STRATEGI
TATA LETAK
MAKALAH
Mata kuliah : Manajemen
Operasi
Semester V Tahun 2015
Dosen pengampu : Tina
Martini, SE, M.Si

Disusun oleh :
Kelompok 8
Kelas
ESRD-V
1. Erma
Muftia N 1320210154
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN
SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM
(EKONOMI
SYARI’AH)
TAHUN 2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Setelah gedung tersebut didirikan,
dan setelah mesin-mesin yang dibutuhkan diadakan, maka selanjutnya perusahaan
harus merencanakan atau merancang letak tiap pusat kerja atau mesin atau
peralatan didalam setiap sarana itu sendiri juga mempengaruhi daya guna sarana
operasi dan produksi secara keseluruhan. Jarak antara satu peralatan dengan
peralatan lainnya akan menentukan besarnya biaya penanganan bahan-bahan (material
handling cost) yang harus dipindahkan dari satu pusat kerja kepusat kerja
lainnya. Biaya ini merupakan bagian dari biaya pengolahan barang atau jasa yang
dibuat oleh perusahaan. Semakin baik penataan letak setiap peralatan, maka
semakin kecil pula biaya penanganan bahan-bahan dan semakin besar pula
kemungkinan untuk menghemat biaya pengolahan keseluruhan.
Tata letak atau layout merupakan
salah satu keputusan strategi operasional yang turut menentukan efisiensi
operasi perusahaan dalam jangka panjang. Tata yang tepat menunjukkan ciri-ciri
adanya penyesuaian tata letak operasional itu dengan jenis produk atau jasa
yang dihasilkan. Tata letak yang baik akan memberikan konstribusi terhadap
peningkatan produktifitas perusahaan. Hal tersebut disebabkan oleh adanya
kelancaran arus faktor-faktor produksi yang akan diproses, mulai sejak
disiapkan dan diserahkan kedalam
pemrosesan sampai menjadi produk akhir.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
Pengertian dan tujuan tata letak?
2.
Bagaimana
jenis-jenis bangunan dan pertimbangan desain fasilitas?
3.
Jenis-jenis
rancangan tata letak?
4.
Apa
saja metoda-metoda layout?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian dan Tujuan Tata Letak
Definisi tata letak secara umum
adalah susunan fasilitas fasilitas produksi untuk memperoleh efisiensi pada
suatu produksi. Perancangan tata letak meliputi pengaturan tata letak
fasilitas-fasilitas operasi dengan memanfaatkan area yang tersedia untuk
penempatan mesin-mesin, bahan-bahan, perlengkapan untuk operasi, personalia dan
semua peralatan serta fasilitas yang digunakan dalam proses produksi.
Perancangan tata letak juga harus menjamin kelancaran aliran bahan-bahan,
penyimpanan bahan, baik bahan baku, bahan setengah jadi maupun produk-produk
jadi.
Pada umumnya tata letak dan
modifikasinya akan senantiasa diperlukan disetiap perusahaan. Kebutuhan
memodifikasi itu disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Terjadinya perubahan desain produk secara
terus menerus
Perubahan desain suatu produk secara terus menerus untuk membuat
produk baru dalam suatu perusahaan akan mengakibatkan terdapatnya perencanaan
tata letak yang baru pula bagi perusahaan tersebut. Perubahan desain produk ini
seringkali akan mengakibatkan pula terjadinya perubahan di dalam pelaksanaan
proses produksi ini kadang-kadang merupakan perubahan yang tidak fundamental,
tetapi juga sering terjadi perubahan proses produksi yang cukup mendasar.
Besar atau kecilnya skala perubahan proses produksi yang
diakibatkan oleh perubahan desain produk ini akan sangat tergantung kepada
banyak dan sedikitnya perubahan atas desain produk yang bersangkutan. Perubahan
pelaksanaan proses produksi ini berapapun kecilnya akan berakibat kepada
kebutuhan untuk menyesuaikan tata letak yang telah ada di perusahaan tersebut.
Agar tata letak yang dipergunakan di masing-masing pabrik senantiasa sesuai
dengan kebutuhan pelaksanaan produksi yang dijalankan perusahaan yang
bersangkutan, maka modifikasi perlu diadakan sewaktu-waktu. Dengan cara itu,
tata letak yang tersedia di dalam pabrik atau perusahaan yang bersangkutan akan
selalu aktual serta relevan dengan kebutuhan pengolahan. perubahan tata letak
tersebut tidak selalu berarti perubahan total atau mendasar dari tata letak
yang ada, melainkan dapat saja merupakan perubahan-perubahan kecil yang
bertujuan untuk menyesuaikan perubahan yang terjadi dalam desain dan proses
produk yang dilaksanakan oleh perusahaan.
2. Adanya perubahan volume permintaan
Terjadinya perubahan volume permintaan terhadap produk yang
dihasilkan perusahaan akan berakibat pula terhadap volume produksi. Perubahan
itu harus dilakukan penyesuaian agar volume produksi selalu sama dengan, atau
mampu menjawab volume permintaan yang ada. Perubahan volume aktivitas tersebut
tentu akan berdampak pada tata letak yang ada dan dipergunakan oleh perusahaan
pada waktu sekarang ini. Perubahaan atas volume permintaan dapat berbentuk
kenaikan permintaan dan dapat pula merupakan penurunan permintaan. Perubahan
yang terjadi, secara linear harus selalu disesuaikan dengan tingkat produksi
perusahaan yang bersangkutan.
Adanya kenaikan atas volume permintaan terhadap produk perusahaan
akan mengakibatkan perusahaan memiliki kesempatan untuk menaikan tingkat
produksinya guna memenuhi kenaikan permintaan yang terjadi. Sebaliknya, apabila
volume permintaan terhadap produk yang dihasilkan menurun, maka penurunan
volume itu akan berakibat pula terhadap penurunan tingkat produksi perusahaan
yang bersangkutan. Penurunan volume produksi ini lebih lanjut akan
mengakibatkan terjadinya penurunan tingkat kesibukan di bidang operasi.
3. Kemungkinan penggantian fasilitas agar
selalu baru (Up to Date)
Kenyataan menunjukkan bahwa mesin dan peralatan produksi yang
dipergunakan oleh perusahaan, lambat laun akan mengalami keusangan. Keusangan
ini dapat terjadi karena faktor teknis dan juga karena faktor teknologi. Secara
teknis, peraltan dan mesin akan mengalami kemunduran prestasi karena secara
alamiah peralatan dan mesin itu akan mengalami kegugusan akibat penggunaan.
Disamping itu, dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, industri alat
berat akan berusaha menciptakan mesin-mesin dan peralatan produksiyang semakin
canggih teknologinya.
4. Adanya penambahan produk baru
Penambahan produk baru serta pengembangan produk yang sudah ada
akan menjadi kegiatan yang selalu adadi dalam sebuah perusahaan manufaktur.
Berdasarkan teori siklus hidup produk, maka setiap kali produk telah sampai
pada tingkat penjualan maksimum (tahap kedewasaan), maka pada kali berikutnya,
penjualan perusahaan akan mengalami penurunan.
5. Adanya kondisi lingkungan kerja yang
tidak memuaskan
Didalam suatu perusahaan, kondisi lingkungan kerja akan sangat
berpengaruh terhadap tingkat produktifitas kerja karyawan. Faktor-faktor dari
kondisi lingkungan kerja ini perlu direncanakan dengan baik agar segenap
karyawan perusahaan dapat bekerja dengan tingkat produktifitas yang lebih baik.
Keluhan-keluhan para karyawan dalam mengeemban tugas yang terkait dengan proses
produksi yang dilaksanakan, sebaiknya ditanggapi dengan proposional dan
profesional oleh manajemen perusahaan. Keluhan
itu dapat dipergunakan sebagai bahan masukan penyusun perbaikan kondisi
linkungan kerja ini, manajemen perusahaan perlu menyusun perencanaan tata letak
pabrik yang cocok dengan berbagai hal yang dibutuhkan oleh pelaksanaan
pekerjaan yang dibebankan kepada para karyawan. Dengan cara demikian, segenap
karyawan perusahaan dapat bekeja dengan lebih baik, produktif, efektif,
efisien, dan ekonomis.
6. Resiko kecelakaan kerja dalam proses
produksi
Di dalam suatu perusahaan seringkali terdengar tentang terjadinya
kecelakaan kerja pada waktu menjalankan proses produksi. Kecelakaan kerja dapat
saja merupakan kecelakaan-kecelakaan kecil yang dianggap sebagai kejadian yang
biasa, atau akibat dari kecelakaan tersebut tidak begitu serius sehingga tidak
mendapatkan protes keras dari karyawan perusahaan. Namun demikian, terdapat
kemungkinan kecelakaan yang terjadi dapat menimbulkan akibat yang cukup fatal
kepada karyawan. Kewajiban manajemen perusahaan untuk melkukan langkah-langkah
proteksi dan perlindungan agar pada waktu pekerja lengah atau kurang hati-hati
resiko kecelakaan kerja itu tetap minimal.
Dihubungkan dengan usaha meminimumkan kecelakaan kerja ini, maka
tata letak mesin dan peralatan produksi harus dilakuakan sedemikian rupa
sehingga dicapai derajat kesesuaian yang terjadi dengan kebutuhan kerja. Ksesuaian
tata letak dengan kebutuhan pelaksanaan pekerjaan, serta dilengkapinya mesin
dan peralatan produksi dengan alat-alat pencegah bahaya, akan menurunkan resiko
kecelakaan kerja. Dengan demikian, penyusunan tata letak pabrik, peletakan,
penataan mesin, dan peralatan produksi, harus menciptakan linkungan kerja yang
aman kepada para karyawan pabrik yang bersangkutan.
7. Kebutuhan akan penghematan biaya
Tat letak memiliki hubungan erat dengan kelancaran arus material,
sitematisasi arus pekerjaan, dan pola gerak segenap tenaga kerja pabrik. Arus
material (bahan baku, bahan penolong, atau komponen perakitan) berdampak
lansung pada material handling cost (biaya penganan bahan). Pekerjaan
yang tidak sistematis akan berakibat terjadinya arus komponen atau bahan yang
bolak-balik di tempat pengolahan. Jika hal ini terjadi, bukan saja biaya
penanganan bahan yang meningkat, tetapi juga upah tenaga kerja. Upah yang harus
dibayar meningkat karena waktu pegerjaan produk bertambah. Akibatnya
produktivitas menurun, efektifitas, dan efisiensi kerja juga menurun. Dengan
demikian sejak dari awal, faktor-faktor yang merugikan itu harus sudah
diperhitungkan dalam perencanaan tata letak.
Pada dasarnya perancangan tata letak
ini adalah optimasi pengaturan fasilitas-fasilitas operasi sehingga nilai yang
diciptakan oleh sistem produksi akan maksimal. Adapun secara rinci beberapa
tujuan perancangan tata letak fasilitas diantaranya adalah sebagai berikut:
1.
Memanfaatkan
area yang ada
Perancangan
tata letak yang optimal akan memberikan solusi dalam penghematan penggunaan
area (space) yang ada, baik area untuk produksi, gudang, service,
dan untuk departemen lainnya.
2.
Pendayagunaan
pemakaian mesin, tenaga kerja, dan fasilitas produksi lebih besar.
Pengaturan
yang tepat akan dapat mengurangi investasi didalam peralatan dan perlengkapan
produksi. Peralatan-peralatan dan perlengkapan dalam proses produksi dapat
dipergunakan didalam tingkat efisiensi yang cukup tinggi. Begitu juga tenaga
kerja dan fasilitas produksi lainnya akan dapat berdaya guna.
3.
Meminimumkan
material handling
Selama
proses produksi/operasi perusahaan akan selalu terjadi aktivitas perpindahan
baik itu bahan baku,tenaga kerja, mesin ataupun peralatan produksi lainnya.
Proses perpindahan ini memerlukan biaya yang relatif cukup besar. Dengan
demikian, perancangan tata letak yang baik harus mempu meminimalkan
aktivitas-aktivitas pemindahan bahan. Tata letak sebaiknya dirancang sedemikian
rupa sehingga memungkinkan jarak angkut dari masing-masing fasilitas dapat
diminimalisir.
4.
Mengurangi
waktu tunggu dan mengurangi kemacetan dan kesimpangsiuran.
Waktu
tunggu dalam proses produksi (produksi delays) yang berlebihan akan
dapat dikurangi dengan pengaturan tata letak yang terkoordinasi dengan baik.
Banyaknya perpotongan dari suatu lintasan produksi seringkali menyebabkan
terjadinya kemacetan-kemacetan.
5.
Memberikan
jaminan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan bagi tenaga kerja.
Para
tenaga kerja tentu saja menginginkan bekerja dalam lingkungan yang aman,
nyaman, dan menyenangkan. Hal-hal yang dianggap membahayakan bagi kesehatan dan
keselamatan tenaga kerja harus dihindari.
6.
Mempersingkat
proses manufaktur
Dengan
memperpendek jarak antara operasi satu dengan operasi berikutnya, maka waktu
yang diperlukan dari bahan baku untuk berpindah dari satu staiun kerja ke
stasiun kerja yang lainnya dapat dipersingkat pula. Dengan demikian total waktu
produksi juga dapat dipersingkat.
7.
Mengurangi
persediaan setengah jadi
Persediaan
barang setengah jadi (work in process inventory) terjadi karena belum
selesainya proses produksi dari produksi yng bersangkutan. Persediaan barang
setengah jadi yang tinggi tidak menguntungkan perusahaan karena dana yang
tertanam tersebut sangat besar. Perancangan tata letak yang baik hendaknya
memperhatikan keseimbangan lintasan, karena menumpuknya barang setengah jadi
salah satunya disebabkan oleh tidak seimbangnya lintasan produksi.
8.
Mempermudah
aktivitas supervisi
Penempatan
ruangan supervisor yang tepat akan memberikan keleluasaan begi supervisor untuk
mengawasi aktivitas yang sedang berlangsung diarea kerja.[1]
B.
Jenis-Jenis Bangunan dan Berbagai Pertimbangan Desain Fasilitas
Lainnya
Jenis-Jenis
Bangunan
Secara umum, bangunan-bangunan dapat dibedakan menjadi:
1.
Bangunan
Berlantai Tunggal
Bentuk
bangunan berlantai tunggal merupakan jenis yang paling umum sekarang. Bangunan
ini dapat melebar atau memanjang sesuai kebutuhan dan dapat dengan mudah
diperluas. Bangunan berlantai tunggal tidak mempunyai tangga-tangga, lift atau
lerengan yang menghubungkan lantai-lantai. Pengangkutan bahan-bahan dari satu
tahapan proses ke tahapan berikutnya lebih mudah dan tidak mahal karena
dilaakukan secara horizontal dan tidak naik turun. Peralatan-peralatan berat
dapat diletakkan diatas fondasi yang terpisah dan biaya pembangunannya lebih
murah.
Kelemahan
dari bentuk bangunan berlantai tunggal yaitu bangunan ini memerlukan ruangan dasar
yang lebih luas dan bila atap berbentuk datar serta tidak ada kaca pada
langit-langit bangunan diperlukan penerangan artifisial ddihampir seluruh
bagian pabrik, sistem ventilasi dan pendingin udara.
2.
Bangunan
Bertingkat dan Arsitektur
Perkembangan
arsitektur fasilitas dapat mempunyai dampak penting pada struktur biaya tetap
dan variabel bangunan, seperti sikap para karyawan yang bekrja didalamnya.
Banyak organisasi sekarang menghabiskan lebih banyak dananya untuk merancang
fasilitas-fasilitas mereka, dan mencoba untuk membuatnya baik secara fungsional
ekonomis maupun secara arsitektur menarik.[2]
Berbagai
Pertimbangan Disain Fasilitas Lainnya
Adapun faktor penting
dalam perencanaan dan perhitungan disain bangunan dan fasilitas lainnya adalah
sebagai berikut:
1.
Biaya-biaya
bangunan
Biaya fasilitas baru tergantung pada keperluan. Biaya-biaya tentu
saja berbeda-beda untuk daerah yang berbeda pula.
2.
Sistem
komunikasi dalam pabrik
Dalam pabrik, para karyawan sering berkomunikasi satu sama
lainuntuk memberikan dan menerima pengarahan atau perintah serta mengirim dan
menerima laporan-laporan.
3.
Keamanan
Disain fasilitas perlu mempertimbangkan perlindungan tehadap
disain-disain produk, formula-formula, rahasia-rahasia organisasi dan kekayaan
organisasi. Contoh, kamera cctv, sistem alarm atau peralatan tanda-tanda bahaya
lainnya.
4.
Kebutuhan-kebutuhan
ruangan
Kebutuhan ruangan untuk mesin, produk, ruang pelayanan dan overhead.
5.
Peralatan
penanganan bahan
Jenis peralatan penanganan bahan yang digunakan akan mempengaruhi
disain fasilitas. Pengangkutan bahan dengan truk atau frok lift
memerlukan gang-gaang yang lebih luas daripada dengan ban berjalan.[3]
C.
Jenis-jenis Rancangan Tata Letak
1.
Tata
letak Menurut Barang (Product Layout)
Dengan rancangan tata letak menurut barang, seluruh jenis mesin
yang mengerjakan tugas yang berbeda dikumpulkan pada satu tempat. Didalam
kumpulan itu terdapat satu atau beberapa mesin untuk setiap kegiatan sehingga
bahan baku yang mengalami pengolahan pada mesin yang berada pada urutan pertama
sudah akan menjadi barang jadi setelah melalui mesin yang menjadi urutan
terakhir. Seluruh mesin diurutkan menurut urutan tahap-tahap kegiatan.
Sebagai contoh, perusahaan pembuat piring alumunium mempunyai
serangkaian kegiatan sebagai berikut: pemotongan aumunium, perlengkungan bulatan alumunium, pengecatan piring
alumunium. Misalkan bahwa perusahaan pembuat piring ini membuat barang yang
bersagkutan dengan jenis jenis pengolahan yang terus menerus. Tata letak yang
digunakan untuk jenis pengolahan seperti ini biasanya adalah tata letak menurut
barang.
Keunggulan
rancangan tata letak menurut barang:
a.
Jumlah
biaya penanganan barang (material handling) umumnya kecil.
b.
Pekerjan-pekerjaan
disederhanakan sehingga memungkinkan penggunaan tenaga kerja manusia yang
memiliki tingkat keahlian yang rendah
c.
Jumlah
persediaan barang dalam pengerjaan sangat kecil
d.
Pengawasan
tidak terlalu banyak dan tidak terlalu rumit
Kelemahan-kelemahannya
adalah:
a.
Seluruh
mesin yang digunakan sangat tergantung satu dengan yang lain.
b.
Kegiatan
pengelolaan sangat kaku atau tidak luwes
2.
Tataletak
Menurut Pekerjaan (Process Layout)
Pada rancangan tata letak menurut peerjaan, mesin-mesin, peralatan
peralatan, tenaga kerja manusia disusun sedemikian rupa dimana mesin-mesin yang
digunakan untuk melaksanakan pekerjaan yang sejenis atau serupa dikumpulkan
bersama-sama pada satu tempat. Dengan cara ini ditempat yang bersangkutan
dilaksanaan hanya satu jenis kegiatan, sedangkan setiap kegiatan lainnya
dilaksanakan dibeberapa tempat, dan dengan sejumlah mesin lainnya. Dalam
perancangan tata letak seperti itu kegiatan pengolahan yang dilakukan adalah
terputus-ptus. Bahan-bahan yang sudah melalui satu jenis pekerjaan dapat
disimpen sebagai persediaan sebelum diteruskan ke jenis kegiatan pekerjaan
berikutnya. Satu atau sebagian besar mesin
yang digunakan untuk melakukan pekerjaan yang sama dapat berhenti tanpa
mempengaruhi kegiatan mesin-mesin yang lainnya sehingga jumlah waktu yang terbuang
tidak terlalu besar. Tata letak seperti ini biasanya digunakan untuk membuat
barang berdasarkan pesanan.
Keunggulan
a.
Kegiatan
pengolahan yang lentur dimana tidak ada satu penyeragaman atau pembakuan untuk
barang yang dibuat.
b.
Tenaga
kerja manusia menjadi terlatih dan cepat menjadi terampil karena mesin-mesin
yang digunakan pada umunya tidak dirancang untuk bekerja sendiri.
Kelemahan
a.
Biaya
penanganan yang tinggi
b.
Kegiatan
pengawasan lebih banyak dan rumit.
3.
Tataletak
Tetap (Fixed Position Layout)
Dengan rancangan tata letak tetap, mesin mesin, peralatan tidak
disusun menurut urutan pekerjaan yang dilakukan. Yang ditetapkan dalam
rancangan ini adalah letak barang jadi setelah selesai diolah dan siap untuk
digunakan. Segala jenis bahan yang akan diolah, termasuk mesin-mesin dan
manusia yang dibutuhkan, dibawa ketempat bersangkutan. Sebagai contoh adalah
pembangunan jalan, gedung, jembatan atau kegiatan pertanian.
Pada pembangunan sebuah gedung, misalnya terlebih dahulu ditetapkan
dimana gedung tersebut harus berada dan terletak., dan disana pulalah ia akan
dibuat. Bahan bahan seperti pasir, semen, batu, bata, dan lain sebagainya dibawa
ketempat tersebut.
Dalam kegiatan operasi seperti ini umumnya terdiri hanya dari satu
satuan seperti sebuah kapal, rumah atau sebuah jembatan.
4.
Tata
letak Gabungan (Combination Layout)
Tata letak gabungan adalah rancangan tataletak sarana operasi dan
produksi yang merupakan gabungan dari tata letak menurut barang dengan tata
letak menurut pekerjaan. Dengan tataletak sepeti ini sebagian ciri-ciri tata letak
menurut barang dan sebgian ciri tata letak menurut pekerjaandapat ditemukan
dalam kegiatan operasi dan produksi tersebut.
Sebagai contoh, dimana pembat piring alumunium pada saat ini
membuat piring alumunium berdasarkan pesanan, dimana harus menyesuaikan dengan
keinginan pemakai. Berbagai pemakai meminta agar cap dan nama perusahaan
pemakai dicetak dipermukaan piring tersebut, sebagian diantara mereka
menginginkan cap dan nama mereka dicetak dengan tinta atau cat sedangkan
sebagian lagi menginginkan dicetak dengan mengukirnya. Untuk para pemakai ini
perusahaan membutuhkan tambahan dua jenis mesin lagi, yaitu mesin pencetak dan
mesin pengukir. Kedua mesin ini tidak dapat dirangkaika dengan ban berjalan
karena penggunaanya tidak tetap, melainkan bergantung pada pesanan.
Contohnya dalam suatu tahap yaitu pembuatan piring alumunium yang
tanpa cap dan nama perusahaan, pekerjaan dilakukan secara terus menerus dengan tata
letak menurut barang. Akan tetapi pada tahap berikutnya yaitu pencetakan cap
dan nama perusahaan pemesan, terdapat dua jenis mesin yang berbeda. Mesin yang
pertama digunakan untuk mencetak sedangkan yang kedua untuk mengukir. Karena
digunakan secara berganti-ganti sesuai dengan keinginan pemesan, jadi kedua
mesin ini tidak dapat dirangkaikan dan tidak dapat pula dirangkaikan dengan mesin-mesin
sebelumya. Dengan demikian kedua mesin terakhir ini harus ditempatkan dengan
tata letak yang membuat keduanya tidak saling terikat, yaitu tata letak menurut
pekerjaan. gabungan kedua kelompok tata letak pusat-pusat kerja ini adalah tata
letak gabungan.
Pada
tata letak gabungan ini akan ditemukan bahwa:
a.
Sebagian
mesin dirancang untuk bekerja sendiri atau setidak-tidaknya tidak terlalu
bergantung kepada tenaga kerja manusia, sedangkan sebagian lagi masih
mengandalkaan tenaga kerja manusia.
b.
Sampai
pada tahap tertentu kegiatan operasi dan produksi dilakukan secara
terputus-putus dimana pada tahap ini terdapat persediaan
barang-dalam-pengerjaan. Pada tahap selanjutnya dilakukan kegiatan operasi dan
produksi yang terus menerus dimana pada tahap ini hampir tidak ada persediaan
barang dalam pengerjaan atau sebaliknya.
c.
Untuk
beberapa kegiatan, mesin-mesin, peralatan dan tenaga kerja manusia yang akan
melaksanakan pekerjaan yang serupa atau sejenis digabungkan pada satu tempat,
dan untuk kegiatan-kegiatan lain susunan ini adalah menurut urutan kegiatan.
d.
Adakalanya
barang dibuat berdasarkan pesanan dan adakalanya dimaksudkan untuk persediaan.
e.
Jumlah
barang yang dibuat setiap satuan waktu pada umumnya besar.
Perlu
diperhatikan bahwa suatu tata letak disebut tata letak gabungan hanya jika dua
jenis tata letak yang berbeda disyaratkan atau dibutuhkan untuk membuat satu
satuan barang. Apabila terdapat satu kilang pengolahan yang meggunakan dua
jenis tata letak yang berbeda, tetapi setiap jnis tata letak tersebut bukanlah
tata letak gabungan. Dalam hal ini keadaannya adalah ada dua jenis tata letak
yang masing-masig digunakan untuk membuat barang yang serupa atau sejenis.[4]
5.
Tata
Letak Gudang (Warehouse Layout)
Tata letak gudang sangat penting untuk diperhatikan, karena tata
letak gudang yang baik akan memudahkan penanganan dan pengendalian persediaan
dapat meminimumkan kerusakan barang serta memudahkan penerimaan dan penyerahan
barang. Tataletak gudang disesuaikan sistem persediaan yang dipergunakan,
seperti sistem persediaan barang dengan FIFO (First in First Out)
artinya barang yang pertama diterima harus siap untuk dikeluarkan pertama kali,
sehingga tata letak harus diatur sedemikian rupa, agar barang mudah untuk
dimasukkan dan dikeluarkan.
Pada perusahaan distributor, penentuan lokasi gudang wilayah, dan
penataan barang sediaan didalamnya sangat penting artinya. Gudang wilayah
adalah ujung terdepan dari perusahaan untk memeroleh daya saing dari kecepatan
menyerahkan produk kepasar atau pelanggan.
6.
Tata
Letak Kantor (Office Layout)
Tata letak kantor bertujuan untuk menentukan posisi karyawan dan
peralatan agar menjamin kelancaran arus pekerjaan dan komunikasi antara semua
pegawai dan manajer yang ada. Ruangan kerja setiap karyawan harus disesuaikan
luasnya dengan volume pekerjaan. Dengan cara demikian, ruangan yang tersedia
akan terpakai secara efisien. Karyawan dituntut untuk dapat bekerja secara
produktif atau efektif.[5]
D.
Metoda-metoda Layout
Perusahaan-perusahaan yang membangun berbagai fasilitas
baru sering menghabiskan dua atau tiga tahun dalam pendahuluan, dimana salah
satu bagian penting adalah pencarian metoda-metoda yang lebih baik untuk
digunakan dalam pabrik baru. Pembangunan suatu pabrik baru memberikan
kesempatan untuk membuat tercapainya perbaikan-perbaikan. Dengan layout
baru memungkinkan untuk menghilangkan praktik-praktik pemborosan.
Cara pertama untuk mulai suatu analisa layout
adalah dengan diagram perakitan (atau bagan proses) yang menunjukkan bagaimana
proses produksi dari bahan mentah sampai produk akhir dilaksanakan. Kemudain
buat daftar kebutuhan operasi untuk membuat komponen-komponen didapatkan dari
departemen teknik.
Cara kedua, penentuan suatu layout baru dengan
memperhatikan produk dari sudut pandangan penanganan bahan (materials handling).
Cara ketiga,
analisa layout mulai dengan menggambar kebutuhan lantai (ruang) yang
menunjukkan seluruh bagian-bagian tetap atau semi tetap-segala sesuatu yang
tidak dapat diubah atau dipindah dengan mudah. Kemudian, semua mesin baru dan
peralatan dapat ditempatkan pada posisi mereka yang ideal.
Metoda Travel Chart atau Load-Path Matrix untuk Layout
Fungsional
Masalah layout
fungsional berpusat pada usaha untuk mengurangi transportasi bahan-bahan dalam
proses (WIP) dari satu departemen ke departemen lain. Metoda travel chart
mencoba untuk meletakkan mesin-mesin secara berdekatan (berjajar) bagi yang
mempunyai aliran produk-produk yang berat. Metoda “travel chart” tidak
mempertimbangkan semua masalah yang dihadapi para ahli teknik dalam analisa layout,
dan hanya memperhatikan aliran produk antara departemen dan bukan transportasi
dalam departemen. Begitu juga dengan pertimbangan perbedaan biaya, besarnya dan
kerapuhan bahan, kebutuhan akan koordinasi, kebutuhan penempatan berbagai
fasilitas pelayanan dan pendukung, atau isolasi suara dan operasi-operasi yang
berbahaya, tidak tidak dimasukkan dalam metoda ini.[6]
Tata Letak Modern
Russel dan Taylor,
Chase et al., Render dan Heizer serta Krajewski dan Ritzman mengemukakan bahwa
bentuk dasar tata letak yang disebutkan terdahulu telah dikembangkan menjadi
tata letak modern yang oleh mereka disebut hybride
layout (tata letak hibrida). Tata letak hibrida yaitu sebagai berikut:
a.
Cellular Layout
Pada tata letak selular, mesin atau peralatan produksi yang
dibutuhkan untuk mengerjakan suatu produksi dikelompokkan dalam suatu machine cell. Tipe ini merupakan
pengembangan dan campuran dari tata letak produk dan tata letak proses. Unsur
tata letak produk tercermin pada peletakan mesin di machine cells secara berurutan sesuai urutan pengerjaan. Unsur tata
letak proses terlihat pada kenyataan bahwa apabila dalam penataan ada dua mesin
yang sama fungsinya, maka mesin yang sama itu ditempatkan pada ruangan atau work centre yaang sama. Model ini banyak
dipakai di Jepang dan pengembangannya dipelopori oleh toyota.
b.
Flexible manufacturing system (FSM)
Tata letak ini muncul sejak
alat-alat berbasis komputer dipakai di unit pabrikasi. Mesin yang dipakai sudah
merupakan Computer Numeric Control (CNC)
atau Direct Numeric Control (DNC).
CNC adalah mesin berbasis komputer untuk mengerjakan tugas tertentu, sedangkan
DNC adalah mesin berbasis komputer yang dirancang untuk mengerjakan lebih dari
satu macam pekerjaan. Dalam perkembangan selanjutnya, FMS Layout dikembangkan menjadi Computer
Integrated Manufacturing System Layout (CIM). Semua peralatan yang
diperlukan untuk mendukung kegiatan produksi dirancang menjadi mesin berbasis
komputer. Alat perlengkapan itu selanjutnya diintel
grasikan dengan unit pabrikasi.
Pada dasarnya FSM merupakan
integrasi dari beberapa peralatan mesin berbasis komputer dengan sistem
penanganan material otomatis (outomated
material handling system) yang dikendalikan oleh jaringan komputer yang
lazim. FSM dapat digunakan untuk menghasilkan berbagai jenis keluaran. FSM ini
berbeda dengan otomatisasi tradisional, mesin yang diotomatisaasi itu hanya
dapat mengerjakan satu jenis keluaran dalam jumlah yang besar (fixed automation, FA)..[7]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Definisi tata letak
secara umum adalah susunan fasilitas fasilitas produksi untuk mempeoleh
efisiensi pada suatu produksi. Perancangan tataletak meliputi pengaturan tata
letak fasilitas-fasilitas operasi dengan memanfaatkan area yang tersedia untuk
penempatan mesin-mesin, bahan-bahan, perlengkapan untuk operasi, personalia dan
semua peralatan serta fasilitas yang digunakan dalam proses produksi.
Tujuan perancangan tata
letak fasilitas diantaranya adalah memanfaatkan area yang ada, pendayagunaan
pemakaian mesin, tenaga kerja, dan fasilitas produksi lebih besar, meminimumkan
material handling, mengurangi waktu tunggu dan mengurangi kemacetan dan
kesimpangsiuran, memberikan jaminan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan bagi
tenaga kerja., mempersingkat proses manufaktur, mengurangi persediaan setengah
jadi, mempermudah aktivitas supervisi
Jenis-jenis Rancangan Tata Letak meliputi tata letak menurut barang
(Product Layout, tata letak enurut pekerjaan (Process Layout),
tata letak tetap (Fixed Position Layout), Tataletak Gabungan (Combination
Layout), tata Letak Gudang (Warehouse Layout), Tata Letak Kantor (Office
Layout).
PENYELESAIAN KASUS TATA LETAK
1. Kasus Tata Letak Proses
Misalkan sebuah Department Store memiliki empat departemen, yitu
Departemen Pakaian Laki-Laki (anak-anak, remaja, dan dewasa), Departemen Pakaian
Perempuan (anak-anak, remaja, dan dewasa), Departemen Sepatu dan Sandal (anak-anak,
remaja, dan dewasa), dan Departemen Alat-Alat Rumah Tangga. Hasil survey selama
100 hari menghasilkan pola arus kunjungan rata-rata pelanggan ke masing-masing
Departemen per hari. Datanya disajikan dalam Tabel 9.2 berikut ini:
Tabel 9.2 Data Pola Arus Kunjungan Pelanggan
|
Departemen
|
Busana
Laki-laki
|
Busana Perempuan
|
Sepatu & Sandal
|
Alat-Alat Rumah Tangga
|
Mainan
Anak-Anak
|
|
Busana
Laki-laki
|
0
|
10
|
25
|
0
|
10
|
|
Busana Perempuan
|
10
|
0
|
10
|
5
|
20
|
|
Sepatu & Sandal
|
5
|
5
|
0
|
15
|
5
|
|
Alat-Alat Rumah Tangga
|
0
|
15
|
0
|
0
|
5
|
|
Mainan Anak-Anak
|
0
|
5
|
10
|
0
|
0
|
Anda diminta untuk membuat tata letak yang meminimumkan non-adjacent
load. Diandaikan biaya energy antar departemen Rp. 50,00 dan apabila melampui departemen lain terlebih
dahulu, maka biaya akan naik dengan kelipatan jumlah departemen yang dilampui
dikali Rp. 50,00.
Pemecahan:
Lebih dahulu dilakukan perhitungn jumlah gerakan antar departemen, dan kemudian membuat tabel arus kunjungan antardepartemen.
Busana Laki-laki → Busana Perempuan = 10 + 10 = 20
Busana Laki-laki ← → Sepatu & Sandal 25 + 5 = 30
Busana Laki-laki ← → Alat-alat Rumah Tangga = 0
+ 0 = 0
Busana Laki-laki ← → Mainan Anak-anak = 10 + 0 = 10
Busana Perempuan ← → Sepatu & Sandal = 10 + 5 = 15
Busana Perempuan ← → Alat-alat Rumah Tangga = 5 + 15 = 20
Busana Perempuan ← → Mainan Anak-anak = 20 + 5 = 25
Sepatu & Sandal ← → Alat-alat Rumah Tangga = 15 + 0 = 15
Sepatu & Sandal ← → Mainan Anak-anak = 5 + 10 = 15
Alat-alat Rumah Tangga ← → Mainan Anak-anak = 5 + 0 = 5
Dijelaskan bahwa hubungan antara Departemen Busana Laki-laki dan
Departemen Busana Perempuan juga mencakup hubungan antara Departemen Busana
Perempuan dan Departemen Busana Laki-laki. Demikian juga departemen lainnya.
Pemetaa dilakukan secara trial and eror. Untuk kasus ini ada lima
deparemen. Untuk pembuatan lembar kerja layout dipakai bagan 2 x 3 dan
hasilnya disajikan pada Gambar 9.8
Tabel 9.3 Perhitungan Biaya Tata Letak
|
Depart.
|
BL
|
BP
|
SS
|
Alt. RT
|
Mainan
|
Total
|
|
BL
|
0
|
15 (50)
|
25 (2) (50)
|
0
|
10 (50)
|
3,750
|
|
BP
|
10 (50)
|
0
|
10 (50)
|
5 (50)
|
20 (50)
|
2,250
|
|
SS
|
5 (50) (2)
|
5 (50)
|
0
|
15 (50) (20)
|
5 (50)
|
2,500
|
|
Alt. RT
|
0
|
15 (50)
|
0
|
0
|
5 (50)
|
1,000
|
|
Mainan
|
0
|
5 (50)
|
10 (50)
|
0
|
0
|
750
|
|
Total
|
1,000
|
2,000
|
3,500
|
1,750
|
2,000
|
10,250
|
Tabel perhitungan menunjukkan bahwa biaya dari energy yang dikeluarkan
oleh pelanggan yang berkunjung senilai Rp. 10.250,00 per hati. Angka Rp. 50,00
adalah biaya satuan, dan angka 2 adalah pengali biaya karena melampui dua
departemen sebelum tiba di departemen sasaran.
|
|
Tabel 9.4 Biaya Tata Letak Sesudah Dimodifikasi
|
Depart.
|
BL
|
BP
|
SS
|
Alt. RT
|
Mainan
|
Total
|
|
BL
|
0
|
15 (50)
|
25 (50)
|
0
|
10 (50)
|
2,500
|
|
BP
|
10 (50)
|
0
|
10 (50)
|
5 (50)
|
20 (50)
|
2,250
|
|
SS
|
5 (50)
|
5 (50)
|
0
|
15 (50) (2)
|
5 (50)
|
2,500
|
|
Alt. RT
|
0
|
15 (50)
|
0
|
0
|
5 (50)
|
1,000
|
|
Mainan
|
0
|
5 (50)
|
10 (50)
|
0
|
0
|
750
|
|
Total
|
750
|
2,000
|
2.250
|
1,750
|
2,000
|
8.750
|
Melalui modifikasi, biaya dapat ditekan dari Rp. 10.250,00 menjadi Rp.
8.750,00 atau turun sekitar 15 %. Non-adjecent load berkurang dari dua
buah dengan volume gerakan 15 + 30 = 45 gerakan menjadi hanya satu buah dengan
volume gerakan 15 buah. Dengan melakukan proses trial and eror diperoleh
hasil berikut
|
Tabel 9.5 Biaya Tata Letak Sesudah Dimodifikasi
Lanjut
|
Depart.
|
BL
|
BP
|
SS
|
Alt. RT
|
Mainan
|
Total
|
|
BL
|
0
|
15 (50)
|
25 (50)
|
0
|
10 (50)
|
2,250
|
|
BP
|
10 (50)
|
0
|
10 (50)
|
5 (50)
|
20 (50)
|
2,250
|
|
SS
|
5 (50)
|
5 (50)
|
0
|
15 (50)
|
5 (50) (2)
|
1,750
|
|
Alt. RT
|
0
|
15 (50)
|
0
|
0
|
5 (50)
|
1,000
|
|
Mainan
|
0
|
5 (50)
|
10 (50)
|
0
|
0
|
750
|
|
Total
|
750
|
1.750
|
2.250
|
1,000
|
2,250
|
8.000
|
Melalui Modifikasi yang kedua ini, biaya turun dari Rp. 8.750,00 menjadi
Rp. 8.000,00 atau turun sekitar 8,57 %.
Untuk mendapatkan hasil optimal atas process layout, dewasa ini sudah
tersedia berbagai perangkat lunak computer, antara lain CRAFT (Computerized
Relative Allocation of Facilities Technique) untuk melakukan penataan block
diagramming. PREP, pengembangan CRAFT untuk menangani tata letak block
diagram pada bangunan bertingkat, CORELAP (Computerized Relationship
Layout Programming), merupakan metode non kuantitatif untuk melakukan
penentuan tata letak dengan menggunakan relationship diagramming.
ALDEP, pengembangan CORELAP untuk menangani relationship diagramming
pada bangunan bertingkat
2. Tata Letak Produk
Pada tata letak produk sebagaimana telah dikemukakan di depan, bahwa
kendala utama yang harus dipecahkan ialah terciptanya keseimbangan beban antara
semua work station atau pekerja yang ada dalam lini. Keseimbangan beban
ini lazim disebut line balancing.
Keseimbangan beban di lini rakitan dibatasi oleh dua faktor, yaitu
persyaratan hubungan presidensi kegiata, dan pembatasan waktu siklus.
Persyaratan presidensi ini merupakan pembatasan yang bersifat fisik dari urutan
pekerjaan perakitan pada lini perakitan yang ada. Sebagai contoh, di kapsalon
sekalipun petugas pasang sanggul sekarang ini tidak bekerja, namun dia tidak
memasang sanggul itu sebelum cuci muka
an keramas menyelesaikan pekerjaannya. Urutan pekerjaan ini berguna untuk
membuat diagram hubungan presidensi, yang selanjutnya akan menjadi dasar untuk
menentukan alokasi beban tugas setiap pekerja atau work center.
Waktu siklus (cycle time) merupakan tipe pembatas di lini rakitan
yang berkenaan dengan penetapan waktu total pengerjaan yang mungkin untuk
dipergunakan pada setiap work station atau setiap pekerjaan dalam usaha
mencapai target keluaran yang telah ditetapkan. Waktu siklus yang diinginkan
dihitung melalui operasi pembagian atas waktu operasi kegiatan yang tersedia
dengan target keluaran yang sudah ditentukan.
Misalkan, untuk menyelesiakan pengerjaan selembar kemeja diperlukan
waktu 25 menit. Jam kerja efektif per hari adalah 7 jam dan taeget keluaran 60
lembar per hari, maka :
Selanjutnya dihitung jumlah work center atau work station atauu pekerja
yang diperlukan dalam lini, yaitu
Jumlah waktu semua aktivitas merupakan jumlah dari waktu pelaksanaan
kegiatan yang ada dan harus diselesaikan untuk menghasilkan satu unit keluaran.
Untuk melakukan penyeimbangan beban (line balancing) ini, paling tidak harus
ditempuh langkah berikut:
1.
Buat diagram hubungan urutan pekerja dan
beri label spesifik.
2. Hitung waktu siklus yang disyaratkan pada lini pengerjaan yang
bersangkutan.
3. Hitung jumlah teoritis dari work station atau pekerja yang diperlukan.
4. Kelompokkan unsure aktivitas ke dalam setiap work station atau setiap
pekerja dengan memperhatikan pembatas waktu siklus dan hubungan presidensi
kegiatan.
5. Pembebanan tugas ke work station harus memperhatikan criteria yang
tersedia (alokasi menurut waktu pengerjaan terlama, atau paling banyak
pengikut).
6. Hitung derajat efesiensi dari lini pengerjan.
7. Tentukanlah, apakah jumlah actual work station sama dengan jumlah
teoretis, dan apakah derajat efisiensi sama dengan yang diinginkan oleh pihak
manajemen. Apabila terjadi perbedaan yang signidikan, maka lakukan evaluasi
ulang dengan mengulangi langkah ke-4 di atas.
Efesiensi dihitung dengan membagi dari waktu semua aktivitas (T) dengan
perkalian jumlah atktual work station (Na) atau pekerja dan waktu
siklus (Cd).
Di mana :
E = derajat efesiensi
T = waktu total pengerjaan
1 unit produk
Na = jumlah
actual work station atau pekerja
Cd = waktu
siklus yang disyaratkan
Waktu menganggur dari lini pengerjaan di peroleh melalui operasi : 1 –
E, dimana E = derajat efisiensi.
Misalkan : Sebuah usaha rumah tangga mengelola usaha konveksi antara
lain memproduksi kemeja laki-laki dewasa. Kegiatan yang ada, urutan, dan waktu
setiap kegiatan disajikan dalam Tabel 9.6.
Jam kerja efektif per hari 7 jam (8 jam potong waktu istirahat 1 jam).
Manajemen mentargetkan, per hari dihasilkan 42 lembar. Menurut Tabel
9.6,
T = 42 menit
Berdasarkan data itu, Anda diminta untuk menghitung :
a. Cd’Nt, dan Na.
b. Membuat analisis keseimbangan beban tugas menurut waktu terlama.
c. Buat analisis mengenai efesiensi sistem.
Tabel 9.6 Jenis Pekerjaan, Urutan, dan Waktu
Pengerjaan Tugas
|
No.
|
Kegiatan
|
Simbol
|
Pendahulu
|
Waktu (menit)
|
|
1.
|
Meletakkan
kain pada pola
|
A
|
-
|
2
|
|
2.
|
Menggunting
|
B
|
A
|
4
|
|
3.
|
Jahit
lengan dan manset
|
C
|
B
|
5
|
|
4.
|
Jahit
kerah (leher)
|
D
|
B
|
4
|
|
5.
|
Jahit
pinggir badan baju
|
E
|
B
|
4
|
|
6.
|
Menyatukan
komponen
|
F
|
C,D,E
|
6
|
|
7.
|
Membuat
lubang kancing
|
G
|
F
|
4
|
|
8.
|
Pasang
kancing dan setrika
|
H
|
G
|
6
|
|
9.
|
Lipat dan
rapikan
|
I
|
H
|
3
|
|
10.
|
Kemas dan
finishing
|
J
|
I
|
4
|
|
Total
|
42
|
|||
Penyelesaian:
a. Diagram Pelaksanaan kegiatan/Pekerjaan
d.
Efisiensi
alokasi beban adalah
Fasilitas akan
menganggur sekitar 100% - 84% = 16%
Daftar Pustaka
Hari Purnomo, Perncanaan dan Perancangan Fasilitas, (Yogyakarta:
Graha Ilmu, 2004).
Murdifin Haming
dan Mahfud Nurnajamuddin, Manajemen
Produksi Modern Operasi Manufaktur dan Jasa Buku 1(Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2007).
Pontas M.
Pardede, Manajemen Operasi dan Produksi : Teori, Model dan Kebijakan, (Yogyakarta
: Andi Offset, 2005).
T. Hani
Handoko, Dasar-Dasar Manajemen Produksi
dan Operasi Edisi 1, (Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta 1984).
[1] Hari Purnomo, Perncanaan
dan Perancangan Fasilitas, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004), hal. 117-120
[2] T. Hani
Handoko, Dasar-Dasar Manajemen Produksi
dan Operasi Edisi 1, (Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta 1984), hal. 102-103.
[3] T. Hani
Handoko, Ibid., hal. 104-105.
[4] Pontas M.
Pardede, Manajemen Operasi dan Produksi : Teori, Model dan Kebijakan, (Yogyakarta
: Andi Offset, 2005), hal. 165-170.
[5] Murdifin
Haming dan Mahfud Nurnajamuddin, Manajemen
Produksi Modern Operasi Manufaktur dan Jasa Buku 1, (Jakarta: PT Bumi
Aksara, 2007), hal.306-307.
[6] T. Hani
Handoko, Op.Cit, hal. 111-118.
[7] Murdifin
Haming dan Mahfud Nurnajamuddin, Op.Cit,
hal.307-311.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar