pikir dan dzikirnya
untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang
harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat
yang terbaik (khairu ummah). [11]
Etika kerja merupakan
acuan yang dipakai oleh suatu individu atau perusahaan sebagai pedoman dalam
melaksanakan aktivitas bisnisnya, agar kegiatan yang mereka lakukan tidak merugikan
individu atau lembaga yang lain. Dan di dalam Lembaga Keuangan yang berbasis
Syari’ah acuan yang digunakan dalam menerapkan etika kerjanya adalah
berdasarkan Al Qur’an dan Hadits.
Etika kerja yang Islami
adalah serangkaian aktiviatas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak
dibatasi jumlah kepemilikan hartanya (barang/jasa), namun dibatasi dalam cara
memperolehnya dan pendayagunaan hartanya karena aturan halal dan haram. Etika
kerja dalam Syari’at Islam adalah akhlak dalam menjalankan bisnis sesuai dengan
nilai-nilai Islam, sehingga dalam melaksanakan bisnisnya tidak perlu ada
kehawatiran, sebab sudah diyakini sebagai suatu yang baik dan benar.[12]
Dalam penelitian ini
penulis menggunakan teori etika kerja Islam yang dikemukakan oleh Dr. Mustaq
Ahmad, yang mengatakan bahwa seorang pelaku bisnis diharuskan untuk berperilaku
dalam bisnis mereka sesuai dengan apa yang dianjurkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Pada batasan ini beliau merangkum tata krama perilaku bisnis itu ke dalam tiga
garis besar, yaitu: 1. Murah hati, 2. Motivasi untuk berbakti dan 3. Ingat
Allah dan Prioritas utama-Nya.
a)
Murah
hati
Murah hati dalam pengertian
senantiasa bersikap ramah tamah, sopan santun, murah senyum, suka mengalah
namun tetap penuh tanggung jawab. Sikap seperti itulah yang nanti akan menjadi
magnet tersendiri bagi seorang pebisnis atau pedagang yang akan dapat menarik
pembeli (pelanggan).[13]
Sopan santun adalah pondasi dasar
dan inti dari kebaikan tingkah laku. Sifat ini sangat dihargai dengan nilai
yang tinggi, dan mencakup semua sisi hidup manusia. Allah memerintahkan orang Muslim
untuk selalu rendah hati dan bersikap lemah lembut.
b)
Motivasi
untuk berbakti
Di dalam aktivitas
bisnis, seorang muslim hendaknya berniat untuk memberikan pengabdian yang
diharapkan oleh masyarakatnya dan manusia secara keseluruhan. Aktivitasnya jangan
semata-mata ditunjukkan untuk “mengasah kapaknya sendiri” dan tidak juga
semata-mata untuk memenuhi peti simpanannya. Etika bisnis Al-Qur’an
mengharuskan pelakunya untuk memberikan perhatian pada kepentingan orang lain,
yang karena alasan tertentu tidak mampu melindungi dan memproteksi kepentingan
dirinya sendiri.[14]
c)
Ingat
Allah dan Prioritas utama-Nya
Seorang Muslim diperintahkan untuk
selalu mengingat Allah, bahkan dalam suasana sedang sibuk dalam aktivitas
mereka. Dia hendaknya sadar penuh dan responsif terhadap prioritasprioritas yang
telah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta. Kesadaran akan Allah ini, hendaknya
menjadi sebuah kekuatan pemicu (driving force) dalam segala tindakannya.[15]
Semua kegiatan bisnis hendaknya
selaras dengan moralitas dan nilai-nilai utama yang digariskan oleh Al-Qur’an.
Kaum muslimin diperintahkan untuk mencari kebahagiaan akhirat dengan cara
menggunakan nikmat yang telah Allah karuniakan padanya dengan jalan yang sebaik-baiknya.
Walaupun Islam menyatakan bahwasannya berbisnis merupakan pekerjaan halal,
namun pada tataran yang sama Islam juga mengingatkan secara eksplisit bahwasannya
semua kegiatan bisnis jangan sampai menghalangi mereka untuk selalu ingat pada Allah
dan melanggar rambu-rambu perintah-Nya, karena tujuan manusia diciptakan hanya
untuk tunduk kepada Allah,[16]
c.
Kinerja
Karyawan
Istilah kinerja berasal dari kata job
performance dan actual performance yang berarti prestasi kerja atau
prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang. Kinerja dapat diartikan sebagai
hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam
organisasi, sesuai wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka
mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan
sesuai dengan moral maupun etika.
Byars (1984), mengartikan kinerja
sebagai hasil dari usaha seseorang yang dicapai dengan adanya kemampuan dan
perbuatan dalam situasi tertentu. Jadi bisa dikatakan prestasi kerja merupakan
hasil keterikatan antara usaha, kemampuan dan persepsi tugas. Usaha merupakan
hasil motivasi yang menunjukkan jumlah energi (fisik atau mental) yang
digunakan oleh individu dalam menjalankan suatu tugas.
Robbins (1996), mengatakan kinerja merupakan
suatu hasil yang dicapai oleh pekerja dalam pekerjaannya menurut kriteria
tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan. Menurut Bacal (1999)
mendefinisikan dengan proses komunikasi yang berkesinambungan dan dilakukan
dalam kemitraan antara seorang karyawan dan atasan langsungnya.
Kinerja diukur dengan instrumen yang
dikembangkan dalam studi yang tergabung dalam ukuran kinerja secara umum,
kemudian diterjemahkan ke dalam penilaian perilaku secara mendasar, meliputi:
1)
Kuantitas
kerja, yaitu jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode waktu yang telah
ditentukan.
2)
Kualitas
kerja, yaitu kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syaratsyarat kesesuaian
dan kesiapannya.
3)
Pengetahuan
tentang pekerjaan, yaitu luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan ketrampilan.
4)
Pendapat
atau pernyataan yang disampaikan, yaitu keaktifan menyampaikan pendapat di
dalam rapat.
5)
Perencanaan
kerja, yaitu kegiatan yang dirancang sebelum melaksanakan aktifitas
pekerjaannya.
7.
Metode
Penelitian
a.
Hipotesis
Hipotesis merupakan kesimpulan teoritis atau sementara dalam
penelitian. Dengan
hipotesis, penelitian menjadi jelas searah pengujiannya. Adapun Hipotesis dalam
penelitihan ini adalah:
1) Ada pengaruh positif antara komunikasi terhadap kinerja karyawan
2) Ada pengaruh positif antara etika kerja Islam terhadap kinerja
karyawan
3) Ada pengaruh positif antara komunikasi dan etika kerja islam
terhadap kinerja karyawan.
b.
Jenis
dan Sumber Data Penelitian
Dalam penelitian ini
penulis menggunakan penelitian kuantitatif, karena data yang diperoleh nantinya
berupa angka. Dari angka yang diperoleh akan dianalisis lebih lanjut dalam
analisis data.
Setiap penelitian ilmiah memerlukan data dalam
memecahkan masalah yang di hadapinya.Data harus diperoleh dari sumber data yang
valid, agar data yang terkumpul relevan dengan masalah yang diteliti, sehingga
tidak menimbulkan kekeliruan dalam penyusunan interpretasi dan kesimpulan.Untuk
memperoleh data yang bersifat akurat, dalam penelitian ini
peneliti menggunakan data primer.
Data primer adalah data yang diperoleh langsung
dari subyek penelitian dengan pengambilan data langsung pada sumber obyek
sebagai sumber informasi yang dicari.
Sumber data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah karyawan dan pemilik dari Kantin di
Stain kudus.
c.
Metode
pengumpulan data
Metode
pengumpulan data sangat berpengaruh sekali dalam hasil penelitian. Karena
pemilihan metode pengumpulan data yang tepat akan diperoleh data yang relevan,
dan akurat Dalam teknik
pengumpulan data peneliti menggunakan tiga metode,
1)
Wawancara (interview). Wawancara
adalah salah satu teknik pengumpulan data yang akurat untuk keperluan proses
pemecahan masalah tertentu, yang sesuai dengan data. Pencarian data dengan
teknik ini dapat di lakukan dengan cara tanya jawab secara lisan dan bertatap
muka langsung antara seorang atau beberapa orang pewawancara dengan seorang
atau beberapa orang yang di wawancarai. Wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan salah satu karyawan
yaitu dengan Is, Anggraini dan Ika selaku karyawan dikantin tersebut dan bu
Sunoko sebagai pemilik. Dalam metode wawancara
ditetapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan.Teknik ini digunakan untuk
responden yang memiliki populasi yang diberikan pertanyaan yang sama, sehingga
diketahui informasi atau data yang penting.
2) Observasi (pengamatan), adalah tehnik yang dilakukan secara langsung dan
pencatatan secara otomatis terhadap fenomena yang diselidiki.Karena penelitian
yang dilakukan adalah termasuk jenis penelitian kualitatif, maka observasi yang
penulis lakukan dalam penelitian ini adalah observasi terus terang.Dalam hal
ini, peneliti dalam melakukan pengumpulan data menyatakan terus terang kepada
sumber data bahwa peneliti sedang melakukan penelitian.Penulis juga menggunakan
observasi partisipasif, yaitu peneliti datang di tempat penelitian tetapi tidak
ikut terlibat dalam kegiatan di tempat penelitian. (Sugiyono, 2006:312)
Metode ini digunakan untuk mencari data atau informasi mengenai komunikasi dan etika bisnis yang terjadi di kantin tersebut.
3) Dokumentasi merupakan metode pengumpulan data mengenai hal-hal yang
berupa catatan. Menurut Sugiyono (2006:62) menyatakan: dokumentasi merupakan
pelengkap dari penggunaan metode observasi dan interview. Penggunaan metode
dokumentasi ini untuk memperkuat dan mendukung informasi-informasi yang
didapatkan dari hasil observasi dan interview.
d.
Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi
merujuk pada sekumpulan orang atau objek yang memiliki kesamaan dalam satu atau
beberapa hal yang membentuk masalah pokok dalam suatu penelitian. Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan yang bekerja di kantin stain kudus
yaitu sejumlah 3 karyawan. Penentuan jenis populasi ini didasarkan atas layanan
bahwa yang akan di uji adalah persepsi karyawan mengenai pengaruh komunikasi
dan etika kerja Islam terhadap kinerja karyawan. Berhubung karyawan dikantin
hanya 3 orang maka yang menjadi subyek penelitian adalah semuanya.
8.
Analisis
Komunikasi
Komunikasi
sangat diperlukan dalam tercapainya suatu hubungan dengan baik. Entah itu
hubungan karyawan dengan atasan maupun komunikasi antara karyawan dengan karyawan
yang lain. Memang komunikasi tidak bisa diukur secara langsung, namun komunikasi
dapat tersirat dengan diliperhatikannya hubungan dengan orang lain.
Didalam
kantin stain kudus komunikasi yang dilakukan sudah cukup baik. Saat ada
pekerjaan mereka tidak berlebihan melakukan komunikasi, dalam arti komunikasi yang dilakukan hanya sebatas
pekerjaan yang dilakukan. Hal ini termasuk dalam kategori komunikasi yang baik.
Karena komunikasinya adalah berhubungan dengan pekerjaan mereka dan tidak
mencampur adukkan dengan urusah lain yang terjadi diluar pekerjaan.
Karyawan
disini menyadari kapan waktunya bekerja dan kapan ada waktu luangnya, sehingga
mereka bisa menyadari kapan waktu dimana mereka berkomunikasi dengan hal yang
tidak berhubungan dengan pekerjaan mereka.
Etika
Etika
juga merupakan hal yang penting karena etika merupakan bukti bahwa mereka
saling menghormati antara yang satu dengan yang lain. Euntuk menciptakan suatu
suasana kerja yang baik perlu dilakukannya etika yang baik juga. Karyawan harus
tau bagaimana tatacara berkomunikasi, tatacara menghormati atasannya. Begitupun
dengan atasan harus tau bagaimana keadaan karyawannya.
Dari
hasil pengujian yang dilakukan terbukti bahwa komunikasi memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap kinerja karyawan.komunikasi merupakan faktor yang diperhitungkan
dalam menjaga kinerja karyawan. Dari hasil pengujian yang dilakukan terbukti
komunikasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja karyawan di
kantin stain kudus.
Dalam
pekerjaan distain kudus, etika yang dilakukan juga sudah baik. Dalam
berkomunikasi dengan atasan karyawan menggunakan bahasa yang baik yaitu berupa
bahasa jawa krama inggil yang berarti adanya penghormataan bagi atasan.
Begitupun atasannya menggunakan pengertian yang baik dengan karyawannya.
Contohya jika ada suatu pekerjaan yang lain tassan ingin menyuruh karyawannya
maka atasan tersebut melihat dulu apakah karyawannya sedang sibuk atau tidak. Kalo sedang sibuk maka
sebisa mungkin atasan terebut mengatur mana yang perlu diprioritaskan dilakukan
dan yang mana yang hendaknya dapat diundur pelaksanaannya.
Karyawan
disini juga menghormati atasannya dengan bertingkah laku yang baik. karena
kantin tersebut berada dikalangan anak kampus yang memang latar belakangnya
adalah hal yang mengerti tentang agama, maka busana yang dipakainya juga busana
yang memenuhi kriteria agama seharusnya. Walaupun kantin tidak menyediakan
seragam khusus seharusnya karyawan bisa emilih bagaimana pakaian yang
seharusnya ia kenakan. Disinilah yang tampaknya tidak sesuai, kadangkala
karyawan disini menggunakan pakaian yang tidak memenuhi kriteria agama islam.
Misalnya memakai busana yang ketat dan tipis. Ini memang seharusnya tidak
terjadi karena kantin tersebut dilingkungan orang yang paham agama.
9.
Kesimpulan
a.
Komunikasi
yang terjadi berjalan dengan lancar
b.
Etika
yang terjadi juga lancar
10.
Penutup
Puji syukur
Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
kekuatan, hidayah dan taufik-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan
penelitian ini. shalawat serta salam semoga tatap tercurah kepada Baginda
Rasulullah Muhammad SAW yang kita harapkan syafa’atnya kelak di hari kiamat.
Penulis
menyadari meskipun dalam penulisan penelitian ini telah berusaha semaksimal
mungkin, namun dalam penulisan ini tidak lepas dari kesalahan dan kekeliruan.
Hal itu semata-mata merupakan keterbatsan ilmu dan kemampuan yang penulis
miliki. Oleh karena itu, penulis mengharapka saran dan kritik yang konstruktif
dari berbagai pihak demi perbaikan yang akan datang untuk mencapai
kesempurnaan.
Akhirnya penulis
hanya berharap semoga penelitian ini dapat menambah khazanah keilmuan,
bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Amiin.
[1]
Karya ilmiah, Pengaruh Komunikasi Internal Terhadap Motivasi Kerja Pegawai
di Pusat
Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal (P2-PNFI) Regional
1 Bandung. Hal 4
[2] Muhammad Arni,
komunikasi organisasi, PT bumi aksara, Jakarta, hal. 1
[3] Mustaq Ahmad, Etika
Bisnis dalam Islam, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, hal. 27
[4]
Kuat ismanto, Manajemen Syari’ah Implementasi TQM Dalam Lembaga Keuangan
Syariah, Pustaka belajar, Yogyakarta, 2009, hal.41.
[5] Redi Panuju, Etika Bisnis Tinjauan Empiris Dan Kiat
Mengembangkan Bisnis Sehat, PT Grasindo, Jakarta, 1995, hal.7
[6] Riswandi, ilmu
komunikasi, Graha ilmu, Yogyakarta, 2009, hal. 1
[7]Riswandi, Ibid,
hal. 3
[8] O.P. Simorangkir, Etika Bisnis, Jabatan dan Perbankan, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2003, hal. 3
[9] Toto Tasmara, Membudayakan Etos Kerja Islami, Gema Insani
Press, Jakarta, 2002, hal. l5
[10]
http://spesialis-torch.com
[11] Toto Tasmara, op.
Cit, hal. l5
[12] Ali Hasan, manajemen Bisnis Syari’ah Kaya di Dunia Terhormat di
Akhirat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,
2009, hal. 171
[13] Mustaq Ahmad, Etika
Bisnis dalam Islam, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2001, hal. 109
[14] Mustaq Ahmad, Ibid,
hal. 112-113
[15] Ali Hasan, op. Cit, hal. 187
[16]Ali Hasan,
Ibid, hal. 22
Tidak ada komentar:
Posting Komentar