Rabu, 24 Februari 2016

STRATEGI TATA LETAK



STRATEGI TATA LETAK
MAKALAH

Mata kuliah : Manajemen Operasi
                                                        Semester  V Tahun 2015
Dosen pengampu : Tina Martini, SE, M.Si

Disusun oleh :
Kelompok 8
Kelas ESRD-V
1.      Erma Muftia N                        1320210154








 


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM
(EKONOMI SYARI’AH)
 TAHUN 2015

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Setelah gedung tersebut didirikan, dan setelah mesin-mesin yang dibutuhkan diadakan, maka selanjutnya perusahaan harus merencanakan atau merancang letak tiap pusat kerja atau mesin atau peralatan didalam setiap sarana itu sendiri juga mempengaruhi daya guna sarana operasi dan produksi secara keseluruhan. Jarak antara satu peralatan dengan peralatan lainnya akan menentukan besarnya biaya penanganan bahan-bahan (material handling cost) yang harus dipindahkan dari satu pusat kerja kepusat kerja lainnya. Biaya ini merupakan bagian dari biaya pengolahan barang atau jasa yang dibuat oleh perusahaan. Semakin baik penataan letak setiap peralatan, maka semakin kecil pula biaya penanganan bahan-bahan dan semakin besar pula kemungkinan untuk menghemat biaya pengolahan keseluruhan.
Tata letak atau layout merupakan salah satu keputusan strategi operasional yang turut menentukan efisiensi operasi perusahaan dalam jangka panjang. Tata yang tepat menunjukkan ciri-ciri adanya penyesuaian tata letak operasional itu dengan jenis produk atau jasa yang dihasilkan. Tata letak yang baik akan memberikan konstribusi terhadap peningkatan produktifitas perusahaan. Hal tersebut disebabkan oleh adanya kelancaran arus faktor-faktor produksi yang akan diproses, mulai sejak disiapkan  dan diserahkan kedalam pemrosesan sampai menjadi produk akhir.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian dan tujuan tata letak?
2.      Bagaimana jenis-jenis bangunan dan pertimbangan desain fasilitas?
3.      Jenis-jenis rancangan tata letak?
4.      Apa saja metoda-metoda layout?





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan Tujuan Tata Letak
Definisi tata letak secara umum adalah susunan fasilitas fasilitas produksi untuk memperoleh efisiensi pada suatu produksi. Perancangan tata letak meliputi pengaturan tata letak fasilitas-fasilitas operasi dengan memanfaatkan area yang tersedia untuk penempatan mesin-mesin, bahan-bahan, perlengkapan untuk operasi, personalia dan semua peralatan serta fasilitas yang digunakan dalam proses produksi. Perancangan tata letak juga harus menjamin kelancaran aliran bahan-bahan, penyimpanan bahan, baik bahan baku, bahan setengah jadi maupun produk-produk jadi.
Pada umumnya tata letak dan modifikasinya akan senantiasa diperlukan disetiap perusahaan. Kebutuhan memodifikasi itu disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
1.    Terjadinya perubahan desain produk secara terus menerus
Perubahan desain suatu produk secara terus menerus untuk membuat produk baru dalam suatu perusahaan akan mengakibatkan terdapatnya perencanaan tata letak yang baru pula bagi perusahaan tersebut. Perubahan desain produk ini seringkali akan mengakibatkan pula terjadinya perubahan di dalam pelaksanaan proses produksi ini kadang-kadang merupakan perubahan yang tidak fundamental, tetapi juga sering terjadi perubahan proses produksi yang cukup mendasar.
Besar atau kecilnya skala perubahan proses produksi yang diakibatkan oleh perubahan desain produk ini akan sangat tergantung kepada banyak dan sedikitnya perubahan atas desain produk yang bersangkutan. Perubahan pelaksanaan proses produksi ini berapapun kecilnya akan berakibat kepada kebutuhan untuk menyesuaikan tata letak yang telah ada di perusahaan tersebut. Agar tata letak yang dipergunakan di masing-masing pabrik senantiasa sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan produksi yang dijalankan perusahaan yang bersangkutan, maka modifikasi perlu diadakan sewaktu-waktu. Dengan cara itu, tata letak yang tersedia di dalam pabrik atau perusahaan yang bersangkutan akan selalu aktual serta relevan dengan kebutuhan pengolahan. perubahan tata letak tersebut tidak selalu berarti perubahan total atau mendasar dari tata letak yang ada, melainkan dapat saja merupakan perubahan-perubahan kecil yang bertujuan untuk menyesuaikan perubahan yang terjadi dalam desain dan proses produk yang dilaksanakan oleh perusahaan.
2.    Adanya perubahan volume permintaan
Terjadinya perubahan volume permintaan terhadap produk yang dihasilkan perusahaan akan berakibat pula terhadap volume produksi. Perubahan itu harus dilakukan penyesuaian agar volume produksi selalu sama dengan, atau mampu menjawab volume permintaan yang ada. Perubahan volume aktivitas tersebut tentu akan berdampak pada tata letak yang ada dan dipergunakan oleh perusahaan pada waktu sekarang ini. Perubahaan atas volume permintaan dapat berbentuk kenaikan permintaan dan dapat pula merupakan penurunan permintaan. Perubahan yang terjadi, secara linear harus selalu disesuaikan dengan tingkat produksi perusahaan yang bersangkutan.
Adanya kenaikan atas volume permintaan terhadap produk perusahaan akan mengakibatkan perusahaan memiliki kesempatan untuk menaikan tingkat produksinya guna memenuhi kenaikan permintaan yang terjadi. Sebaliknya, apabila volume permintaan terhadap produk yang dihasilkan menurun, maka penurunan volume itu akan berakibat pula terhadap penurunan tingkat produksi perusahaan yang bersangkutan. Penurunan volume produksi ini lebih lanjut akan mengakibatkan terjadinya penurunan tingkat kesibukan di bidang operasi.
3.    Kemungkinan penggantian fasilitas agar selalu baru (Up to Date)
Kenyataan menunjukkan bahwa mesin dan peralatan produksi yang dipergunakan oleh perusahaan, lambat laun akan mengalami keusangan. Keusangan ini dapat terjadi karena faktor teknis dan juga karena faktor teknologi. Secara teknis, peraltan dan mesin akan mengalami kemunduran prestasi karena secara alamiah peralatan dan mesin itu akan mengalami kegugusan akibat penggunaan. Disamping itu, dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, industri alat berat akan berusaha menciptakan mesin-mesin dan peralatan produksiyang semakin canggih teknologinya.
4.    Adanya penambahan produk baru
Penambahan produk baru serta pengembangan produk yang sudah ada akan menjadi kegiatan yang selalu adadi dalam sebuah perusahaan manufaktur. Berdasarkan teori siklus hidup produk, maka setiap kali produk telah sampai pada tingkat penjualan maksimum (tahap kedewasaan), maka pada kali berikutnya, penjualan perusahaan akan mengalami penurunan.


5.    Adanya kondisi lingkungan kerja yang tidak memuaskan 
Didalam suatu perusahaan, kondisi lingkungan kerja akan sangat berpengaruh terhadap tingkat produktifitas kerja karyawan. Faktor-faktor dari kondisi lingkungan kerja ini perlu direncanakan dengan baik agar segenap karyawan perusahaan dapat bekerja dengan tingkat produktifitas yang lebih baik. Keluhan-keluhan para karyawan dalam mengeemban tugas yang terkait dengan proses produksi yang dilaksanakan, sebaiknya ditanggapi dengan proposional dan profesional oleh manajemen perusahaan. Keluhan  itu dapat dipergunakan sebagai bahan masukan penyusun perbaikan kondisi linkungan kerja ini, manajemen perusahaan perlu menyusun perencanaan tata letak pabrik yang cocok dengan berbagai hal yang dibutuhkan oleh pelaksanaan pekerjaan yang dibebankan kepada para karyawan. Dengan cara demikian, segenap karyawan perusahaan dapat bekeja dengan lebih baik, produktif, efektif, efisien, dan ekonomis.
6.    Resiko kecelakaan kerja dalam proses produksi
Di dalam suatu perusahaan seringkali terdengar tentang terjadinya kecelakaan kerja pada waktu menjalankan proses produksi. Kecelakaan kerja dapat saja merupakan kecelakaan-kecelakaan kecil yang dianggap sebagai kejadian yang biasa, atau akibat dari kecelakaan tersebut tidak begitu serius sehingga tidak mendapatkan protes keras dari karyawan perusahaan. Namun demikian, terdapat kemungkinan kecelakaan yang terjadi dapat menimbulkan akibat yang cukup fatal kepada karyawan. Kewajiban manajemen perusahaan untuk melkukan langkah-langkah proteksi dan perlindungan agar pada waktu pekerja lengah atau kurang hati-hati resiko kecelakaan kerja itu tetap minimal.
Dihubungkan dengan usaha meminimumkan kecelakaan kerja ini, maka tata letak mesin dan peralatan produksi harus dilakuakan sedemikian rupa sehingga dicapai derajat kesesuaian yang terjadi dengan kebutuhan kerja. Ksesuaian tata letak dengan kebutuhan pelaksanaan pekerjaan, serta dilengkapinya mesin dan peralatan produksi dengan alat-alat pencegah bahaya, akan menurunkan resiko kecelakaan kerja. Dengan demikian, penyusunan tata letak pabrik, peletakan, penataan mesin, dan peralatan produksi, harus menciptakan linkungan kerja yang aman kepada para karyawan pabrik yang bersangkutan.
7.    Kebutuhan akan penghematan biaya
Tat letak memiliki hubungan erat dengan kelancaran arus material, sitematisasi arus pekerjaan, dan pola gerak segenap tenaga kerja pabrik. Arus material (bahan baku, bahan penolong, atau komponen perakitan) berdampak lansung pada material handling cost (biaya penganan bahan). Pekerjaan yang tidak sistematis akan berakibat terjadinya arus komponen atau bahan yang bolak-balik di tempat pengolahan. Jika hal ini terjadi, bukan saja biaya penanganan bahan yang meningkat, tetapi juga upah tenaga kerja. Upah yang harus dibayar meningkat karena waktu pegerjaan produk bertambah. Akibatnya produktivitas menurun, efektifitas, dan efisiensi kerja juga menurun. Dengan demikian sejak dari awal, faktor-faktor yang merugikan itu harus sudah diperhitungkan dalam perencanaan tata letak.
Pada dasarnya perancangan tata letak ini adalah optimasi pengaturan fasilitas-fasilitas operasi sehingga nilai yang diciptakan oleh sistem produksi akan maksimal. Adapun secara rinci beberapa tujuan perancangan tata letak fasilitas diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Memanfaatkan area yang ada
Perancangan tata letak yang optimal akan memberikan solusi dalam penghematan penggunaan area (space) yang ada, baik area untuk produksi, gudang, service, dan untuk departemen lainnya.
2.      Pendayagunaan pemakaian mesin, tenaga kerja, dan fasilitas produksi lebih besar.
Pengaturan yang tepat akan dapat mengurangi investasi didalam peralatan dan perlengkapan produksi. Peralatan-peralatan dan perlengkapan dalam proses produksi dapat dipergunakan didalam tingkat efisiensi yang cukup tinggi. Begitu juga tenaga kerja dan fasilitas produksi lainnya akan dapat berdaya guna.
3.      Meminimumkan material handling
Selama proses produksi/operasi perusahaan akan selalu terjadi aktivitas perpindahan baik itu bahan baku,tenaga kerja, mesin ataupun peralatan produksi lainnya. Proses perpindahan ini memerlukan biaya yang relatif cukup besar. Dengan demikian, perancangan tata letak yang baik harus mempu meminimalkan aktivitas-aktivitas pemindahan bahan. Tata letak sebaiknya dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan jarak angkut dari masing-masing fasilitas dapat diminimalisir.
4.      Mengurangi waktu tunggu dan mengurangi kemacetan dan kesimpangsiuran.
Waktu tunggu dalam proses produksi (produksi delays) yang berlebihan akan dapat dikurangi dengan pengaturan tata letak yang terkoordinasi dengan baik. Banyaknya perpotongan dari suatu lintasan produksi seringkali menyebabkan terjadinya kemacetan-kemacetan.
5.      Memberikan jaminan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan bagi tenaga kerja.
Para tenaga kerja tentu saja menginginkan bekerja dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Hal-hal yang dianggap membahayakan bagi kesehatan dan keselamatan tenaga kerja harus dihindari.
6.      Mempersingkat proses manufaktur
Dengan memperpendek jarak antara operasi satu dengan operasi berikutnya, maka waktu yang diperlukan dari bahan baku untuk berpindah dari satu staiun kerja ke stasiun kerja yang lainnya dapat dipersingkat pula. Dengan demikian total waktu produksi juga dapat dipersingkat.
7.      Mengurangi persediaan setengah jadi
Persediaan barang setengah jadi (work in process inventory) terjadi karena belum selesainya proses produksi dari produksi yng bersangkutan. Persediaan barang setengah jadi yang tinggi tidak menguntungkan perusahaan karena dana yang tertanam tersebut sangat besar. Perancangan tata letak yang baik hendaknya memperhatikan keseimbangan lintasan, karena menumpuknya barang setengah jadi salah satunya disebabkan oleh tidak seimbangnya lintasan produksi.
8.      Mempermudah aktivitas supervisi
Penempatan ruangan supervisor yang tepat akan memberikan keleluasaan begi supervisor untuk mengawasi aktivitas yang sedang berlangsung diarea kerja.[1]
B.     Jenis-Jenis Bangunan dan Berbagai Pertimbangan Desain Fasilitas Lainnya
Jenis-Jenis Bangunan
Secara umum, bangunan-bangunan dapat dibedakan menjadi:
1.      Bangunan Berlantai Tunggal
Bentuk bangunan berlantai tunggal merupakan jenis yang paling umum sekarang. Bangunan ini dapat melebar atau memanjang sesuai kebutuhan dan dapat dengan mudah diperluas. Bangunan berlantai tunggal tidak mempunyai tangga-tangga, lift atau lerengan yang menghubungkan lantai-lantai. Pengangkutan bahan-bahan dari satu tahapan proses ke tahapan berikutnya lebih mudah dan tidak mahal karena dilaakukan secara horizontal dan tidak naik turun. Peralatan-peralatan berat dapat diletakkan diatas fondasi yang terpisah dan biaya pembangunannya lebih murah.
Kelemahan dari bentuk bangunan berlantai tunggal yaitu bangunan ini memerlukan ruangan dasar yang lebih luas dan bila atap berbentuk datar serta tidak ada kaca pada langit-langit bangunan diperlukan penerangan artifisial ddihampir seluruh bagian pabrik, sistem ventilasi dan pendingin udara.
2.      Bangunan Bertingkat dan Arsitektur
Perkembangan arsitektur fasilitas dapat mempunyai dampak penting pada struktur biaya tetap dan variabel bangunan, seperti sikap para karyawan yang bekrja didalamnya. Banyak organisasi sekarang menghabiskan lebih banyak dananya untuk merancang fasilitas-fasilitas mereka, dan mencoba untuk membuatnya baik secara fungsional ekonomis maupun secara arsitektur menarik.[2]
Berbagai Pertimbangan Disain Fasilitas Lainnya
     Adapun faktor penting dalam perencanaan dan perhitungan disain bangunan dan fasilitas lainnya adalah sebagai berikut:
1.      Biaya-biaya bangunan
Biaya fasilitas baru tergantung pada keperluan. Biaya-biaya tentu saja berbeda-beda untuk daerah yang berbeda pula.
2.      Sistem komunikasi dalam pabrik
Dalam pabrik, para karyawan sering berkomunikasi satu sama lainuntuk memberikan dan menerima pengarahan atau perintah serta mengirim dan menerima laporan-laporan.
3.      Keamanan
Disain fasilitas perlu mempertimbangkan perlindungan tehadap disain-disain produk, formula-formula, rahasia-rahasia organisasi dan kekayaan organisasi. Contoh, kamera cctv, sistem alarm atau peralatan tanda-tanda bahaya lainnya.
4.      Kebutuhan-kebutuhan ruangan
Kebutuhan ruangan untuk mesin, produk, ruang pelayanan dan overhead.
5.      Peralatan penanganan bahan
Jenis peralatan penanganan bahan yang digunakan akan mempengaruhi disain fasilitas. Pengangkutan bahan dengan truk atau frok lift memerlukan gang-gaang yang lebih luas daripada dengan ban berjalan.[3]


C.    Jenis-jenis Rancangan Tata Letak
1.      Tata letak Menurut Barang (Product Layout)
Dengan rancangan tata letak menurut barang, seluruh jenis mesin yang mengerjakan tugas yang berbeda dikumpulkan pada satu tempat. Didalam kumpulan itu terdapat satu atau beberapa mesin untuk setiap kegiatan sehingga bahan baku yang mengalami pengolahan pada mesin yang berada pada urutan pertama sudah akan menjadi barang jadi setelah melalui mesin yang menjadi urutan terakhir. Seluruh mesin diurutkan menurut urutan tahap-tahap kegiatan.
Sebagai contoh, perusahaan pembuat piring alumunium mempunyai serangkaian kegiatan sebagai berikut: pemotongan aumunium, perlengkungan  bulatan alumunium, pengecatan piring alumunium. Misalkan bahwa perusahaan pembuat piring ini membuat barang yang bersagkutan dengan jenis jenis pengolahan yang terus menerus. Tata letak yang digunakan untuk jenis pengolahan seperti ini biasanya adalah tata letak menurut barang.
Keunggulan rancangan tata letak menurut barang:
a.       Jumlah biaya penanganan barang (material handling) umumnya kecil.
b.      Pekerjan-pekerjaan disederhanakan sehingga memungkinkan penggunaan tenaga kerja manusia yang memiliki tingkat keahlian yang rendah
c.       Jumlah persediaan barang dalam pengerjaan sangat kecil
d.      Pengawasan tidak terlalu banyak dan tidak terlalu rumit
Kelemahan-kelemahannya adalah:
a.       Seluruh mesin yang digunakan sangat tergantung satu dengan yang lain.
b.      Kegiatan pengelolaan sangat kaku atau tidak luwes
2.      Tataletak Menurut Pekerjaan (Process Layout)
Pada rancangan tata letak menurut peerjaan, mesin-mesin, peralatan peralatan, tenaga kerja manusia disusun sedemikian rupa dimana mesin-mesin yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan yang sejenis atau serupa dikumpulkan bersama-sama pada satu tempat. Dengan cara ini ditempat yang bersangkutan dilaksanaan hanya satu jenis kegiatan, sedangkan setiap kegiatan lainnya dilaksanakan dibeberapa tempat, dan dengan sejumlah mesin lainnya. Dalam perancangan tata letak seperti itu kegiatan pengolahan yang dilakukan adalah terputus-ptus. Bahan-bahan yang sudah melalui satu jenis pekerjaan dapat disimpen sebagai persediaan sebelum diteruskan ke jenis kegiatan pekerjaan berikutnya. Satu  atau sebagian besar mesin yang digunakan untuk melakukan pekerjaan yang sama dapat berhenti tanpa mempengaruhi kegiatan mesin-mesin yang lainnya sehingga jumlah waktu yang terbuang tidak terlalu besar. Tata letak seperti ini biasanya digunakan untuk membuat barang berdasarkan pesanan.
Keunggulan
a.       Kegiatan pengolahan yang lentur dimana tidak ada satu penyeragaman atau pembakuan untuk barang yang dibuat.
b.      Tenaga kerja manusia menjadi terlatih dan cepat menjadi terampil karena mesin-mesin yang digunakan pada umunya tidak dirancang untuk bekerja sendiri.
Kelemahan
a.       Biaya penanganan yang tinggi
b.      Kegiatan pengawasan lebih banyak dan rumit.
3.      Tataletak Tetap (Fixed Position Layout)
Dengan rancangan tata letak tetap, mesin mesin, peralatan tidak disusun menurut urutan pekerjaan yang dilakukan. Yang ditetapkan dalam rancangan ini adalah letak barang jadi setelah selesai diolah dan siap untuk digunakan. Segala jenis bahan yang akan diolah, termasuk mesin-mesin dan manusia yang dibutuhkan, dibawa ketempat bersangkutan. Sebagai contoh adalah pembangunan jalan, gedung, jembatan atau kegiatan pertanian.
Pada pembangunan sebuah gedung, misalnya terlebih dahulu ditetapkan dimana gedung tersebut harus berada dan terletak., dan disana pulalah ia akan dibuat. Bahan bahan seperti pasir, semen, batu, bata, dan lain sebagainya dibawa ketempat tersebut.
Dalam kegiatan operasi seperti ini umumnya terdiri hanya dari satu satuan seperti sebuah kapal, rumah atau sebuah jembatan.
4.      Tata letak Gabungan (Combination Layout)
Tata letak gabungan adalah rancangan tataletak sarana operasi dan produksi yang merupakan gabungan dari tata letak menurut barang dengan tata letak menurut pekerjaan. Dengan tataletak sepeti ini sebagian ciri-ciri tata letak menurut barang dan sebgian ciri tata letak menurut pekerjaandapat ditemukan dalam kegiatan operasi dan produksi tersebut.
Sebagai contoh, dimana pembat piring alumunium pada saat ini membuat piring alumunium berdasarkan pesanan, dimana harus menyesuaikan dengan keinginan pemakai. Berbagai pemakai meminta agar cap dan nama perusahaan pemakai dicetak dipermukaan piring tersebut, sebagian diantara mereka menginginkan cap dan nama mereka dicetak dengan tinta atau cat sedangkan sebagian lagi menginginkan dicetak dengan mengukirnya. Untuk para pemakai ini perusahaan membutuhkan tambahan dua jenis mesin lagi, yaitu mesin pencetak dan mesin pengukir. Kedua mesin ini tidak dapat dirangkaika dengan ban berjalan karena penggunaanya tidak tetap, melainkan bergantung pada pesanan.
Contohnya dalam suatu tahap yaitu pembuatan piring alumunium yang tanpa cap dan nama perusahaan, pekerjaan dilakukan secara terus menerus dengan tata letak menurut barang. Akan tetapi pada tahap berikutnya yaitu pencetakan cap dan nama perusahaan pemesan, terdapat dua jenis mesin yang berbeda. Mesin yang pertama digunakan untuk mencetak sedangkan yang kedua untuk mengukir. Karena digunakan secara berganti-ganti sesuai dengan keinginan pemesan, jadi kedua mesin ini tidak dapat dirangkaikan dan tidak dapat pula dirangkaikan dengan mesin-mesin sebelumya. Dengan demikian kedua mesin terakhir ini harus ditempatkan dengan tata letak yang membuat keduanya tidak saling terikat, yaitu tata letak menurut pekerjaan. gabungan kedua kelompok tata letak pusat-pusat kerja ini adalah tata letak gabungan.
Pada tata letak gabungan ini akan ditemukan bahwa:
a.       Sebagian mesin dirancang untuk bekerja sendiri atau setidak-tidaknya tidak terlalu bergantung kepada tenaga kerja manusia, sedangkan sebagian lagi masih mengandalkaan tenaga kerja manusia.
b.      Sampai pada tahap tertentu kegiatan operasi dan produksi dilakukan secara terputus-putus dimana pada tahap ini terdapat persediaan barang-dalam-pengerjaan. Pada tahap selanjutnya dilakukan kegiatan operasi dan produksi yang terus menerus dimana pada tahap ini hampir tidak ada persediaan barang dalam pengerjaan atau sebaliknya.
c.       Untuk beberapa kegiatan, mesin-mesin, peralatan dan tenaga kerja manusia yang akan melaksanakan pekerjaan yang serupa atau sejenis digabungkan pada satu tempat, dan untuk kegiatan-kegiatan lain susunan ini adalah menurut urutan kegiatan.
d.      Adakalanya barang dibuat berdasarkan pesanan dan adakalanya dimaksudkan untuk persediaan.
e.       Jumlah barang yang dibuat setiap satuan waktu pada umumnya besar.
Perlu diperhatikan bahwa suatu tata letak disebut tata letak gabungan hanya jika dua jenis tata letak yang berbeda disyaratkan atau dibutuhkan untuk membuat satu satuan barang. Apabila terdapat satu kilang pengolahan yang meggunakan dua jenis tata letak yang berbeda, tetapi setiap jnis tata letak tersebut bukanlah tata letak gabungan. Dalam hal ini keadaannya adalah ada dua jenis tata letak yang masing-masig digunakan untuk membuat barang yang serupa atau sejenis.[4]
5.      Tata Letak Gudang (Warehouse Layout)
Tata letak gudang sangat penting untuk diperhatikan, karena tata letak gudang yang baik akan memudahkan penanganan dan pengendalian persediaan dapat meminimumkan kerusakan barang serta memudahkan penerimaan dan penyerahan barang. Tataletak gudang disesuaikan sistem persediaan yang dipergunakan, seperti sistem persediaan barang dengan FIFO (First in First Out) artinya barang yang pertama diterima harus siap untuk dikeluarkan pertama kali, sehingga tata letak harus diatur sedemikian rupa, agar barang mudah untuk dimasukkan dan dikeluarkan.
Pada perusahaan distributor, penentuan lokasi gudang wilayah, dan penataan barang sediaan didalamnya sangat penting artinya. Gudang wilayah adalah ujung terdepan dari perusahaan untk memeroleh daya saing dari kecepatan menyerahkan produk kepasar atau pelanggan.
6.      Tata Letak Kantor (Office Layout)
Tata letak kantor bertujuan untuk menentukan posisi karyawan dan peralatan agar menjamin kelancaran arus pekerjaan dan komunikasi antara semua pegawai dan manajer yang ada. Ruangan kerja setiap karyawan harus disesuaikan luasnya dengan volume pekerjaan. Dengan cara demikian, ruangan yang tersedia akan terpakai secara efisien. Karyawan dituntut untuk dapat bekerja secara produktif atau efektif.[5]



D.    Metoda-metoda Layout
            Perusahaan-perusahaan yang membangun berbagai fasilitas baru sering menghabiskan dua atau tiga tahun dalam pendahuluan, dimana salah satu bagian penting adalah pencarian metoda-metoda yang lebih baik untuk digunakan dalam pabrik baru. Pembangunan suatu pabrik baru memberikan kesempatan untuk membuat tercapainya perbaikan-perbaikan. Dengan layout baru memungkinkan untuk menghilangkan praktik-praktik pemborosan.
            Cara pertama untuk mulai suatu analisa layout adalah dengan diagram perakitan (atau bagan proses) yang menunjukkan bagaimana proses produksi dari bahan mentah sampai produk akhir dilaksanakan. Kemudain buat daftar kebutuhan operasi untuk membuat komponen-komponen didapatkan dari departemen teknik.
            Cara kedua, penentuan suatu layout baru dengan memperhatikan produk dari sudut pandangan penanganan bahan (materials handling).
            Cara ketiga, analisa layout mulai dengan menggambar kebutuhan lantai (ruang) yang menunjukkan seluruh bagian-bagian tetap atau semi tetap-segala sesuatu yang tidak dapat diubah atau dipindah dengan mudah. Kemudian, semua mesin baru dan peralatan dapat ditempatkan pada posisi mereka yang ideal.
Metoda Travel Chart atau Load-Path Matrix untuk Layout Fungsional
            Masalah layout fungsional berpusat pada usaha untuk mengurangi transportasi bahan-bahan dalam proses (WIP) dari satu departemen ke departemen lain. Metoda travel chart mencoba untuk meletakkan mesin-mesin secara berdekatan (berjajar) bagi yang mempunyai aliran produk-produk yang berat. Metoda “travel chart” tidak mempertimbangkan semua masalah yang dihadapi para ahli teknik dalam analisa layout, dan hanya memperhatikan aliran produk antara departemen dan bukan transportasi dalam departemen. Begitu juga dengan pertimbangan perbedaan biaya, besarnya dan kerapuhan bahan, kebutuhan akan koordinasi, kebutuhan penempatan berbagai fasilitas pelayanan dan pendukung, atau isolasi suara dan operasi-operasi yang berbahaya, tidak tidak dimasukkan dalam metoda ini.[6]
Tata Letak Modern
          Russel dan Taylor, Chase et al., Render dan Heizer serta Krajewski dan Ritzman mengemukakan bahwa bentuk dasar tata letak yang disebutkan terdahulu telah dikembangkan menjadi tata letak modern yang oleh mereka disebut hybride layout (tata letak hibrida). Tata letak hibrida yaitu sebagai berikut:
a.      Cellular Layout
Pada tata letak selular, mesin atau peralatan produksi yang dibutuhkan untuk mengerjakan suatu produksi dikelompokkan dalam suatu machine cell. Tipe ini merupakan pengembangan dan campuran dari tata letak produk dan tata letak proses. Unsur tata letak produk tercermin pada peletakan mesin di machine cells secara berurutan sesuai urutan pengerjaan. Unsur tata letak proses terlihat pada kenyataan bahwa apabila dalam penataan ada dua mesin yang sama fungsinya, maka mesin yang sama itu ditempatkan pada ruangan atau work centre yaang sama. Model ini banyak dipakai di Jepang dan pengembangannya dipelopori oleh toyota.
b.      Flexible manufacturing system (FSM)
   Tata letak ini muncul sejak alat-alat berbasis komputer dipakai di unit pabrikasi. Mesin yang dipakai sudah merupakan Computer Numeric Control (CNC) atau Direct Numeric Control (DNC). CNC adalah mesin berbasis komputer untuk mengerjakan tugas tertentu, sedangkan DNC adalah mesin berbasis komputer yang dirancang untuk mengerjakan lebih dari satu macam pekerjaan. Dalam perkembangan selanjutnya, FMS Layout dikembangkan menjadi Computer Integrated Manufacturing System Layout (CIM). Semua peralatan yang diperlukan untuk mendukung kegiatan produksi dirancang menjadi mesin berbasis komputer. Alat perlengkapan itu selanjutnya diintel
grasikan dengan unit pabrikasi.
   Pada dasarnya FSM merupakan integrasi dari beberapa peralatan mesin berbasis komputer dengan sistem penanganan material otomatis (outomated material handling system) yang dikendalikan oleh jaringan komputer yang lazim. FSM dapat digunakan untuk menghasilkan berbagai jenis keluaran. FSM ini berbeda dengan otomatisasi tradisional, mesin yang diotomatisaasi itu hanya dapat mengerjakan satu jenis keluaran dalam jumlah yang besar (fixed automation, FA)..[7]


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
      Definisi tata letak secara umum adalah susunan fasilitas fasilitas produksi untuk mempeoleh efisiensi pada suatu produksi. Perancangan tataletak meliputi pengaturan tata letak fasilitas-fasilitas operasi dengan memanfaatkan area yang tersedia untuk penempatan mesin-mesin, bahan-bahan, perlengkapan untuk operasi, personalia dan semua peralatan serta fasilitas yang digunakan dalam proses produksi.
      Tujuan perancangan tata letak fasilitas diantaranya adalah memanfaatkan area yang ada, pendayagunaan pemakaian mesin, tenaga kerja, dan fasilitas produksi lebih besar, meminimumkan material handling, mengurangi waktu tunggu dan mengurangi kemacetan dan kesimpangsiuran, memberikan jaminan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan bagi tenaga kerja., mempersingkat proses manufaktur, mengurangi persediaan setengah jadi, mempermudah aktivitas supervisi
Jenis-jenis Rancangan Tata Letak meliputi tata letak menurut barang (Product Layout, tata letak enurut pekerjaan (Process Layout), tata letak tetap (Fixed Position Layout), Tataletak Gabungan (Combination Layout), tata Letak Gudang (Warehouse Layout), Tata Letak Kantor (Office Layout).













PENYELESAIAN KASUS TATA LETAK
1.      Kasus Tata Letak Proses
Misalkan sebuah Department Store memiliki empat departemen, yitu Departemen Pakaian Laki-Laki (anak-anak, remaja, dan dewasa), Departemen Pakaian Perempuan (anak-anak, remaja, dan dewasa), Departemen Sepatu dan Sandal (anak-anak, remaja, dan dewasa), dan Departemen Alat-Alat Rumah Tangga. Hasil survey selama 100 hari menghasilkan pola arus kunjungan rata-rata pelanggan ke masing-masing Departemen per hari. Datanya disajikan dalam Tabel 9.2 berikut ini:

Tabel 9.2 Data Pola Arus Kunjungan Pelanggan
Departemen
Busana
Laki-laki
Busana Perempuan
Sepatu & Sandal
Alat-Alat Rumah Tangga
Mainan
Anak-Anak
Busana
Laki-laki
0
10
25
0
10

Busana Perempuan
10
0
10
5
20
Sepatu & Sandal
5
5
0
15
5
Alat-Alat Rumah Tangga
0
15
0
0
5
Mainan Anak-Anak
0
5
10
0
0

Anda diminta untuk membuat tata letak yang meminimumkan non-adjacent load. Diandaikan biaya energy antar departemen Rp. 50,00 dan apabila melampui departemen lain terlebih dahulu, maka biaya akan naik dengan kelipatan jumlah departemen yang dilampui dikali Rp. 50,00.
Pemecahan:
Lebih dahulu dilakukan perhitungn jumlah gerakan antar departemen, dan kemudian membuat tabel arus kunjungan antardepartemen.
Busana Laki-laki → Busana Perempuan = 10 + 10 = 20
Busana Laki-laki ← → Sepatu & Sandal 25 + 5 = 30
Busana Laki-laki ← → Alat-alat Rumah Tangga = 0 + 0 = 0
Busana Laki-laki ← → Mainan Anak-anak = 10 + 0 = 10
Busana Perempuan ← → Sepatu & Sandal = 10 + 5 = 15
Busana Perempuan ← → Alat-alat Rumah Tangga = 5 + 15 = 20
Busana Perempuan ← → Mainan Anak-anak = 20 + 5 = 25
Sepatu & Sandal ← → Alat-alat Rumah Tangga = 15 + 0 = 15
Sepatu & Sandal ← → Mainan Anak-anak = 5 + 10 = 15
Alat-alat Rumah Tangga ← → Mainan Anak-anak = 5 + 0 = 5
Dijelaskan bahwa hubungan antara Departemen Busana Laki-laki dan Departemen Busana Perempuan juga mencakup hubungan antara Departemen Busana Perempuan dan Departemen Busana Laki-laki. Demikian juga departemen lainnya.
Pemetaa dilakukan secara trial and eror. Untuk kasus ini ada lima deparemen. Untuk pembuatan lembar kerja layout dipakai bagan 2 x 3 dan hasilnya disajikan pada Gambar 9.8
Tabel 9.3 Perhitungan Biaya Tata Letak
Depart.
BL
BP
SS
Alt. RT
Mainan
Total
BL
0
15 (50)
25 (2) (50)
0
10 (50)
3,750
BP
10 (50)
0
10 (50)
5 (50)
20 (50)
2,250
SS
5 (50) (2)
5 (50)
0
15 (50) (20)
5 (50)
2,500
Alt. RT
0
15 (50)
0
0
5 (50)
1,000
Mainan
0
5 (50)
10 (50)
0
0
750
Total
1,000
2,000
3,500
1,750
2,000
10,250

Tabel perhitungan menunjukkan bahwa biaya dari energy yang dikeluarkan oleh pelanggan yang berkunjung senilai Rp. 10.250,00 per hati. Angka Rp. 50,00 adalah biaya satuan, dan angka 2 adalah pengali biaya karena melampui dua departemen sebelum tiba di departemen sasaran.

 

 


Tabel 9.4 Biaya Tata Letak Sesudah Dimodifikasi
Depart.
BL
BP
SS
Alt. RT
Mainan
Total
BL
0
15 (50)
25 (50)
0
10 (50)
2,500
BP
10 (50)
0
10 (50)
5 (50)
20 (50)
2,250
SS
5 (50)
5 (50)
0
15 (50) (2)
5 (50)
2,500
Alt. RT
0
15 (50)
0
0
5 (50)
1,000
Mainan
0
5 (50)
10 (50)
0
0
750
Total
750
2,000
2.250
1,750
2,000
8.750

Melalui modifikasi, biaya dapat ditekan dari Rp. 10.250,00 menjadi Rp. 8.750,00 atau turun sekitar 15 %. Non-adjecent load berkurang dari dua buah dengan volume gerakan 15 + 30 = 45 gerakan menjadi hanya satu buah dengan volume gerakan 15 buah. Dengan melakukan proses trial and eror diperoleh hasil berikut

 
:
Tabel 9.5 Biaya Tata Letak Sesudah Dimodifikasi Lanjut
Depart.
BL
BP
SS
Alt. RT
Mainan
Total
BL
0
15 (50)
25 (50)
0
10 (50)
2,250
BP
10 (50)
0
10 (50)
5 (50)
20 (50)
2,250
SS
5 (50)
5 (50)
0
15 (50)
5 (50) (2)
1,750
Alt. RT
0
15 (50)
0
0
5 (50)
1,000
Mainan
0
5 (50)
10 (50)
0
0
750
Total
750
1.750
2.250
1,000
2,250
8.000

Melalui Modifikasi yang kedua ini, biaya turun dari Rp. 8.750,00 menjadi Rp. 8.000,00 atau turun sekitar  8,57 %. Untuk mendapatkan hasil optimal atas process layout, dewasa ini sudah tersedia berbagai perangkat lunak computer, antara lain CRAFT (Computerized Relative Allocation of Facilities Technique) untuk melakukan penataan block diagramming. PREP, pengembangan CRAFT untuk menangani tata letak block diagram pada bangunan bertingkat, CORELAP (Computerized Relationship Layout Programming), merupakan metode non kuantitatif untuk melakukan penentuan tata letak dengan menggunakan relationship diagramming. ALDEP, pengembangan CORELAP untuk menangani relationship diagramming pada bangunan bertingkat
2.      Tata Letak Produk
Pada tata letak produk sebagaimana telah dikemukakan di depan, bahwa kendala utama yang harus dipecahkan ialah terciptanya keseimbangan beban antara semua work station atau pekerja yang ada dalam lini. Keseimbangan beban ini lazim disebut line balancing.
Keseimbangan beban di lini rakitan dibatasi oleh dua faktor, yaitu persyaratan hubungan presidensi kegiata, dan pembatasan waktu siklus. Persyaratan presidensi ini merupakan pembatasan yang bersifat fisik dari urutan pekerjaan perakitan pada lini perakitan yang ada. Sebagai contoh, di kapsalon sekalipun petugas pasang sanggul sekarang ini tidak bekerja, namun dia tidak memasang sanggul itu  sebelum cuci muka an keramas menyelesaikan pekerjaannya. Urutan pekerjaan ini berguna untuk membuat diagram hubungan presidensi, yang selanjutnya akan menjadi dasar untuk menentukan alokasi beban tugas setiap pekerja atau work center.
Waktu siklus (cycle time) merupakan tipe pembatas di lini rakitan yang berkenaan dengan penetapan waktu total pengerjaan yang mungkin untuk dipergunakan pada setiap work station atau setiap pekerjaan dalam usaha mencapai target keluaran yang telah ditetapkan. Waktu siklus yang diinginkan dihitung melalui operasi pembagian atas waktu operasi kegiatan yang tersedia dengan target keluaran yang sudah ditentukan.
Misalkan, untuk menyelesiakan pengerjaan selembar kemeja diperlukan waktu 25 menit. Jam kerja efektif per hari adalah 7 jam dan taeget keluaran 60 lembar per hari, maka :

Selanjutnya dihitung jumlah work center atau work station atauu pekerja yang diperlukan dalam lini, yaitu
Jumlah waktu semua aktivitas merupakan jumlah dari waktu pelaksanaan kegiatan yang ada dan harus diselesaikan untuk menghasilkan satu unit keluaran. Untuk melakukan penyeimbangan beban (line balancing) ini, paling tidak harus ditempuh langkah berikut:
1.    Buat diagram hubungan urutan pekerja dan beri label spesifik.
2.    Hitung waktu siklus yang disyaratkan pada lini pengerjaan yang bersangkutan.
3.    Hitung jumlah teoritis dari work station atau pekerja yang diperlukan.
4.    Kelompokkan unsure aktivitas ke dalam setiap work station atau setiap pekerja dengan memperhatikan pembatas waktu siklus dan hubungan presidensi kegiatan.
5.    Pembebanan tugas ke work station harus memperhatikan criteria yang tersedia (alokasi menurut waktu pengerjaan terlama, atau paling banyak pengikut).
6.    Hitung derajat efesiensi dari lini pengerjan.
7.    Tentukanlah, apakah jumlah actual work station sama dengan jumlah teoretis, dan apakah derajat efisiensi sama dengan yang diinginkan oleh pihak manajemen. Apabila terjadi perbedaan yang signidikan, maka lakukan evaluasi ulang dengan mengulangi langkah ke-4 di atas.
Efesiensi dihitung dengan membagi dari waktu semua aktivitas (T) dengan perkalian jumlah atktual work station (Na) atau pekerja dan waktu siklus (Cd).
Di mana :
E          = derajat efesiensi
T          = waktu total pengerjaan 1 unit produk
Na        = jumlah actual work station atau pekerja
Cd           = waktu siklus yang disyaratkan
Waktu menganggur dari lini pengerjaan di peroleh melalui operasi : 1 – E, dimana E = derajat efisiensi.
Misalkan : Sebuah usaha rumah tangga mengelola usaha konveksi antara lain memproduksi kemeja laki-laki dewasa. Kegiatan yang ada, urutan, dan waktu setiap kegiatan disajikan dalam Tabel 9.6.
Jam kerja efektif per hari 7 jam (8 jam potong waktu istirahat 1 jam).
Manajemen mentargetkan, per hari dihasilkan 42 lembar. Menurut Tabel 9.6,
T = 42 menit
Berdasarkan data itu, Anda diminta untuk menghitung :
a.    Cd’Nt, dan Na.
b.    Membuat analisis keseimbangan beban tugas menurut waktu terlama.
c.    Buat analisis mengenai efesiensi sistem.
Tabel 9.6 Jenis Pekerjaan, Urutan, dan Waktu Pengerjaan Tugas
No.
Kegiatan
Simbol
Pendahulu
Waktu (menit)
1.       
Meletakkan kain pada pola
A
-
2
2.       
Menggunting
B
A
4
3.       
Jahit lengan dan manset
C
B
5
4.       
Jahit kerah (leher)
D
B
4
5.       
Jahit pinggir badan baju
E
B
4
6.       
Menyatukan komponen
F
C,D,E
6
7.       
Membuat lubang kancing
G
F
4
8.       
Pasang kancing dan setrika
H
G
6
9.       
Lipat dan rapikan
I
H
3
10.   
Kemas dan finishing
J
I
4
Total
42

Penyelesaian:
a.       Diagram Pelaksanaan kegiatan/Pekerjaan
d.      Efisiensi alokasi beban adalah
 
Fasilitas akan menganggur sekitar 100% - 84% = 16%



Daftar Pustaka

Hari Purnomo, Perncanaan dan Perancangan Fasilitas, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004).
Murdifin Haming dan Mahfud Nurnajamuddin, Manajemen Produksi Modern Operasi Manufaktur dan Jasa Buku 1(Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2007).
Pontas M. Pardede, Manajemen Operasi dan Produksi : Teori, Model dan Kebijakan, (Yogyakarta : Andi Offset, 2005).
T. Hani Handoko, Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi Edisi 1, (Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta 1984).


[1] Hari Purnomo, Perncanaan dan Perancangan Fasilitas, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004), hal. 117-120
[2] T. Hani Handoko, Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi Edisi 1, (Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta 1984), hal. 102-103.
[3] T. Hani Handoko, Ibid., hal. 104-105.
[4] Pontas M. Pardede, Manajemen Operasi dan Produksi : Teori, Model dan Kebijakan, (Yogyakarta : Andi Offset, 2005), hal. 165-170.
[5] Murdifin Haming dan Mahfud Nurnajamuddin, Manajemen Produksi Modern Operasi Manufaktur dan Jasa Buku 1, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007), hal.306-307.
[6] T. Hani Handoko, Op.Cit, hal. 111-118.
[7] Murdifin Haming dan Mahfud Nurnajamuddin, Op.Cit, hal.307-311.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar